Trending

Kenapa Habib Rizieq bikin Jokowi seperti hilang wibawa? Ini analisa Denny

Ada anggapan kalau Pemerintah Jokowi seolah memberi ruang kepada Imam Besar FPI Habib Rizieq. Sebut saja mulai dari membuat kerumunan besar di berbagai momen, padahal saat ini masih dalam masa pandemi.

Terkait hal ini, Pegiat Media Sosial Denny Zulfikar Siregar angkat suara. Kata dia, memang ada yang menyebut seolah dengan Rizieq, Jokowi seperti kehilangan wibawa. Benarkah?

Baca juga: Gegara Habib Rizieq, 2 Kapolda dicopot dan Anies dipanggil polisi, FPI: Zalim!

Menurut dia, bukan berarti Jokowi gentar. Namun jelas seorang Habib Rizieq bukan level dari Presiden Jokowi.

“Jokowi enggak mau dijadikan alat panjat sosial oleh Rizieq supaya dirinya menjadi lebih besar. Rizieq, biar urusannya gubernur saja, untuk sekaligus memperlihatkan pada masyarakat bagaimana seorang kepala daerah menghadapi situasi di wilayahnya,” kata Denny disitat Cokro TV, Selasa 17 September 2020.

Apalagi saat ini era otonomi daerah, di mana diperlukan kepiawaian seorang kepala daerah terhadap wilayah yang dipimpinnya.

Anies Baswedan bersama Habib Rizieq. Foto: Harian Pijar
Anies Baswedan bersama Habib Rizieq. Foto: Harian Pijar

“Masa dikit-dikit kok presiden yang harus turun. Terus gubernur dan wali kota kerjanya apa?”

Kata Denny, Presiden punya urusan yang jauh lebih besar, yakni bagaimana meningkatkan ekonomi rakyatnya dengan membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya. Termasuk seputar bagaimana mengelola kekayaan alam supaya bisa mesenjahterakan bangsanya.

Urusannya, lanjut dia, sudah ribuan triliun, bukan recehan semisal menghadapi Habib Rizieq, yang dinilai kelihatan besar, namun sebetulnya rapuh di dalam.

Jokowi tak mau bikin Habib Rizieq besar kepala

Denny melanjutkan, urusan Habib Rizieq bukan urusan Presiden Jokowi dan tidak layak untuk diperhatikan.

“Kalau dia dibahas entar malah tambah gede kepala. Dan juga urusan Rizieq cuma ada di Jakarta saja, sementara Indonesia ini kan luas.”

Sebab Indonesia memiliki luas wilayah yang cukup besar. Terdiri dari 34 provinsi dan 514 kabupaten dan kota yang mesti diurus. Artinya bukan sekadar Jakarta saja.

“Dan sebagian besar dari mereka enggak penting dengan Rizieq. Itulah kenapa Presiden Jokowi ingin memindahkan Ibu Kota ke luar pulau, biar Jakarta ini jangan dianggap terlalu penting, sehingga isu daerah selalu menjadi isu nasional,” katanya.

Presiden Jokowi. Foto Presidenri.go.id
Presiden Jokowi. Foto Presidenri.go.id

Kalaupun pemerintah terlihat lemah dalam menghadapi ormas seperti FPI, sebenarnya tidak bisa juga dihakimi dengan seperti itu. Sebab, kata Denny, tegas bukan berarti keras.

Sebab banyak ormas marah ke Jokowi

Denny kemudian melanjutkan analisanya. Menurut dia, ada hal yang membuat banyak ormas utamanya berbau agama marah kepada Presiden Jokowi.

Yang pertama Jokowi rupanya memotong bantuan untuk ormas-ormas. Inilah yang membuat banyak ormas-ormas marah terutama ormas agama, yang selama ini selalu mendapat banyak bantuan dari Pemerintah untuk hidup mereka.

Dan sejak Jokowi memerintah inilah, dirinya terus menerus didemo oleh massa yang besar untuk digulingkan karena dinilai mengecewakan.

“Dan jangan salah kawan, di dalam ormas-ormas agama itu, banyak sekali tokoh politik, juga pengusaha yang selama ini memelihara mereka untuk kepentingan, bahkan juga anggota militer yang tidak sadar kalau mereka dipakai sebagai kendaraan.”

“Dan pada masa pemerintahan Jokowi ini, dia seperti mendapat buah dari benih intoleransi dan radikalisme, yang sudah ditanam sejak lama.”

Padahal, katanya, seandainya saja Jokowi mau kompromi dengan mereka, tentu situasi akan terlihat aman dan baik-baik saja.

Tetapi, jika itu dilakukan, akar negeri ini terus digerus sampai pohon besar bernama NKRI ini kelak akan tumbang. Sebut saja pengaruh HTI yang kian menyebar ke mana-mana untuk merobohkan NKRI menjadi negara khilafah.

“Jadi pada sisi mana Jokowi takut pada ormas? Sebab pada waktu Jokowi pertama memerintah saja, dia sudah berhadapan dengan mafia migas, dan mafia pangan yang selama ini mendapat keuntungan triliunan rupiah setiap bulan.”

“Kalau Jokowi berani berhadapan dengan para mafia elite itu, apakah mungkin dia takut dengan ormas radikal yang hanya segelintir itu?”

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close