Trending

Gatot sindir Soekarno: Patungnya di mana-mana, tapi Pak Harto tak ada, ironi!

Eks Panglima Jenderal (purn) Gatot Nurmantyo mengaku terusik rasa kebangsaannya sebagai purnawirawan TNI usai lenyapnya diorama tiga tokoh bangsa di G30S. Ketiganya, kata Gatot, adalah patung Soeharto; Sarwo Edhie; dan AH Nasution.

Padahal, kata dia, ketiga diorama itu penting untuk diperlihatkan kepada para prajurit TNI. Agar mereka tahu tentang siapa panglima ‘ngeri’ nya ketika itu, dan seperti apa Kostrad bergerak dalam tiap pertempuran. Mereka adalah pasukan di garda paling depan.

Muslima Fest

“Ini yang mengusik rasa kebangsaan saya, Sarwo Edhi saya juga prajurit komando, Pak Harto saya juga mantan Pangkostrad, Pak Nasution saya juga mantan KASAD,” katanya di channel Youtube Karni Ilyas, dikutip Kamis, 30 September 2021.

Menurut dia, ketiga patung itu tetap perlu ada di museum Kostrad sebagai contoh panutan para prajurit tentang perjuangan, cara berpikir, perencanaan yang efisien yang dilakukan oleh ketiga tokoh tersebut.

Eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo. Foto: Ist.
Eks Panglima TNI Gatot Nurmantyo saat berbincang di Youtube Karni Ilyas. Foto: Capture.

Gatot sindir patung Soeharto

Dalam kesempatan itu, dia lantas menyinggung banyaknya patung Soekarno di seluruh penjuru Tanah Air. Bukan cuma patung, namun namanya juga banyak dipakai di jalan-jalan, sampai pada bangunan seperti Stadion.

Hal berbeda, kata Gatot, justru tak ditemukan pada Soeharto. “Di mana-mana patung Bung Karno ada, nama jalan ada. Sementara Soeharto yang juga ada jasanya untuk negara ini tak ada patungnya. Ada satu (diorama di Kostrad) itupun musnah. Ini ironi,” kata dia.

Soekarno dan Soeharto. Foto: Istimewa
Soekarno dan Soeharto. Foto: Istimewa

Maka itu, dia berharap ke depan para putra-putri bangsa bisa saling menghormati para mantan presidennya. Sehingga dunia dapat melihat Indonesia sebagai negara besar yang mencintai para pemimpinnya, walau apapun kesalahannya.

“Mari kita angkat sama-sama, Bung Karno bapak proklamasi, Pak Harto bapak pembangunan, Bu Mega wanita pertama di RI yang jadi presiden, Pak Jokowi presiden infrastruktur, dan sebagainya. Kita angkat sama-sama, ditokohkan dalam situasi yang sama dan itulah Indonesia,” katanya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close