Trending

Mabes Polri diserang teroris, petinggi GP Ansor: Patut diduga, ini bukan yang terakhir

Publik dibuat geger usai Mabes Polri diserang oleh seseorang yang diduga adalah teroris pada Rabu (31/3) petang. Terkait hal ini, Ketua Bidang Politik & Pemerintahan PP GP Ansor, Luqman Hakim pun buka suara.

Seperti diketahui, serangan teroris yang terjadi di Mabes Polri ini hanya selang beberapa hari saja dari bom di depan Gereja Katedral Makassar. Luqman pun mengajak untuk waspada terhadap kemungkinan adanya serangan berikutnya. Ia juga menduga bisa jadi serangan teroris di Mabes Polri ini bukan yang terakhir.

Mabes Polri diserang teroris. Dalam 4 hari, ini serangan kedua setelah bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar (Minggu, 28/03/21). Semua pihak harus waspada dan antisipasi kemungkinan serangan teroris berikutnya dalam waktu dekat. Patut diduga, ini bukan yang terakhir,” tulis Luqman Hakim melalui Twitter, dikutip Kamis, 1 April 2021.

Politisi PKB itu kemudian mengatakan bahwa meski belakangan tim Densus 88 sudah berhasil menangkapi puluhan terduga teroris, namun bukan tidak mungkin masih ada jaringan teroris yang berkeliaran di luar sana.

Meski beberapa waktu terakhir puluhan terduga teroris sudah ditangkap Densus 88, sangat mungkin masih ada jaringan teroris yang bebas berkeliaran, menyiapkan serangan-serangan berikutnya. Pemanfaatan teknologi informasi oleh teroris, membuat persebaran mereka kian sulit dideteksi,” katanya.

Politisi PKB, Luqman Hakim. Foto: Antara
Politisi PKB, Luqman Hakim. Foto: Antara

Berikutnya, Luqman menyinggung perkembangan sel teroris di Tanah Air saat ini bertemu dengan situasi yang tepat, baik itu dari persoalan ekonomi maupun politik. Ini kemudian yang menjadi pemantik para teroris itu melakukan aksinya.

Perkembangan sel-sel teroris di Tanah Air (apapun afiliasi internasionalnya; ISIS ataupun Alqaida) saat ini bertemu momentum yang menyuburkan. Beberapa situasi dalam negeri dan luar negeri (ekonomi&politik) menjadi triger jaringan teroris melakukan aksi2nya.”

Namun demikian, Luqman mengaku tidak bisa menyebut detail situasi apa persisnya yang jadi pemantik teroris melakukan aksinya itu. Yang paling penting adalah, kata Luqman, waspada.

Karena masih banyak teroris yang bisa melakukan aksinya sewaktu-waktu. Ia juga menyebut bahwa tindakan pencegahan tak kalah penting dibanding penindakan terorisme.

Saya tidak bisa detail menyebut situasi apa yang saat ini menjadi triger. Terpenting, kita harus waspada, masih banyak jaringan teroris (terorganisir dan individual) yang setiap saat mampu lakukan aksi-aksi teroris. Perlu langkah komprehensif, tidak hanya penindakan, tapi pencegahannya,” sambung Luqman Hakim.

Belum telat bagi pemerintah menyusun langkah komprehensif, terutama untuk mencegah, mendeteksi dini, dan penyadaran kepada orang/kelompok yang terpapar ideologi ekstrem sebelum mereka lakukan aksi terorisme. Perang total melawan terorisme harus menjadi prioritas pemerintah,” tegasnya lagi.

Peran pemerintah untuk atasi terorisme

Tak cuma mengajak waspada, Luqman Hakim juga meminta koordinasi yang baik antar kementerian dan lembaga untuk mengatasi terorisme.

Ia mengambil contoh program moderasi beragama dari Kemenag. Menurutnya, itu harus digalakkan hingga ke pelosok-pelosok negeri, dengan melibatkan partisipasi masyarakat secara luas.

Sekurang-kurangnya Kemenag, TNI, Polri, NU, dan Muhammadiyah, dan sebagainya harus bekerja sama untuk perang lawan terorisme. Mulai dari edukasi hingga penindakan. Penanganan terorisme tidak boleh hanya bersifat ‘musiman’,” tulis Luqman.

Luqman juga meminta Kominfo terlibat agar media sosial tidak leluasa dimanfaatkan para teroris. “Medsos sudah sejak beberapa waktu digunakan kelompok-kelompok teroris untuk merekrut, melatih, dan memberi penugasan-penugasan anggota; tugas cari dana, maping, dan serangan teror,” jelasnya lagi.

Mantan teroris beberkan ternyata cuma butuh 2 jam untuk merekrut teroris baru. Foto: usnews
Anggota ISIS. Foto: usnews

Lebih jauh, petinggi GP Ansor itu juga menyebut bahwa Kemendagri memiliki otoritas untuk mengkondisikan pemerintahan-pemerintahan daerah, agar memastikan RT dan RW menjadi bagian dari penjaga teritori di lingkungan masing-masing dari potensi aktivitas terorisme.

Kerjasama penyuluh agama (Kemenag), Babinsa (TNI), Bhabinkamtibmas (Polisi), kader-kader ormas Islam moderat (NU+Muhammadiyah, dll), RT/RW (Kemendagri), akan efektif mencegah, deteksi dini, mendidik ulang dan mengamankan setiap lingkungan RT/RW, juga menjadi support intelejen negara,” imbuhnya.

Di akhir tulisannya, Luqman Hakim meminta masyarakat untuk percaya bahwa negara mampu menjaga keamanan warganya. Ia juga meminta agar masyarakat tak panik dengan adanya serangan teror, karena takut dan panik justru yang menjadi tujuan para teroris itu.

Bagi masyarakat, percayalah negara kita mampu menjaga keamanan. Jangan takut apalagi panik. Target serangan teroris adalah menciptakan ketakutan, panik dan saling curiga sesama warga. Tetaplah beraktifitas seperti biasa, tentu sambil waspada dan peduli dengan situasi lingkungan,” pungkas Luqman Hakim.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close