Fit

Indonesia ngetop di Aljazair karena Soekarno, sampai dibuatkan patung

Nama tokoh proklamator bangsa Indonesia, Soekarno kembali terdengar di tanah Afrika. Jasanya melawan kolonialisme dan menyuarakan kedamaian di dunia internasional terus mendapat apresiasi hingga kini, terutama di Aljazair.

Di Aljazair, sebuah patung besar setinggi 2,75 meter terpampang gagah di depan kantor Kementerian Pekerjaan Umum, Kota Ben Aknoun, Provinsi Aljir. Bahkan lebih istimewanya lagi, patung tersebut berada di lokasi yang sangat strategis, yakni tak jauh dari rumah Presiden Aljazair, Abdelmadjid Tebboune.

Sejarah kedekatan dua negara sahabat Indonesia dan Aljazair bermula ketika digelarnya Konferensi Asia Afrika tahun 1955 di Bandung. Saat itu, Aljazair sedang memperjuangkan kemerdekaannya dari cengkraman kolonialisme Prancis.

Baca juga: Kisah anggrek tanda mesra Soekarno untuk kakek Kim Jong Un

Tiga politikus pejuang kemerdekaan Aljazair dalam Front Pembebasan Nasional (FLN) yang turut hadir di KAA Bandung, di antaranya Chadli Mekki, Hocine Ait Ahmed, serta Mhamed Yazid. Mereka diundang Bung Karno sebagai salah satu peninjau perjuangan anti kolonialisme di tanah Afrika.

Setelah menghadiri dan mendapat semangat anti penjajahan di KAA Bandung, mereka kembali berkontribusi melakukan serangkaian diplomasi kemerdekaan di negerinya.

Hasilnya, ketika tahun 1958 FLN membentuk pemerintahan sementara Republik Aljazair di Kairo, Mesir, dua anggota yang mengikuti KAA, yakni Hocine Ait Ahmed (Wakil Presiden) dan Mhamed Yazid (Menteri Komunikasi) menduduki posisi penting di pemerintahan.

Patung sosok Bung Karno sedang dikerjakan di Aljir, Aljazair, karya Dolorosa Sinaga. Foto: Facebook/bonnie triyana
Patung sosok Bung Karno sedang dikerjakan di Aljir, Aljazair, karya Dolorosa Sinaga. Foto: Facebook/bonnie triyana

Dilansir dari Tempo, menurut peneliti sejarah KAA, Ahmad Rizky Umar, sejak 1950-an Soekarno secara tegas mendukung pembebasan sejumlah negara dari genggaman penjajahan, salah satu di antaranya Aljazair. Tak hanya mengundang pihak Aljazair dalam KAA di Bandung, Bung Karno juga mendukung kemerdekaan Aljazair pada sidang-sidang majelis umum yang menangani proses dekolonisasi di PBB.

Ketulusan pria berjulukan penyambung lidah rakyat ini pun terus berlanjut, ketika ia memutuskan mendirikan kantor perwakilan FLN di Menteng, Jakarta Pusat. Kantor berbentuk rumah tersebut dijadikan tempat sebagai pusat koordinasi dalam menggalang dukungan politik dari negara-negara lain di Asia Tenggara.

Kemerdekaan yang terus dikerahkan pihak Aljazair berlangsung dalam sidang-sidang PBB mulai dari tahun 1957 hingga 1960, Soekarno tampil sebagai pembela dekolonisasi di Afrika. Seperti halnya yang tejadi saat Komisi 24 PBB membahas nasib perjuangan negara-negara di Afrika, Soekarno menjadi salah satu tokoh yang paling lantang menyerukan gagasan anti kolonialisme.

Oleh sebab itu, Aljazair sangat menghormati sosok Soekarno karena dinilai menjadi salah satu tokoh dari negara lain yang berjasa dalam kemerdekaan Aljazair.

Usul Dubes RI untuk Aljazair

Duta Besar RI untuk Aljazair, Safira Machrusah mengaku pembuatan patung ini dilatarbelakangi pesona Soekarno yang sangat dikenal oleh masyarakat Aljazair.

“Itu yang saya rasakan semenjak menjadi Duta Besar RI untuk Aljazair pada Maret 2016 lalu. Setiap kali hadir di berbagai forum di Aljazair dan pihak manapun yang mendengar nama Indonesia, pasti teringat nama Bung Karno,” jelas Safira kepada Historia.

“Nama Indonesia begitu ngetop di Aljazair karena Bung Karno,” lanjutnya.

Meski jasa Soekarno dan bangsa Indonesia sangat diapresiasi di Aljazair, dirinya mengungkapkan, tak menemukan simbol-simbol tentang kedekatan dua negara sahabat tersebut.

Campur tangan Ridwan Kamil

Pada tahun 2017, melalui Dubes RI untuk Ekuador, Diennaryati Tjokrosuprihatono, komunikasi antara Safira dengan Gurbenur Jawa Barat, Ridwan Kamil yang saat itu masih menjabat sebagai Walkot Bandung mulai terjalin.

“Pada Agustus 2017 saya ditelepon Bu Dini, dubes RI di Quito (Ekuador), dia komunikasi dengan saya dan saya mendapat salam dari Pak Ridwan Kamil yang saat itu ingin menyumbang patung Soekarno di Ekuador. Dia juga berniat memberikan sumbangsih yang sama ke Aljazair,” tuturnya.

Tak lama berselang, Ridwan Kamil mulai menghubungi pematung kondang, Dolorosa Sinaga. Dalam kesempatan itu, pria yang akrab disapa Kang Emil ini meminta agar Dolorosa membuat patung sesuai dengan permintaan Dubes RI untuk Aljazair.

Gurbenur Jawa Barat, Ridwan Kamil bersama patung Soekarno. Foto: Twitter
Gurbenur Jawa Barat, Ridwan Kamil bersama patung Soekarno. Foto: Twitter

Akhirnya, muncul kesepakatan patung yang dibuat Dolorosa itu mencerminkan gestur Soekarno yang sedang berpidato dengan tangan menunjuk ke atas. Patung tersebut dinilai Dolorosa melambangkan jiwa semangat dari sosok Putra Sang Fajar.

Atas karyanya yang tak biasa itu, Dolorosa mengatakan, pihak dubes sangat mengapresiasi patung berbahan dasar logam tersebut.

“Aljazair begitu menerima patung saya, luar biasa senangnya. Karena semua patung mereka (di Aljazair) itu, semuanya dibuat dengan pendekatan klasik realistis, seperti patung dada Romawi atau Yunani. Untuk itu mereka sangat senang karena ada kekayaan yang membangun sebuah nilai yang berbeda di kawasan itu dengan kehadiran (patung) Soekarno,” jelasnya. (CTH)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close