Hobi

Luhut: Indonesia siap produksi komponen penting kendaraan listrik

Trend mobil listrik membuat Indonesia akan menjadi negara yang siap memproduksi komponen penting yang dibutuhkan kendaraan listrik.

Kesiapan Indonesia memproduksi komponen penting bagi kendaraan listrik seperti baterai Litium diungkap Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan akan mulai dilakukan 4 tahun kedepan.

Baca juga: Toyota Alphard tabrak sepeda, endingnya bikin sedih pemilik mobil

Rencana produksi yang diungkap Luhut dalam Sarasehan 100 Ekonom secara virtual di Jakarta seperti dilansir Hops dari Antara, tipe baterai pertama yang akan diproduksi merupakan model dari baterai terbaru yakni tipe 811.

Baterai lithium mobil listrik. Foto: Dok Tesla.
Baterai lithium kendaraan listrik. Foto: Dok Tesla.

Indonesia sendiri telah melakukan penandatanganan kerja sama investasi pengembangan baterai litium dengan LG Chem dan CATL peruahaan Korea Selatan dan China yang memproduksi kendaraan listrik.


“Kami sudah tanda tangan (pengembangan) lithium battery dengan LG Chem dan CATL. Itu proposalnya sudah dibuat. Di samping itu skala project, timeline, sudah ada, investasi, insentif, semua sudah kita siapin. Kita berharap tahun 2024 kita sudah produksi lithium battery tipe terakhir yaitu 811,” katanya.

Produksi baterai kendaraan listrik ini akan menjadi daya tawar bagi Indonesia yang menjadi hulu dan pemerintah akan mendorong hilirisasi dengan gencar untuk mendorong pengembangan industry baterai listrik.

Dengan demikian, Indonesia jauh lebih maju, mengingat sebelumnya Indonesia selalu melakukan ekspor material mentah meski bahan bakunya sangat melimpah di bumi nusantara.

Menko Kemaritiman dan Investasi. Luhut Pandjaitan
Menko Kemaritiman dan Investasi. Luhut Pandjaitan. Foto Instagram @luhut.pandjaitan

Langkah yang tengah dilakukan melalui fasilitas smelter yang dibangun, menjadikan bahan baku akan diolah di Indonesia dan memiliki nilai tambah lebih tinggi.


“Ini salah satu smelter tembaga, berpuluh tahun, hampir 50 tahun, semua kita ekspor saja. Maka saya lapor ke Presiden, ‘Pak sekarang kita harus paksa, kita harus bikin smelter di sini.’ Dan sekarang bikin smelter, satu di Gresik, tapi tidak jadi-jadi,” katanya dengan nada tinggi.

Akhirnya, lanjut Luhut, pemerintah mendorong agar bisa dibangun smelter di Halmahera Tengah di mana bahan baku tembaga diambil dari Timika. Menurut dia, karena ada industri terintegrasi di Halmahera Tengah, diharapkan biaya produksinya juga akan lebih rendah.

Ilustrasi baterai mobil listrik
Ilustrasi baterai mobil listrik Foto: Carmagz



“Kalau kita lakukan ini, kita akan dapat lagi nanti kabel tembaga, pipa tembaga, dan satu yang penting, asam sulfat. Ini kita butuhkan untuk bagian baterai litium. Jadi 75-80 persen baterai litium itu akan kita punya di Indonesia,” katanya.

Sebelumnya, Luhut kerap mengungkapkan mimpinya bahwa Indonesia akan menjadi pemain utama untuk bahan baku baterai litium. Pasalnya, Indonesia menyimpan cadangan bahan baku baterai litium yang besar.

Di samping itu, penggunaan kendaraan listrik juga diperkirakan akan terus melejit di masa mendatang menyusul semakin pedulinya masyarakat atas energi yang lebih bersih.

Bagi Indonesia sendiri, mendorong pengembangan kendaraan listrik juga sekaligus akan berdampak pada berkurangnya impor minyak karena berkurangnya kendaraan berbasis energi fosil.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close