Trending

Ikuti jejak China, taktik Jokowi bangun ibu kota baru mulai terbongkar

Sejak beberapa waktu terakhir Presiden Jokowi nampak ngotot untuk membangun ibu kota baru di Kalimantan Timur. Sejumlah pertimbangan mencuat. Dan hal yang paling menarik dari itu, adalah taktik Jokowi mewujudkan itu semua.

Jika melihat dengan seksama, dari sinilah publik sebenarnya bisa melihat bahwa model bisnis di Indonesia sejak era Jokowi sudah berubah. Sebab ini berbeda dengan model pemerintahan terdahulu sebelumnya yang sedikit-dikit justru lebih mengandalkan APBN.

Terkait hal ini, pegiat media sosial Denny Siregar mengurai seperti apa taktik Jokowi demi membangun ibu kota baru. Seperti apa?

Menurutnya, sebenarnya konsep yang dia pakai adalah sederhana. Tetapi, tidak banyak pemimpin negara yang melaukannya karena memang tak mudah melaksanakannya. Di mana di dalam pelaksanaan, ada nilai yang sangat tinggi yang dipegang oleh para investor, yakni kepercayaan.

“Kepercayaan inilah yang susah didapat. Karena investor juga bukan orang bodoh. Mereka pintar membaca karakter pemimpin. Kalau seorang pemimpin itu punya potensi korup, ya mereka juga malas untuk membiayai proyek yang disediakan,” kata Denny disitat Cokro TV, Kamis, 25 November 2021.

Jokowi dipercaya asing

Denny juga bilang, Jokowi sejauh ini memiliki karakter pemimpin yang bisa dipercaya oleh investor terutama pihak asing. Selain cerdas, dia juga dianggap kuat dalam mengendalikan pemerintah.

Rencana ibu kota baru. Foto: Bappenas.
Rencana ibu kota baru. Foto: Bappenas.

Ini tentu penting agar program-program yang berjalan bisa dieksekusi dengan baik dan uang para investor ini dapat aman. Sebagai contoh, seperti kasus pembangunan jalan tol, beberapa ruas jalan tol yang dibangun tanpa campur tangan Jokowi pasti masih mangkrak. Padahal tol-tol itu sudah diresmikan sejak lama pada era Soeharto.

Dan untuk mencari investor agar jalan tol mangkrak itu bisa dibangun, tentu tak mudah. Karena perlu kepercayaan yang luar biasa. Sampai akhirnya Jokowi mengambil langkah out of the box, yaitu memerintahkan BUMN untuk mengambil alih konsesi tol yang mangkrak itu.

Dari sana, konsesi tol kemudian dijual ke investor. Di mana, investor mendapat bisnis konsesi dari keuntungan 40 tahun lamanya. Dan sejak itu, tol akan kembali ke tangan Indonesia.

“Menarik kan, model bisnisnya. Begitu juga dengan model pembangunan ibu kota baru di Kalimantan Timur, Jokowi tidak mau menguras APBN untuk pembangunan ibu kota baru yang dihitung-itung nilainya bisa mencapai Rp500 triliun,” katanya.

Jika berpikir untuk utang lagi, tentu sangat besar, dan khawatir akan sulit untuk mengembalikannya. Maka itu, kata Denny, akhirnya dipakailah beberapa macam cara dan salah satunya adalah kerjasama antara pemerintah dan swasta.

Di mana pemerintah membuat umpan dahulu dengan mengelurkan uang sekira Rp90 triliun lewat APBN untuk pembangunan. Soal mengapa penting sekali bagi pemerintah untuk membangun lebih dahulu, itu lebih kepada untuk kepercayaan itu tadi.

“Dengan pemerintah mengeluarkan uang untuk membangun ibu kota baru, maka bentuk fisik ibu kota baru mulai terlihat. Dan fisik pembangunan itu penting, supaya investor percaya dan merasa aman untuk menaruh duitnya di sana,” katanya.

Jokowi tiru China bangun ibu kota baru

Adapun sebagian besar dari uang Rp9 triliun itu dikatakan Denny untuk membeli tanah yang luasnya sekira 40 ribu hektare. Dan nantinya dari 40 ribu hektare itu akan dikembangkan lagi menjadi 180 ribu hektare.

Nah tanah kosong yang sertifikatnya sudah dipunyai oleh pemerintah kemudian ditawarkan kepada swasta untuk membangun gedung di sana. Soal dari mana swasta mendapat keuntungan? Yakni dengan sistem Build Operate Transfer (BOT).

Di mana, Pemerintah yang punya tanah, investor yang membangun gedung di atasnya. Nantinya ketika sesudah gedung terbangun, pemerintah yang akan menyewa ke investor selama kira-kira 20 tahun agar mereka mendapat untung. Baru setelah itu dikembalikan lagi ke pemerintah.

Desain ibu kota baru di Kalimantan. Foto: Kementerian PUPR.
Desain ibu kota baru di Kalimantan. Foto: Kementerian PUPR.

Investor juga akan mendapat keuntungan lagi dengan cara membangun perumahan di sekitar ibu kota baru untuk kebutuhan sekira 4,5 juta orang. Yang akan diperikakan akan menempati ibu kota baru, yakni mulai dari PNS, TNI, Polri, dan seluruh keluarga mereka.

Caranya yakni bisa memakai pola pertama. Pemerintah punya tanahnya, investor yang bangun rumahnya, dan nanti juga pemerintah yang sewa rumahnya.

Nanti ketika sesudah 20 tahun, semua bangunan tadi akan dikembalikan ke pemerintah.

“Jokowi juga pintar, dia mendekati otang yang punya uang untuk memuluskan konsepnya itu. Maka terjadilah pertemanan yang akrab antara Jokowi dengan Mohammed bin Zayed. putra mahkota dari UEA,” katanya.

Persahabatan ini sangat akrab sehingga masing-masing dari mereka akhirnya memberi nama jalan di negara itu dengan nama sahabatnya untuk mengukir persahabatan tersebut. Dan sebagai sahabat, Mohammad bin Zayed tentun ingin membantu sahabatnya Jokowi, dan dia berkomitmen untuk ikut investasi dalam pembangunan ibu kota baru.

“Kalau cuma Rp500 triliun sih gampang. Muhammad bin Zayed sih kalau digabungkan harta mereka ribuan triliun,” katanya lagi.

Model-model bisnis yang dilakukan Jokowi mungkin barang baru di Indonesia. Tapi di luar itu sudah lama dilakukan. China bisa berkembang begitu cepat karena menggunakan model seperti ini. Dan Jokowi ingin mengikutinya.

“Yang dijual tentu bukan sertifikat tanahnya, tetapi bisnis di atas tanahnya. Sertifikat tanah tetap milik kita, sehingga enggak ada lagi tuh istilah kita dijajah secara ekonomi oleh bangsa asing,” kata Denny soal sikap Jokowi dan ibu kota baru.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close