Sains

Letusan dahsyat Gunung Tambora dipicu Matahari lockdown bisa terulang?

Fenomena Matahari lockdown atau solar minimum saat ini sedang berlangsung. Dipaparkan oleh badan antariksa Amerika Serikat (NASA), hal itu terjadi ketika titik-titik matahari yang memancarkan gelombang magnetik, sinar-X dan radiasi ultraviolet menghilang.

Beberapa abad lalu, fenomena Matahari lockdown memicu kejadian Dalton Minimum pada tahun 1790 dan 1830. Akibatnya terjadi kiamat kecil yang disebabkan oleh cuaca beku, gempa bumi, letusan gunung berapi, gagal panen hingga kelaparan.

Baca juga: Matahari lockdown disebut picu kiamat kecil, LAPAN merespons

Indonesia tak luput dari dampaknya. Pada 10 April 1815, terjadi erupsi gunung berapi terdahsyat selama 2000 tahun. Gunung Tambora di Indonesia meletus dan menewaskan setidaknya 71 ribu jiwa.

Akankah terjadi lagi?                   

Fenomena Matahari lockdown dan letusan Gunung Tambora di awal abad ke-19 menyebabkan perubahan iklim signifikan di Bumi dan memicu kelaparan di belahan Bumi utara.

Ilustrasi Matahari. Foto: NASA/Suara.com

Meski begitu, peneliti Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) Rhorom Priyatikanto mengatakan fenomena tersebut saat ini tidak berdampak signifikan dan tidak menyebabkan bencana.

“Dampaknya terhadap bumi itu bisa dikatakan minim sekali. Tidak sampai menghasilkan pemanasan global atau sampai pendinginan global,” ujar Rhorom, dikutip dari Suara.com, Rabu, 20 Mei 2020.

Pernyataan itu senada dengan analisis para peneliti iklim dari NASA. Bahwa solar minimum saat ini tidak memiliki efek signifikan terhadap suhu atau cuaca di Bumi.

Terjadi secara periodik

Rhorom menjelaskan bahwa fenomena matahari lockdown bersifat periodik, fase minimum matahari yang terjadi sekitar 11 tahunan. Hal ini tidak berkaitan dengan aktivitas vulkanik atau menyebabkan gunung meletus.

Yang terjadi pada fase minimum matahari adalah hilangnya bintik matahari. Dengan kata lain, saat ini, matahari berada dalam kondisi tenang.

Ilustrasi matahari
Ilustrasi matahari. Foto: Gerd Altmann dari Pixabay

Kenampakan bintik matahari merupakan salah satu indikator yang paling utama terkait aktivitas matahari. Semakin banyak bintik matahari, maka aktivitas matahari semakin tinggi. Sehingga berpotensi terjadi badai matahari, dan ledakan-ledakan kecil di permukaan matahari.

“Sementara pada saat ini matahari itu berada dalam fase minimum artinya matahari dalam kondisi tenang hampir tidak ada bintik matahari yang teramati dalam beberapa hari,”ujar Rhorom.

Ketika Gunung Tambora erupsi

Ada saatnya Matahari mengalami kondisi yang ekstrem atau luar biasa tenang. Itu pernah terjadi pada peristiwa Maunder Minimum di awal abad ke-17 dan Dalton Minimum di awal abad ke-19.

Pada saat itu, selama beberapa siklus sekitar 30 tahun matahari cenderung lebih tenang dibandingkan rata-rata. Akibatnya, suhu global mengalami penurunan 1-2 derajat Celcius.

Pada peristiwa Dalton Minimum pada 1815, kondisi iklim diperparah dengan letusan Gunung Tambora di Pulau Sumbawa, Indonesia. Abu dari letusan gunung tersebut mencapai atmosfer sehingga memblokade radiasi matahari ke permukaan bumi.

Ilustrasi letusan gunung berapi
Ilustrasi letusan gunung berapi. Foto: Pixabay

Kejadian itu berefek pada pendinginan global yang lebih parah. Bahkan tercatat dalam sejarah tahun 1816 bahwa tidak ada musim panas di beberapa daerah di Eropa.

Peristiwa fase matahari dengan kondisi luar biasa tenang itu juga menyebabkan terjadinya gagal panen, krisis pangan dan berimbas pada resesi ekonomi saat itu.

Sedangkan pada saat ini, Rhorom menuturkan meskipun matahari berada dalam fase minimum tapi matahari bukan pada kondisi yang ekstrem tenang sekali sehingga tidak bisa memicu penurunan suhu global. Jadi tidak perlu kekhawatiran akan ada bencana seperti gagal panen dan tidak ada musim panas.

“Fase minimum matahari itu kira-kira kalau dalam catatan setahun atau dua tahun itu adalah fase minimumnya,” tuturnya.

Ilustrasi matahari

Bintik Matahari mulai muncul

Pada 2018, fase minimum matahari terjadi selama sekitar 250-an hari dengan kondisi tanpa bintik matahari. Pada 2019, fase minimum terjadi hampir 280 hari tanpa bintik matahari.

Pada saat sekarang, bintik matahari sudah mulai muncul sehingga bisa dikatakan tidak berada di titik bawah di fase minimum karena sudah mulai beranjak naik.

“Tahun 2020 itu memang beberapa hari tidak ada bintik matahari tapi mulai muncul bintik matahari selang-seling jadi secara statistik dalam catatan kita sedang terus bertambah,” tuturnya.

Meski saat ini tidak berada di titik terbawah fase minimum Matahari, tapi peneliti masih menyatakan masa sekarang sebagai masa fase minimum matahari, tambahnya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close