Kasus penembakan masih kerap terjadi, Menlu China pertanyakan penerapan HAM di AS

- Kamis, 19 Mei 2022 | 19:44 WIB
Bendera China dan Amerika Serikat. Foto: NIICE Nepal
Bendera China dan Amerika Serikat. Foto: NIICE Nepal

Hops.ID - Dalam laporan Departemen Kehakiman AS pada 17 Mei 2022 lalu, tercatat bahwa dari tahun 2000 hingga 2020, produksi senjata di Amerika Serikat meningkat dari 3,9 juta menjadi 11,3 juta.

Angka tersebut melonjak hampir tiga kali lipat, bahkan senjata komersial diproduksi lebih banyak lagi di AS, yakni 139 juta.

Menanggapi hal ini, juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Zhao Lijian mengatakan bahwa data dalam laporan AS mengejutkan, serta mengingatkan pada kasus penembakan yang sering terjadi di Amerika Serikat.

Baca Juga: Penderitaan Rusia semakin dalam, kini alami serangkaian kekalahan militer, ekonomi, dan diplomatik

“Seperti yang ditunjukkan oleh laporan Pusat Hukum Giffords untuk mencegah kekerasan senjata, hampir setiap orang Amerika mengetahui, setidaknya satu korban kekerasan senjata dalam hidup mereka,” kata Zhao Lijian, dilansir Hops.ID dari laman Xinhua, Kamis 19 Mei 2022.

Lebih lanjut, dirinya mengatakan, penembakan yang kejam itu nyaris terjadi di kehidupan sehari-hari, dan menjadi mimpi buruk seluruh orang Amerika, bahkan dari semua lapisan masyarakat, dan dari segala usia.

Zhao Lijian juga mengatakan bahwa kekerasan senjata bukan hanya penyakit kronis bagi Amerika Serikat sendiri, tetapi juga "pandemi" yang dibawanya ke negara-negara tetangga.

Baca Juga: Erdogan keberatan Swedia-Finlandia gabung NATO, ini alasannya

Kekerasan senjata telah menghancurkan Amerika Latin dan Karibia lebih dari yang diderita Amerika Serikat sendiri. Menurut laporan media Amerika Latin, 98 persen senjata api ilegal di Haiti dan Bahama berasal dari Amerika Serikat, dan 50 persen dari Amerika Tengah.

Data pada tahun 2020 menunjukkan bahwa, 70% senjata yang ditemukan di dalam berbagai aktivitas kriminal di Meksiko berasal dari Amerika Serikat.

Halaman:

Editor: Septian Farhan Nurhuda

Sumber: Xinhua

Tags

Artikel Terkait

Terkini