Trending

Ganjar Pranowo singkirkan Puan Maharani, mirip kasusnya Jokowi

Elektabilitas Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo kian melejit saja. Politikus PDIP itu malah terus unggul dari Puan Maharani, putri Megawati Soekarnoputri dari berbagai survei. Keunggulan ini artinya Ganjar Pranowo singkirkan Puan Maharani.

Pengamat politik Tony Rosyid menilai melejitnya elektabilitas Ganjar di atas Puan buah dari kerja keras Ganjar memoles citra dan kinerja, sehingga tak heran popularitas mantan anggota DPR itu unggul.

Baca juga: Podcastnya selalu ramai, segini penghasilan Deddy Corbuzier dari Youtube

Baca Lainnya

  • Popularitas Ganjar yang tinggi di berbagai survei, kata Tony Rosyid, bukan tak mungkin membuat Ganjar masuk dalam bursa capres PDIP untuk Pilpres 2024. Meski Puan digadang-gadang jadi berlaga di Pilpres 2024, tapi kalo popularitasnya masih buncit ya PDIP pikir-pikir.

    Ganjar mirip Jokowi

    Jokowi dan Ganjar Pranowo
    Jokowi dan Ganjar Pranowo dalam sebuah kunjungan kerja di Kota Semarang. Foto Instagram @ganjarpranowo

    Tony Rosyid menilai popularitas Ganjar dan peluang berlaga di Pilpres 2024 ini mirip dengan apa yang sudah dilalui Jokowi.

    “Ketika popularitas Jokowi tinggi, maka terjadi gelombang dukungan dari kader PDIP untuk capreskan mantan walikota Solo ini. Megawati terdesak, dan akhirnya tersingkir. 2014, Megawati pun digantikan Jokowi untuk menjadi capres,” tulis Tony dalam keterangannya dikutip Hops, Senin 26 Oktober 2020.

    Apakah Puan Maharani akan tersingkir juga oleh Ganjar? Tak menutup kemungkinan, kata Tony.

    Jika Puan tak serius menyiapkan tim untuk branding dirinya, maka besar kemungkinan juga akan tersingkir. Seperti ibunya. Apalagi lihat kerja serius Ganjar yang sangat sistematis.

    “Apabila ini terjadi, maka trah Soekarno mungkin memang ditakdirkan sementara untuk urus partai. Sedangkan capres menjadi ladang untuk kader yang lain,” katanya.

    Ganjar Pranowo singkirkan Puan

    Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo
    Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo dalam acara Mata Najwa. Foto Instagram @ganjarpranowo

    Popularitas Ganjar selalu unggul atas Paun. Lihat saja data survei. Data survei Februari lalu, Indobarometer merilis elektabilitas Ganjar 11,8 persen. Ganjar mengungguli Puan Maharani dengan angka elektabilitas tak lebih dari 1 persen. Sementara survei Median, Ganjar 9,6 persen dan Puan tetap di angka 1 persen.

    Survei terbaru pada oktober, Indikator merilis elektabilitas Ganjar naik lagi jadi 18,7 persen. Tertinggi untuk saat ini. Jika dibandingkan Puan, tentu sangat jauh.

    “Ganjar dengan kerja keras, serius dan sistematisnya, berhasil membonsai elektabilitas Puan Maharani. Ganjar lebih pandai memanfaatkan panggungnya sebagai gubernur Jawa Tengah dibanding Puan Maharani di DPR. Juga Budi Gunawan di BIN,” tulis Tony.

    Ganjar curi start

    Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo
    Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Foto Instagram @ganjar_pranowo

    Tony mengatakan, elektabilitas Ganjar yang cukup tinggi dan terus naik bisa dipahami mengingat belum ada kepala daerah atau tokoh lain yang secara serius melakukan branding dan kerja-kerja politik untuk persiapan 2024.

    Ganjar saat ini, dengan keseriusan dan kehebatan timnya, sedang main sendiri tanpa lawan.

    Kenapa Ganjar terkesan curi star? Melakukan branding dari sekarang? Bukankah pilpres 2024 masih jauh? Empat tahun lagi.

    Menurut analisis Tony, karena Ganjar harus menjebol dua tembok besar. Tembok pertama bernama PDIP.

    Tony mengatakan, Untuk dapat tiket PDIP, Ganjar harus kerja keras dan memastikan elektabilitasnya jauh di atas calon yang lain. Khususnya Puan Maharani dan Budi Gunawan yang saat ini menjadi calon potensial dari PDIP.

    Tembok kedua bernama e-KTP. Ganjar harus berhasil mengalahkan isu e-KTP yang sempat dikait-kaitkan dengan nama dirinya. Dengan elektabilitas yang tinggi, isu e-KTP diharapkan akan diabaikan.

    “Ini alasan masuk akal jika Ganjar untuk saat ini berusaha melawan dua tembok besar itu. Mumpung belum ada lawan. Sebagai pemain tunggal, tim Ganjar bisa terus menaikkan elektabilitasnya,” ujar Tony.

    Apalagi kalau mau bermain mata dengan lembaga survei, ini akan lebih mendongkrak elektabilitas. Sebab masyarakat pun nggak bisa klasifikasi jika menyangkut hasil survei, Kecuali ada hasil survei yang lain.

    Sebab, kata Tony, dalam sejumlah survei, selain angka ilmiah, kerapkali ada angka konspirasi. Bergantung siapa yang memesan. Tetap saja, semuanya dikembalikan kepada persepsi publik.

    loading...
    Topik

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Back to top button
    Close