Fit

Gatot Brajamusti stroke, narkoba picu hipertensi dan gula darah memburuk

Gatot Brajamusti Ketua Perhimpunan Artis Film Indonesia (PARFI) meninggal dunia akibat sakit stroke pada Minggu 8 November 2020) dalam usia 58 tahun.

Aa Gatot Brajamusti meninggal dunia ketika masih menjalani hukuman penjara akibat kasus penggunaan narkoba yang ditangkap pada 2016 silam. Dalam penangkapannya, diketahui bahwa Gatot memakai narkoba sudah bertahun-tahun lamanya.

Baca juga: Reza Artamevia ditangkap, dulu merasa ditipu Aa Gatot soal aspat alias sabu

Lewat keterangan pihak kepolisian kepada awak media disebutka bahwa Gatot memiliki kondisi penyakit degeratif yang cukup lama.

Dilansir laman detik.com, Gatot diketahui mengeluhkan sakit hipertensi dan gula darah tinggi.

“Yang bersangkutan dirujuk ke RS Pengayoman Jakarta hari ini dengan keluhan hipertensi dan gula darah tinggi,” kata Kabag Humas dan Protokol Ditjen PAS Rika Apriyanti, Minggu 8 November 2020.

Seelum meninggal, Rika juga menyebutkan bahwa gatot juga memiliki riwayat stroke. “Saat dirujuk, anak dan kuasa hukum/ pengacara yang bersangkutan ada bersamanya,” ujarnya.

Terlalu banyak konsumsi narkoba bisa picu stroke?

Berkaca dari apa yang dialami Gatot, penggunaan zat-zat terlarang seperti narkoba dipercaya ternyata bisa memperparah kondisi kesehatan seseorang, terlebih jika memiliki faktor risiko stroke.

Menurut Kementerian Kesehatan, hipertensi yang diikuti dengan diabetes dan kolesterol tinggi merupakan kondisi yang paling sering meningkatkan risiko terjadinya stroke di Indonesia.

Ilustrasi obat
Ilustrasi obat. Foto: Pexels

Dilansir laman Suara, stroke adalah kondisi yang terjadi ketika pasokan darah ke otak terganggu atau berkurang akibat penyumbatan (stroke iskemik) atau pecahnya pembuluh darah (stroke hemoragik). Tanpa darah, otak tidak akan mendapatkan asupan oksigen dan nutrisi, sehingga sel-sel pada sebagian area otak akan mati.

Baca juga: Sering tremor bisa jadi gejala stroke, mitos atau fakta?

Ketika sebagian area otak mati, bagian tubuh yang dikendalikan oleh area otak yang rusak tidak dapat berfungsi dengan baik. Stroke juga menjadi penyebab paling umum dari gangguan serebrovaskular.

Penyakit serebrovaskular berkontribusi pada morbiditas dan kecacatan yang terkait dengan penggunaan obat-obatan terlarang. Penyalahgunaan narkoba memiliki peningkatan risiko stroke hemoragik dan iskemik.

Gatot Brajamusti
Gatot Brajamusti foto: Solopos

Jenis narkoba yang lebih sering dikaitkan dengan stroke adalah stimulan psikomotorik, seperti amfetamin dan kokain dan yang lebih jarang terlibat adalah opioid dan obat-obatan psikotomimetik, termasuk ganja.

Skrining toksikologi untuk obat-obatan terlarang harus dilakukan pada pasien muda dengan stroke tanpa penyebab yang jelas, atau jika disarankan oleh riwayat atau pemeriksaan.

Meskipun pada beberapa pasien mekanisme stroke diidentifikasi dengan menggunakan neuroimaging dan alat diagnostik modern lainnya, dalam sebagian kecil kasus mekanisme stroke masih belum jelas.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close