Trending

Gus Sahal ajak umat Islam ramai-ramai kecam Habib Rizieq

Pengurus Cabang Istimewa NU Indonesia Amerika Serikat, Akhmad Sahal atau disapa Gus Sahal, menyoroti ceramah Habib Rizieq yang dianggap menebar ancaman sadis.

Dalam ceramahnya, tokoh sentral FPI itu menyatakan bakal menjadikan Indonesia seperti Prancis kalau ada pihak penghina Islam, penghina Nabi dan ulama tidak diproses.

Baca juga: Analisa tajam Rocky soal Anies: Sebut Mahfud di belakang semua ini

Menurut Gus Sahal, ini bukan pertama kalinya Habib Rizieq menebar ancaman sadis. Sebelum dia bertolak ke Arab Saudi, kata Sahal, dia juga pernah menyatakann mendukung ISIS. Baginya, ISIS adalah saudaranya FPI.

“Rizieq bilang, kalau pemerintah zalim, maka ISIS perlu ada di Indonesia. Ini jelas hasutan yang bengis, yang harus segera ditindak tegas,” kata dia disitat di saluran Cokro TV, Kamis malam, 19 November 2020.

Maka itu, dia berharap, jika memang pemerintahan Jokowi serius punya komitmen memberantas radikalisme dan terorisme, sekaranglah saatnya untuk membuktikannya.

“Saya setuju dengan profesor Jimly Ashiddiqie, yang meminta agar aparat penegak hukum untuk bergerak menindak Rizieq karena kasus ini,” katanya lagi.

Habib Rizieq Syihab menyapa massa pendukung di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta
Habib Rizieq Syihab menyapa massa pendukung di Terminal 2 Bandara Soekarno Hatta. Foto Antara/Muhammad Iqbal

Sebab jika dibiarkan, provokasinya dianggap bisa meluas dan melebar. Apalagi mengatasnamakan dakwah, yang harusnya memberikan wejangan yang baik.

“Seruan penggal kepala sangat berbahaya kalau didiamkan, sebab pengikutnya yang fanatik dikhawatirkan merasa punya lisensi untuk melakukan hal buruk pada orang yang berseberangan dengan Islam,” katanya.

Gus Sahal singgung dilema tindak Habib Rizieq

Menurut Gus Sahal, jika didiamkan, maka kemudian yang muncul adalah kesan bahwa Islam membenarkan kekejian, dengan dalih membela nabi dan ulama. Ini tentu dinilainya sebagai paham Islam ekstrem, dan ditakutkan akan berkembang menjadi mainstream dan dianggap wajar.

Sementara Islam yang moderat menjadi tersingkir dan terbenam. Di sinilah langkah Pemerintah untuk menindak penghasut kekerasan dianggap sangat penting.

“Saat ini kesannya Pemerintah berpikir seribu kali untuk menindak Habib Rizieq, khawatir mereka akan membesar,” kata Gus Sahal.

“Kalau sudah begitu, mereka jadi punya alasan untuk bikin perlawanan massif kepada pemerintah. Mereka akan harap ada martir untuk melawan Pemerintah. Di sisi lain, kalau tidak dikerasi, kesannya Pemerintah tanpa wibawa, engak punya marwah, lembek, dan takut dengan kelompok Rizieq.”

Mobil serba putih Habib Rizieq
Mobil serba putih Habib Rizieq Foto: Ist

Dari kacamata dia, saat ini banyak pendukung Jokowi yang geregetan menganggap Pemerintah takut dan letoy pada Rizieq yang terus melunjak. Sebab, imam besar FPI itu merasa semena-mena lantaran tak diapa-apakan, dia telah merasa di atas hukum, bahkan di atas negara.

“Sudah saatnya pemerintah tidak berlarut-larut atas gamang kondisi ini,” lanjutnya.

Tugas bersama umat Islam

Gus Sahal pada kesempatan itu juga menekankan kalau ini bukan sekadar tugas Pemerintah belaka. Sebab umat Islam juga punya tugas untuk meluruskan ajaran agama. Bukan hanya sekadar wacana, namun dianggap perlu bersama-sama mengutuk wajah Islam yang brutal dengan balutan kekerasan.

“Langkah konkretnya apa? Kampanye publik, katakan tidak terhadap kampanye Islam radikal yang dibawa Rizieq. Saya bayangkan jika umat Islam yang banyak ini di Indonesia ramai-ramai menolak hasutan ala Rizieq tadi, itu keren banget,” kata dia.

Menurut Gus Sahal, mengecam hasutan Habib Rizieq bukanlah sikap anti-Islam. Bukan pula anti-habib.

“Tapi anti terhadap sosok yang menebar kebencian atas nama Islam,” ucap dia.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close