Trending

Gus Nur: NU ibarat bus, sopirnya mabuk, berpenumpang liberal dan PKI

Pendakwah Sugi Nur Raharja alias Gus Nur kembali melontarkan pernyataan kontroversi terhadap organisasi islam terbesar di Indonesia, Nahdatul Ulama (NU).

Dalam perbincangan di kanal YouTube milik ahli hukum tata negara, Refly Harun, awalnya Gus Nur mengatakan bahwa dirinya adalah seorang Nahdiyin namun bukan secara struktural, melainkan sebagai NU tradisional.

Baca juga: Buat yang nganggur, ada lowongan urus jenazah Covid, gajinya lumayan

Gus Nur pun membeberkan sejumlah kenyataan yang membuktikan bahwa saat ini NU telah berubah. Sebelumnya, ketika dia berkunjung ke berbagai daerah, Barisan Ansor Serbaguna (Banser) NU selalu mengawal acara dakwahnya. Saat itu pula hubungan NU dengan dirinya baik-baik saja, tanpa ada masalah apa pun, namun semua berubah ketika rezim Jokowi lahir.

“Saya juga enggak paham, saya juga dulu enggak pernah ada apa-apa sebelum ada rezim ini. Kemana saya dakwah dikawal Banser, saya adem anyem sama NU, tidak pernah ada masalah,” ujar Gus Nur, pada 17 Oktober 2020.

Gus Nur
Sugi Nur Raharja atau Gus Nur. Foto Instagram @gusnur13official

Menurutnya, rezim Jokowi telah membuat NU berubah 180 derajat. Gus Nur pun mengibaratkan wajah NU saat ini seperti bis umum, di mana sopirnya merupakan seseorang yang sedang mabuk, kondekturnya teler, dan penumpangnya tak memiliki adab alias kurang ajar. Sehingga dalam pandangannya, kini NU tak sesuci dahulu kala.

“Tapi setelah rezim ini lahir, tiba-tiba 180 derajat (NU), berubah. Saya ibaratkan NU sekarang itu, seperti bis umum, sopirnya mabuk, kondekturnya teler, keneknya dan sopirnya ugal-ugalan dan penumpangnya itu kurang ajar semua. Merokok juga, nyanyi juga, buka-buka aurat, dangdutan juga. Jadi kesucian NU yang selama ini saya kenal itu seakan-akan enggak ada sekarang ini.” kata Gus Nur.

Logo Nahdlatul Ulama (NU)
Logo Nahdlatul Ulama (NU) Foto: Dream

Lebih lanjut, sekarang ia memilih untuk tak terlibat langsung dengan organisasi NU. Keputusan itu ia ambil lantaran menilai, NU telah disusupi oleh paham liberal dan komunis.

“Bisa jadi keneknya Abu Janda, kondekturnya Gus Yaqut itu, dan sopirnya KH Aqil Siroj. Nah, penumpangnya liberal, sekuler, macem-macem di situ, numplek (berkumpul) di situ. Ngerokok, minum semua campur di situ. Pusing ya, akhirnya saya turun dari bis itu. Ah saya turun ah, pusing di sini,” tutur Gus Nur.

Sementara itu, Gus Nur juga mengungkapkan alasan mengapa dia kerap berbeda pandangan dengan sejumlah kiyai NU. Secara tiba-tiba, kata Gus Nur, hatinya bergejolak usai melihat sejumlah kiyai yang ia hormati sudah tak netral dan berada di genggaman kekuasaan pemerintah.

“Dan tiba-tiba saya berontak. ada kiyai- kiyai yang selama ini saya hormati, tiba-tiba keluar masuk Istana, keluar masuk ranah kekuasaan, sudah main duit, main money politik, di situ saya berontak. Nah pertanyaannya kenapa berontak? ndak tahu lah saya, maka tiba-tiba jadilah saya seperti ini. Dituduh memusuhi NU, menyerang NU, dilaporkan NU, dilaporkan NU, disidang gara-gara NU.” imbuhnya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close