Trending

Harga rokok naik tahun 2021, ternyata masih murah kok dibanding negara-negara ini

Menteri Keuangan Sri Mulyani resmi menaikkan tarif cukai rokok sebesar rata-rata 12,5 persen dan berlaku pada bulan Februari tahun 2021. Ini artinya, harga rokok juga akan naik seiring dengan naiknya tarif cukai tersebut.

Ia juga menjelaskan kebijakan ini sebagai salah satu langkah untuk mengendalikan konsumsi produk hasil tembakau karena dalam RPJMN, preferensi merokok khususnya usia 10-18 tahun ditargetkan turun 8,7 persen pada 2024.

Disitat Antara, rincian kenaikan ini yaitu rokok Sigaret Putih Mesin (SPM) golongan I naik 18,4 persen. Kemudian SPM golongan IIA naik sebesar 16,5 persen dan SPM golongan IIB naik 18,1 persen.

Menkeu Sri Mulyani. Foto: Antara.
Menkeu Sri Mulyani. Foto: Antara.

Untuk Sigaret Kretek Mesin (SKM) golongan I naik sebesar 16,9 persen. SKM golongan IIA naik 13,8 persen. Kemudian, SKM golongan IIB naik sebesar 15,4 persen.

Sementara, itu Menkeu Sri Mulyani mengatakan, khusus untuk Sigaret Kretek Tangan (SKT) cukainya tidak berubah alias tidak mengalami kenaikan.

Harga rokok jadi berapa?

Mengutip Detik Finance, pada 11 Desember 2020, diketahui kenaikan tarif cukai akan membuat harga rokokk SKM naik dari Rp 455-740/batang menjadi Rp 525-865/batang. Demikian juga dengan rokok SPM naik dari Rp 470-790/batang menjadi Rp 555-935/batang. Sedangkan, golongan rokok SKT harganya tidak berubah tetap di kisaran Rp 110-425/batang.

Dengan kenaikan cukai ini, nantinya harga rokok per bungkusnya di Indonesia pun akan turut melambung harganya. Ambil contoh rokok Gudang Garam. Rokok SKM ini, jika mengikuti angka di atas, maka akan mengalami kenaikan harga mencapai antara Rp2.065-2.125/batang atau menjadi Rp33.040-34.000 per bungkusnya di mana berisi 16 batang.

Ilustrasi rokok. Foto: Pixabay
Ilustrasi rokok. Foto: Pixabay

Contoh lain yakni Marlboro Merah, menurut simulasi dari Detik Finance, rokok SPM ini, jika mengikuti tarif kenaikan cukai di atas, nantinya harga bisa mencapai antara Rp1.580-1.645/batang atau menjadi Rp31.600-32.900 per bungkusnya di mana berisi 20 batang.

Tapi perlu digarisbawahi bahwa harga tersebut adalah masih simulasi berdasarkan presentase kenaikan cukai dan belum harga resmi dari produsen.

Ternyata masih murah

Meskipun harga itu masih simulasi, tapi sekiranya terlintas gambaran berapa harga rokok di Indonesia nantinya pada tahun 2021. Namun, jika benar nanti harganya setinggi itu, ternyata harga rokok di Indonesia masih lebih murah lho dibanding dengan negara-negara berikut ini.

Melansir Statista, saat ini negara yang menjual rokok dengan harga paling mahal adalah Australia. Berdasar data terakhir yang dirilis Statista pada Oktober 2020 ini, perokok di Australia harus merogoh kocek hingga USD25 untuk satu bungkus rokok Marlboro isi 20 batang atau sekitar Rp352 ribu (kurs 11 Desember 2020).

Paru-paru perokok berat
Ilustrasi rokok. Foto: Pixabay

Di bawah Australia, ada negara tetangganya yang juga tidak ramah perokok dalam urusan harga, yakni Selandia baru. Negeri Kiwi itu memiliki harga yang hampir sama mahalnya dengan Australia, yakni USD21 untuk satu bungkus dengan merek yang sama. Angka ini jika dirupiahkan berkisar Rp296 ribu.

Negara termahal ketiga dalam peringkat tersebut adalah Irlandia, di mana paket yang sama harganya hampir setara dengan USD16 atau sekitar Rp225 ribu, menurut Numbeo.

Peringkat keempat ditempati United Kingdom dengan harga rokok Marlboro per bungkusnya USD14,25 atau sekira Rp201 ribu. Kemudian di belakangnya membuntuti Norwegia dengan harga USD13,53 atau sekitar Rp190 ribu.

Menurut data Statista, peringkat keenam hingga sepuluh negara dengan harga rokok termahal yakni Perancis dengan USD11,78 (sekitar Rp166 ribu), Singapura dengan USD10,47 (sekitar Rp147 ribu), Amerika Serikat USD8 (sekitar Rp112 ribu), Jerman USD7,65 (sekitar Rp107 ribu) dan Spanyol dengan harga USD5,89 (sekitar Rp83 ribu).

Daftar negara dengan harga rokok paling mahal. Foto: Statista

Seperti yang sudah disebut salah satu alasan Sri Mulyani menaikkan cukai rokok adalah untuk mengendalikan konsumsi rokok.

“Kenaikan cukai hasil tembakau (CHT) akan menyebabkan rokok menjadi lebih mahal atau affordability index naik dari tadinya 12,2 persen menjadi antara 13,7 persen hingga 14 persen, sehingga makin tidak terbeli,” kata dia dilansir dari Antara.

Menarik untuk dinanti jadi berapa harga rokok di Indonesia tahun 2021 mendatang. Dan, apakah dengan makin mahalnya harga rokok di tahun depan, perokok akan perlahan berhenti mengisap rokok atau tetap akan mengusahakan membeli rokok.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close