Trending

Heboh nakes nistakan agama usai mandiin jenazah, ternyata 3 bulan…

Narasi kriminalisasi petugas tenaga kesehatan di Pematang Siantar sedang menjadi perhatian nasional. Musababnya empat tenaga medis jadi tersangka penistaan agama selepas mereka memandikan jenazah pasien Covid-19 yang bukan muhrimnya. Hebohlah nakes nistakan agama gara-gara memandikan jenazah pasien Covid-19.

Keempat tenaga mesdis, yang semuanya pria, jadi tersangka setelah MUI Pematang Siantar mengatakan tindakan keempat petugas itu menyalahi syariat agama. Memandikan jenazah yang bukan muhrimnya.

Awal mula kasus nakes nistakan agama

Penangan tenaga medis dengan APD. Foto: Taiwannews
Penangan tenaga medis dengan APD. Foto: Taiwannews

Jadi menurut petisi daring Change.org, kasus keempat petugas medis itu bermula saat penanganan jenazah Zakiah (50), pasien suspek Covid-19 yang meninggal dunia pada Minggu 20 September 2020 di RSUD Djasamen Saragih.

Baca Lainnya

  • Jenazah wanita asal Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun, itu dimandikan empat orang petugas forensik RSUD Djasamen Saragih. Mereka berjenis kelamin laki-laki, dua di antaranya berstatus sebagai perawat.

    Sang Suami melaporkan kasus itu ke polisi dengan tuduhan penistaan agama. Padahal sebelumnya dia menyatakan setuju dengan proses itu. Klausul penistaan agama itu muncul karena fatwa dari pengurus MUI Pematangsiantar. Sekarang kasus ini sudah masuk proses persidangan, nakes kena nistakan agama.

    Tiga bulan…

    Advokasi PPNI Sumut untuk 4 tenaga medis di Siantar
    Advokasi PPNI Sumut untuk 4 tenaga medis di Siantar. Foto ppnisumut.com

    Nah ada beberapa fakta lho yang terungkap dari kasus ini. Ternyata asosiasi tenaga kesehatan nggak tinggal diam dengan kriminaliasi empat tenaga medis.

    Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Pematang Siantar sudah mengupayakan mediasi dengan suami almarhum selama berbulan-bulan. Namun sayangnya mediasi itu gagal.

    “Dalam 3 bulan ini, Ketua DPW, DPD dan DPK dan pengurus PPNI di siantar sudah melakukan upaya mediasi dengan mengedepankan kearifan lokal serta menjalin silaturrahmi ke berbagai pihak, melakukan dialog serta mencari solusi dan petunjuk agar delik aduan kepada 2 orang anggota PPNI dan 2 orang mitra mereka yang bertugas di Ruang Forensik RSUD Djasamen Saragih Siantar, namun belum membuahkan hasil sehingga proses hukum berlanjut,” jelas rilis PPNI Sumatera Utara dikutip Selasa 23 Februari 2021.

    PPNI Siantar mengaku sejak mendengar ada pelaporan atas petugas medis itu, seluruh jajaran PPNI di berbagai level bersama tim bantuan hukum PPNI turun langsung ke Siantar untuk menginvestigasi dan mendalami masalah hukum tersebut. Kuasa hukum PPNI telah menerima pula surat kuasa untuk mendampingi mereka berempat saat diperiksa sebagai tersangka di Polres Siantar.

    Lantaran mediasi tidak bisa mencapai titik tem dan konsekuensinya proses hukum berlanjut, maka jaringan PPNI menggelar solidaritas dukungan moral kepada keempat tenaga medis tersebut.

    Komentar Denny Siregar soal nakes nistakan agama

    Denny Siregar
    Denny Siregar. Foto Instagram @dennysirregar

    Nah salah satu inisiator petisi tolak kriminalisasi petugas medis, Denny Siregar pun berkicau heran bukan kepalang soal tudingan keempat petugas medis meninstakan agama.

    “Sampai sekarang gua gak paham masalah 4 orang nakes yang dijadikan tersangka karena memandikan jenazah wanita yang kena covid 19. Kenapa pasal yang digunakan pasal penistaan agama? Apa pasal itu begitu karetnya, sampe bisa dipake dalam situasi apa saja??” jelas Denny.

    Makanya Denny mengadukan hal ini ke Menkopolhukam, Mahfud MD supaya si menteri turun tangan tuh atas kasus ini yang dinilai janggal, kok bisa urusan memandikan jenazah lawan jenis dituding menistakan agama.

    Aturan mandikan jenazah Covid-19

    Ilustrasi petugas pemulasaraan jenazah COVID-19. Foto: Antara
    Ilustrasi petugas pemulasaraan jenazah COVID-19. Foto: Antara

    Narasi empat tenaga medis menistakan agama berdasarkan dari keterangan ahli MUI Pematang Siantar.

    Nah berkaitan dengan hal ini, aslinya MUI Pusat sudah mengeluarkan pedoman dan fatwa pengurusan jenazah pasien Covid-19 lho Sobat Hopers.

    Dalam ketentuan untuk bab memandikan jenazah, memang ada keharusan agar yang memandikan adalah yang muhrim dan sejenis. Namun ada poin, dalam hal darurat, jenazah bisa dimandikan lawan jenis dengan sejumlah syarat ketat.

    Malaha ada ketentuan, jenazah pasien COvid-19 nggak perlu dimandikan jika memenuhi syarat kedaruratan dari pakar kesehatan.

    Berikut ketentuan memandikan jenazah pasien Covid-19 sesuai Fatwa MUI nomor 18 tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah:

    Pedoman memandikan jenazah yang terpapar COVID-19
    dilakukan sebagai berikut:
    a. Jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya

    b. Petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah
    yang dimandikan dan dikafani;

    c. Jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis
    kelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada,
    dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian.
    Jika tidak, maka ditayamumkan

    d. Petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum
    memandikan;

    e. Petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan
    air secara merata ke seluruh tubuh;

    f. Jika atas pertimbangan ahli yang terpercaya bahwa jenazah
    tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan
    tayamum sesuai ketentuan syariah, yaitu dengan cara:
    1) Mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal
    sampai pergelangan) dengan debu. 2) Untuk kepentingan perlindungan diri pada saat mengusap, petugas tetap menggunakan APD.

    g. Jika menurut pendapat ahli yang terpercaya bahwa
    memandikan atau menayamumkan tidak mungkin
    dilakukan karena membahayakan petugas, maka
    berdasarkan ketentuan dlarurat syar’iyyah, jenazah tidak
    dimandikan atau ditayamumkan

    loading...
    Topik

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Back to top button
    Close