Trending

Isu pemerintah pengait FPI dan terorisme, KSP: Tak ada untungnya catut ormas alhmarhum

Belakangan aparat kepolisian dengan tegas menangkap sejumlah terduga teroris yang juga jadi simpatisan organisasi massa terlarang Front Pembela Islam (FPI). Usai penangkapan besar-besaran, muncul isu pemerintah jadi aktor dibalik pihak yang mengaitkan antara FPI dan terorisme.

Menanggapi adanya tudingan tak berlandaskan tersebut, Tenaga Ahli Utama KSP (Kantor Staf Presiden) Rumadi Ahmad dengan tegas membantah. Menurut Rumadi, pihak pemerintah sendiri tidak ada keinginan khusus untuk mengaitkan persoalan radikalisme dan terorisme dengan ormas besutan Habib Rizieq Shihab.

Rumadi menjelaskan, tidak ada niatan pemerintah dengan sengaja mengaitkan FPI dengan terorisme. Penangkapan simpatisan FPI semata-mata karena memang mereka terjaring kelompok teroris.

“Tidak ada keinginan khusus dari pemerintah untuk mengaitkan semua persoalan dengan FPI. Soal terorisme itu semata-mata tindakan terorisme, bisa dideteksi sedini mungkin. Kalau di penggeledahan ada barang bukti seragam FPI, ya, itu fakta yang ditemukan aparat kepolisian jadi itu ranah polisi,” ujar Rumadi, dalam sebuah video yang diunggah saluran YouTube Najwa Shihab, mengutip Suara (jaringan Hops) pada Kamis, 8 April 2021.

Ilustrasi pasukan ISIS. Foto: The Muslim Post
Ilustrasi teroris. Foto: The Muslim Post

Najwa lantas meminta Rumadi untuk menanggapi pernyataan Munarman yang menduga pemerintah mengaitkan FPI dengan tindak Terorisme.

“Bahwa ini ada upaya untuk menggiring opini publik yang tadi disampaikan oleh Bang Munarman, apa tanggapan anda soal itu?” tanya Najwa Shihab.

Rumadi pun kembali mengatakan bahwa tudingan itu tidak benar. Pemerintah secara khusus tidak ingin dengan sengaja menggiring opini atau bahkan memojokkan sejumlah pihak, terutama ormas FPI.

“Menurut saya tidak. Tidak secara khusus bukannya pemerintah sengaja menggiring opini atau ingin memojokkan satu kelompok, saya kira tidak,” kata Rumadi.

“Tetapi yang dilakukan pemerintah adalah memastikan bahwa jaringan terorisme dari manapun asalnya, apakah dia punya isrisan dengan organisasi-organisasi yang sudah almarhum maupun tidak itu diperlakukan sebagai orang yang harus dipersoalkan dari sisi hukum,” sambungnya.

Sejumlah barang bukti yang disita dari terduga teroris di Jakarta Timur dan Bekasi. Foto: Suara
Sejumlah barang bukti yang disita dari terduga teroris di Jakarta Timur dan Bekasi. Foto: Suara

Lebih lanjut, kata dia, dengan mengaitkan ormas yang telah ‘almarhum’ tersebut dengan terorisme tidak ada keuntungan langsung yang bisa didapat pemerintah.

“Saya memastikan bahwa tidak ada tendensi-tendensi untuk mengarahkan ke FPI yang sudah almarhum itu, karena itu juga tidak ada keuntungan langsung, apa sih untungnya pemerintah misalnya mengaitkan persoalan ini dengan FPI toh FPI secara hukum sudah dinyatakan tidak ada lagi,” ungkap Rumadi.

Terkait temuan bukti-bukti dan pernyataan dari beberapa terduga teroris yang mengaku sebagai simpatisan FPI, Rumadi menyebut itu sebagai fakta yang ditemukan di lapangan dan tidak ada tendensi untuk mengaitkan dengan FPI.

“Ya itu memang fakta-fakta yang ditemukan di lapangan jadi tanpa bertendensi untuk mengarah-arahkan atau menggiring opini dan segala macam,” ucapnya.

“Ya memang fakta-fakta itu yang ditemukan di lapangan ya memang harus disampaikan, memang faktanya seperti itu,” pungkasnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close