Trending

Ini identitas 4 kelompok perancang kudeta Jokowi yang diungkap Boni Hargens

Direktur Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) Boni Hargens mengaku telah mengantongi nama-nama sejumlah tokoh yang berusaha merancang kudeta Presiden Jokowi. Setidaknya, kata Boni, ada empat kelompok yang bermain dalam gerakan ini.

Di mana, kelompok-kelompok yang merancang kudeta Jokowi, kata Boni, menggunakan sejumlah isu sebagai materi propaganda politik untuk memprovokasi rakyat. Isu tersebut antara lain berkaitan dengan komunisme dan rasisme Papua.

Baca Juga: Ade Armando ngotot sebut Din Syamsuddin dungu, curigai isu pemakzulan

Untuk kasus rasisme Papua, dianggap jadi momentum yang pas mengingat hal yang sama telah terjadi pada warga kulit hitam di Amerika pasca kematian George Floyd.

Jubir Presiden Fadjroel Rahman (kiri) bersama Presiden Jokowi. Foto: IG Fajroel.
Jubir Presiden Fadjroel Rahman (kiri) bersama Presiden Jokowi. Foto: IG Fajroel.

Selain itu, kata Boni, disitat RMOL, isu berikutnya yang digunakan kelompok-kelompok yang ingin kudeta Jokowi adalah berkaitan dengan potensi krisis ekonomi sebagai dampak pandemi covid-19 belakangan ini.

“Kelompok ini juga membongkar kembali diskursus soal Pancasila sebagai ideologi negara,” kata Boni, disitat Hops, Jumat 5 Juni 2020.

Boni menegaskan, isu yang mereka gunakan itu adalah instrumen dalam melancarkan serangan politik untuk melemahkan legitimasi pemerintah. Bukan cuma itu saja, kelompok ini, kata dia, tak semata-mata cuma jadi bagian dari barisan sakit hati belaka.

Apa yang sedang mereka rancang bukan dalam konteks dendam politik, melainkan sebagai upaya untuk mengacaukan negara sekaligus memburu rente.

Ini 4 kelompok yang mau kudeta Jokowi

Boni Hargens kemudian mengungkap identitas kelompok-kelompok yang ingin meng-kudeta Presiden Jokowi. Para perancang kudeta ini adalah gabungan dari kelompok politik yang ingin memenangkan pemilihan presiden 2024, kelompok bisnis hitam yang menderita kerugian karena kebijakan yang benar selama pemerintahan Jokowi, dan ormas keagamaan terlarang seperti HTI yang ingin mendirikan negara syariah.

Kemudian, ada juga keterlibatan barisan oportunis yang haus kekuasaan dan uang. Karena itulah, Boni mengatakan, lebih senang menyebut mereka sebagai “laskar pengacau negara” yang ingin merusak tatanan demokrasi dan berusaha menjatuhkan pemerintahan sah hasil pemilu demokratis.

Termasuk berusaha ingin mempertanyakan kembali Pancasila sebagai ideologi negara. “Ada intensi untuk menuduh Pancasila sebagai bukan ideologi.”

Presiden Jokowi
Presiden Jokowi di istana Bogor, Jawa Barat. Foto Instagram @jubir_presidenri

Dia juga mengatakan, ada bandar di balik gerakan kelompok pengacau ini, mulai dari bandar menengah sampai bandar papan atas.

“Bandar menengah misalnya oknum pengusaha pom bensin dan perkebunan asal Bengkulu, dan bandar papan atas ya tak perlu saya sebutkan di sini,” katanya lagi.

Din Syamsuddin dan Reffly Harun disebut

Bukan cuma sekadar kelompok, Boni bahkan menyebut nama dua orang yang diduga turut masuk dalam kelompok-kelompok tersebut. Keduanya adalah tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin, dan Pakar Hukum Tata Negara Reffly Harun.

Kata Boni, dia sangat menyayangkan sikap dua orang tersebut yang kini disebut terlibat dalam gerakan ini.

“Beliau (Din Syamsuddin) panutan umat, tokoh yang didengar banyak orang. Tak bijak jika ikut berkecimpung memperkeruh kolam yang bersih.”

“Negara ini butuh negarawan dari segala lapisan, supaya bisa menjadi bangsa besar. Tokoh agama dan intelektual adalah panutan masyarakat. Maka, harus ada keteladanan moral dalam bertindak dan berbicara di ruang publik,” ujar Boni.

“Jadinya ada kesan tidak baik seolah-olah ada vested interest di balik sikap kritisis beliau terhadap pemerintah.”

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close