Fit

Gunakan vaksin, China targetkan 100 juta kematian penduduk RI, benarkah?

Seiring dengan kabar diluncurkannya vaksin sinovac pada awal 2021, banyak beredar informasi kontroversi yang simpang siur mengenai vaksin besutan China tersebut.

Baru-baru ini sebuah unggahan menyebutkan bahwa China telah menargetkan 100 juta penduduk Indonesia tewas dengan vaksin dari Negara Tirai Bambu tersebut.

Baca juga: Viral vaksin COVID-19 dapat merusak DNA seseorang, benarkah?

Unggahan tersebut sontak menjadi viral dan ramai di media sosial. Narasi bernada hasut itu diunggah oleh akun Facebook Solid Lawan Covid, pada Oktober 2020.

Bukan hanya di Facebook, narasi berisi target kematian 100 juta warga Indonesia oleh China itu juga tersebar pula lewat pesan berantai aplikasi WhatsApp.

Hoax vaksin China
Hoax vaksin China foto: Antara news

“Hati hati vaksin bisa mwmbunuh jiwa. Cina mentargetkan 100 jt penduduk indonesia mati melalui vaksin cina. Jangan ada yg mao divaksin. Biar cina bangkrut ini bisnis WHO. Yahudi nasoroh cina. Yg jadi tujuan umat islam. Kita wajib waspada. Negara di Rezim jokowi jadi amburadul. Lengserkan jokowi pemimpin keblingeerrrr,” demikian isi narasi yang beredar di whatsapp.

Namun, benarkah China menargetkan 100 juta penduduk Indonesia tewas dengan vaksin?

Dilansir laman ANTARAnews pada 5 November 2020 menyebut bahwa ungkapan tersebut adalah hoax atau berita bohong.

loading...

Hingga Rabu 4 Oktober 2020, tidak ditemukan satu pun pernyataan resmi yang dimuat media arus utama ataupun sumber resmi lain, terkait target kematian 100 juta warga Indonesia oleh China melalui produksi mereka.

Dengan demikian, unggahan terkait itu dapat dipastikan adalah hoax.

Ilustrasi vaksin COVID-19. Foto: Dimitri Houtteman
Ilustrasi vaksin COVID-19. Foto: Dimitri Houtteman

Mengacu laman covid19.go.id, penanganan COVID-19 di Indonesia yang dilakukan pemerintah tidak hanya mengandalkan satu sumber vaksin, selain Sinovac dari China, pemerintah Indonesia juga menjajaki kerja sama dengan perusahaan farmasi lain seperti Pfizer, Johnson and Johnson, Astra Zeneca, dan Cansino Biologics, serta beberapa perusahaan farmasi lain.

Khusus Sinovac, telah memasuki uji klinis fase tiga. Bukan hanya di Indonesia, uji klinis Sinovac juga dilakukan di Turki maupun Brazil, sebagaimana dituliskan ANTARA dalam berita berjudul “Tak ada hal mengkhawatirkan uji klinis fase 3.”

Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin COVID-19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Prof Kusnandi Rusmil Sp AK MM mengatakan tidak ada hal-hal yang mengkhawatirkan dari uji klinis fase tiga Sinovac hingga saat ini.

“Kalau sudah lulus tahap tiga, bisa digunakan dan diperjualbelikan,” kata Kusnandi.

Baca juga: Skenario vaksin tak halal, Maruf Amin: Insya Allah bukan jalan darurat

Menurut dia, para relawan yang telah mengikuti imunisasi Sinovac akan terus dipantau hingga enam bulan ke depan.

Kusnandi juga menuturkan dari sekian banyak imunisasi yang dilakukan di Indonesia, kemungkinan terjadi reaksi yang berat seperti pingsan habis diimunisasi sangat kecil, di mana kejadiannya adalah 0,1 sampai satu kejadian dari sejuta orang yang diimunisasi.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close