Trending

Nasib Nani sate beracun ditentukan hal terpenting ini

Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel menyoroti hal paling penting dari kasus sate beracun sianida. Dia penasaran dengan apa yang ada dipikiran tersangka sate beracun, Nani Apriliani Nurjaman. Pertanyaan paling penting ini menentukan nasib Nani dalam kasus sate beracun sianida lho.

Nani ditetapkan tersangka oleh penyidik Polres Bantul dalam kasus salah sasaran sate beracun sianida. Dampak dari makanan beracun, seora bocah berusia 10 tahun anak driver ojek online akhirnya tewas. Padahal target Nani bukan bocah tersebut.

Nasib Nani sate beracun sianida

Nina Aprilia Nurjaman, tersangka kasus sate beracun sianida
Nani Aprilia Nurjaman, tersangka kasus sate beracun sianida. Foto Antara/Andreas Fitri Atmoko/aww.

Reza mengatakan polisi perlu mendalami hal paling penting dari kasus sate beracun ini, yakni sejauh mana pemahaman Nani pada racun sianida pada sate beracun.

“Apakah pelaku tahu akan habisin atau sebatas buat target menderita. Menang ada sakit hati, ada racun. Tapi tujuannya itu apakah agar meninggal atau buat menderita. Itu pertanyaan paling penting,” jelas Reza dalam siaran tvOne, dikutip Selasa 4 Mei 2021.

Pengetahuan dan maksud Nani mengirim sate racun sianida ini, kata Reza, akan menentukan nasib tersangka ini. Sebab pasal yang dikenakan bisa berubah lho.

“Kalau pelaku nggak tahu seluk beluk racun itu, patut lah digunakan pasal pembunuhan berencana? Kalau sebatas buat target menderita, barangkali digunakan pasal lain. Tapi sejauh ini narasinya tunggal, jelas (kelihatan) pembunuhan berencana,” ujar Reza.

Polisi sejauh ini mengenakan tersangka Nani dengan pasal 340 tentang pembunuhan berencana dan 380 KUHP tentang perampasan nyawa orang lain. Ancaman pasal 340 KUHP, tersangka bisa kena hukuman mati atau ancaman maksimal penjara seumur hidup, atau 20 tahun penjara.

Takaran satu sendok

Ilustrasi racun. Foto: Pixabay
Ilustrasi racun. Foto: Pixabay

Kasus kiriman sate beracun yang menewaskan bocah berinisial N yang berusia 10 tahun masih didalami pihak kepolisian.

Setelah terduga pelaku bernama Nani Apriliani Nurjaman (25), Polisi menduga ada pelaku lain di balik sate bercun yang memberikan ide Nani untuk mencampur satu sendok sianida ke dalam bumbu sate.

Pelaku lain yang dimaksud pihak polisi ternyata masih dirahasiakan. Ada bocoran, pelakukanya merupakan rekan Nani berinisial R.

Kasat Reskrim Polres Bantul, AKP Ngadi mengatakan berdasarkan pengakuan Nani, R yang menyarankan agar mencampur bumbu sate dengan bubuk sianida, demi membalas sakit hati yang dialaminya akibat putus cinta.

Sate tersebut ditujukan untuk seseorang bernama Tomy, warga Kasihan, Bantul. Harapannya bukan membunuh, namun mengalami diare.

Tapi Polsi tak mudah percaya dengan pengakuan Nani. Semua pernyataannya akan didalami kebenarannya. Polisi juga mengatakan tak menutup kemungkinan ada pelaku lain dalam kasus ini.

“Pengakuan mbak NA tapi harus kita buktikan dulu,” ujarnya.

Spekualsi Nani diperalat

Nani dihadapkan ke Polisi. Foto: Twitter.
Nani dihadapkan ke Polisi. Foto: Twitter.

Kepolisian akhirnya berhasil mengungkap kasus sate beracun sianida. Polisi telah menangkap dan menetapkan Nani Aprilia Nurjaman sebagai tersangka dalam kasus yang salah sasaran dan menewaskan bocah 10 tahun. Nah ternyata, polisi masih membuka kemungkinan tersangka Nani itu hanya orang yang diperalat lho. Spekulasi sate beracun sianida begitu.

Bukan cuma polisi saja yang menduga kemungkinan tersangka Nina adalah orang yang diperalat dalam kasus sate beracun sianida ini. Pakar psikologi forensik juga berspekulasi Nani bisa jadi dimanfaatkan orang lain yang punya dendam dengan target Tomi.

Reza Indragiri Amriel berspekulasi bisa jadi tersangka Nani adalah orang yang dimanfaatkan alias diperalat orang lain yang aktor sebenarnya dari kasus sate beracun sianida tersebut.

Dasar Reza berspekulasi demikian adalah keterangan minim dari Nina yang disampaikan kepada kepolisian. Apalagi Nani kini sadar salah sasaran menewaskan bocah 10 tahun, bukan target Tomi yang pernah punya hubungan dekat dengannya.

Reza bertanya-tanya spekulatif, apakah Nani ini niatnya sungguh menghabisi atau cuma menganiaya target saja. Apakah Nani ini adalah orang yang membubuhkan racun, sejak awal punya ide racun atau dia hanya satu dari dua pihak yang ingin habisi Tomi.

“Ada kemungkinan Nani diperalat orang lain yang juga mau habisi Tomi. Bahwa (Nani) ada persoalan pribadi ke Tomi itu iya, karena kemungkinan perasaan negatif Nani dimanfatkan orang lain, entah karena keluguan atau kekurangpahaman Nani ini sehingga diperalat sedemikian rupa sehingga Nani yang tampak bertanggung jawab,” ujar Reza soal spekulasi sate beracun dikutip dari siaran tvOne, Senin malam 3 Mei 2021.

Reza mengatakan dia beralasan kok menyampaikan spekulasi ini. Sebab sejauh ini tersangka Nani tampak shock dengan korbannya anak-anak. Belum lagi soal pengalaman pendidikan tersangka Nani.

“Sampai detik ini (polisi) belum banyak menggali, karena dia shock. Nani ini pendidikan rendah, dia tak bekerja di bidang yang menuntut banyak baca, perluas wawasan dan cara habisi orang dengan racun. Saya tak berpikir dia tak punya layar belakang yang mengharuskan untuk belajar. Apakah dia satu-satunya orang, atau orang yang diperalat sebagai eksekutor di lapangan,” jelasnya.

Direskrimum Polda DIY, Kombespol Burhan Rudi Satria juga sepakat dengan spekulasi yang disampaikan Reza Indragiri.

Kombes Burhan mengatakan penggalian keterangan dari tersangka Nani sejauh ini mengalami kendala, yang bersangkutan masih belum bercerita detai soal sate beracun sianida ini. Dia mengatakan dari awal penyidikan, polisi sudah mengarah dan mengembangkan kemungkinan Nani ini diperalat orang lain dengan melihat tingkat pendidikan tersangka.

“Penggalian keterangan masih pajang prosesnya. Belum optimal pendalam keterangan. Saya sepakatdengan Pak Reza, bisa jadi dia belajar dari orang lain atau diajari orang lain. Kami tak berhenti di Nani, kami yakin pasti nanti ada keterangan tambahan kalau Nani sudah stabil,” katanya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close