Trending

Kok bahasa Arab ciri teroris, imam besar New York: Memalukan, cara anak jalanan!

Imam besar di New York, Shamsi Ali turut protes dengan pernyataan pengamat intelijen perempuan Indonesia, Susaningtyas Kertopati yang mengatakan salah satu ciri radikal dan teroris adalah menggunakan bahasa Arab. Sang imam merasa pernyataan itu sangat memalukan dan kelasnya anak jalanan.

Sang imam ngaku nggak habis pikir kenapa bahasa Arab sebagai salah satu parameter radikal dan teroris. Imam masjid di New York Amerika Serikat, Shamsi Ali bertanya-tanya, apa iya ciri radikal teroris itu cuma dilihat dari hapalan soal nama pejabat di Indonesia dan penggunaan bahasa Arab.

Imam New York malu

Respons ini muncul buntut dari pernyataan pengamat intelijen Susaningtyas Nefo Kertopati dalam webinar yang menyebutkan ciri radikal dan teroris adalah tidak hapal nama parpol, tak pasang foto presiden dan wakil presiden, tak mau hapalkan nama-nama menteri dan menggunakan bahasa Arab.

Pengamat Intelijen SusaningTyas
Pengamat intelijen Susaningtyas Kertopati Foto: Inews

“Saya malu dengan cara pandang seorang yang disebut ‚Äúpengamat. Tapi cara melihat masalah tak lebih dari anak jalanan. Sempit, pendek, tidak bermutu bahkan memalukan,” kicau Shamsi Ali di akun media sosialnya, dikutip Kamis 9 September 2021.

Imam New York ini pun bertanya-tanya benarkah indikator radikalisme ukurannya itu adalah foto dan hapalan nama-nama tersebut di atas.

Setelah pernyataan ini menjadi ramai dan diprotes, Susaningtyas mengklarifikasi maksud pernyataannya dalam webinar beberapa waktu lalu. Dia merasa penyatannya disalahartikan dan media mengutipnya tidak lengkap dengan konteksnya.

Susaningtyas sebagai muslim tentunya menjunjung tinggi keyakinan dalam Islam, dia juga ngaku sangat respek dengan bahasa tersebut.

Klarifikasi bahasa Arab

Dia menegaskan, ada perbedaan konteks bahasa Arab sebagai alat komunikasi resmi di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dengan penggunaannya sebagai bahasa sehari-hari dalam pergaulan suatu bangsa yang sudah memiliki bahasa nasional, seperti halnya bahasa kita bahasa Indonesia.

“Dalam hal ini mohon maaf bila ada yang tidak sependapat dengan saya,” kata Nuning dalam klarifikasinya dikutip dari Republika.

Pengamat Intelijen Susaningtyas Kertopati
Pengamat Intelijen Susaningtyas Kertopati Foto: Ist

Pengamata ini juga membantah menuduh Islam sebagai embrio terorisme. Susaningtyas mengatakan temuan memang menunjukkan embrio terorisme itu tumbuhnya diawali dari dunia pendidikan kok, namun dia tidak mengatakan terorisme itu muncul dari lembaga pendidikan muslim.

Sebab masih ada kok lembaga pendidikan Islam yang menjalankan aturan perundangan yang berlaku di Indonesia.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close