Trending

Ini dia tokoh pemicu pembakaran alquran di Swedia dan Norwegia

Swedia dan Norwegia tengah memanas, usai demo anti muslim digelar di sana. Akibat demo tersebut, alquran dibakar di Swedia dan Norwegia.

Bukan cuma itu, kitab suci umat Islam itu dilecehkan, mulai dari dirobek-robek, diludahi, hingga dibakar.

Baca juga: Rocky Gerung kesal usai agamanya disinggung Henry Subiakto, ini responnya

Dalam penelusuran redaksi, persoalan rupanya dipicu dari meningkatnya sentimen anti imigran asal Timur Tengah. Sejumlah pihak anti muslim di Swedia pun kemudian menggelar aksi demo.

Tetapi luapan marah para pendemo pecah usai politisi kontroversial Denmark, Rasmus Paludan, yang hendak datang ke Swedia, dilarang oleh otoritas setempat.

Kerusuhan anti muslim pecah di Swedia dan Norwegia. Foto: Ist.
Kerusuhan anti muslim pecah di Swedia dan Norwegia. Foto: Ist.

Dikutip CNBC, Senin 31 Agustus 2020, Paludan sendiri awalnya berniat ambil bagian dari kegiatan orasi dalam demo anti muslim di Kota Malmo, Swedia Selatan. Namun, pihak berwenang malah melakukan blokir kedatangannya.

Akibatnya, muncul ketegangan dari kubu sayap kanan. Hingga kemudian, disitat AFP, para pendemo melakukan aksi pembakaran dan perobekan alquran di Swedia dan Norwegia.

Menjalar ke Norwegia

Usai aksi demo anti muslim memanas di Swedia, kerusuhan juga terus meluas ke Norwegia. Sama seperti di Swedia, di sana, ada kelompok anti muslim yang turut menggelar demo, hingga kemudian melecehkan alquran.

Para pendemo dilaporkan merobek, hingga meludahi alquran. Di sana, ada kelompok yang kemudian menjadi marah atas aksi mereka, hingga akhirnya timbul bentrokan antara kedua belah pihak.

Polisi sejauh ini sudah turun tangan, dan menangkapi puluhan orang.

Siapa Paludan?

Kembali pada sosok Paludan, dia sendiri tercatat pernah melakukan pembakaran alquran di Denmark. Dalam rekam jejaknya, dia rupanya adalah pemimpin partai Stram Kurs yang ia dirikan pada 2017.

Ilustrasi Alquran
Ilustrasi Alquran. Foto Pixabay/TayebMEHZADIA

Sayang, tak jelas berapa kader partai yang dimiliki, tetapi yang pasti mereka pernah coba ikut proses Pemilu di Denmark pada 2019 silam. Ketika itu, mereka dinyatakan hanya mendapat sedikit dukungan suara.

Pada 2019, partai Paludan kemudian mengubah nama menjadi Hard Lines (garis keras) karena terjebak kasus penyalahguaan suara pada pemilu.

Paludan sendiri awalnya berprofesi sebagai pengacara. Tetapi, dia dilarang bekerja sebagai advokat selama tiga tahun dan dibekukan SIM-nya selama satu tahun, usai kasus pernyataan rasisnya.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close