Trending

Isu PKI selalu muncul, Salim Said ternyata kaitkan dengan PDIP

Pengamat politik Profesor Salim Said angkat bicara seputar tak berhentinya isu PKI di Indonesia. Salim Said kemudian menyinggung PKI dengan sikap PDIP selama ini.

Dalam pemaparannya, Salim Said mengatakan kalau komunisme di dunia sejatinya telah mati. Hal itu dia pastikan lantaran komunis sebagai sebuah organisasi yang berpusat di Uni Sovyet (sekarang Rusia) sudah bubar.

Baca juga: Gatot akhirnya bongkar alasan dicopot dari Panglima TNI, ternyata kasus ini

Sejumlah pengalaman dan pandangan kemudian dia kemukakan. Mulai dari kunjungannya ke Rusia, Chekoslovakia, sampai negeri Tiongkok. Adapun komunis masih bercokol di China, hanya dianggap sebagai ideologi untuk mengendalikan masyarakat belaka.

“Saya adalah orang yang berkobar-kobar seperti biasanya, mengatakan kalau komunis sudah bangkrut. Sudah tidak laku,” kata Salim Said dalam sebuah diskusi di saluran Hersubeno Point, disitat Selasa 22 September 2020.

HUT PKI. Foto: Dok Historia.
HUT PKI. Foto: Dok Historia.

Karena di banyak negara isu komunis sudah dipastikan senyap, Salim Said kemudian mempertanyakan, mengapa justru PKI ramai terus di Indonesia.

Menurut dia, hal ini tak terlepas dari perjuangan sejarah Indonesia. Di mana PKI tidak pernah berkuasa, namun ikut masuk berkuasa karena hadirnya doktrin nasakom yang digelorakan Soekarno. Lantas, seperti apa penjelasannya?

PDIP, PKI, dan tak pernah selesai

Menurut Salim Said, selalu munculnya isu PKI di Nusantara, dikaitkan dengan PDIP. Kok bisa? Ya, sebab PDIP yang digawangi Megawati Soekarnoputri dinilai seolah melanjutkan kebijakan Soekarno dalam hal Nasakom.

Walau tidak diucapkan, dan diumumkan, kata Salim Said, hal itu mudah terbaca dari kaca matanya sebagai peneliti politik.

“Bahwa setelah reformasi, PDIP kesimpulan saya, melanjutkan kebijakan Bung Karno. Nasakom tidak diumumkan, tidak dikatakan, tetapi saya kan peneliti politik saya mempelajari anggaran dasar partai-partai dan sebagainya itu, dan melihat siapa-siapa di dalam PDIP itu.”

Hal lain, adanya pengurus PDIP yang dengan bangganya mengaku sebagai anak PKI. Dia adalah Ribka Tjiptaning. Bahkan dia menyebut kebanggaannya itu dalam sebuah buku. Pembiaran ini, kemudian dianggap Salim Said, sebenarnya bisa menjadi bumerang bagi PDIP.

Sebab, seolah PDIP menganggap PKI tak bermasalah. “Dia (Ribka) tidak pernah ditegur oleh PDIP. Dibiarkan. Kesimpulan orang, PDIP menganggap PKI itu tidak apa-apa. Nasakom itu tidak apa-apa,” katanya lagi.

Massa PDIP lakukan aksi. Foto: Antara.
Massa PDIP lakukan aksi. Foto: Antara.

Apalagi menurut Salim Said, ada banyak anak-anak PKI dari pengakuan Ribka yang ada di dalam tubuh PDIP. “Lantas, apakah mereka tidak akan melakukan balas dendam karena orangtua mereka yang dibunuh?”

Persoalan munculnya isu PKI sendiri, ditegaskan Salim Said, lantaran ada sejarah yang belum selesai di Indonesia. Sehingga masih terus menjadi perkara di kemudian hari.

“Di Indonesia, karena ada sejarah yang belum selesai. Ini bisa jadi bom waktu. Apakah akan meledak atau tidak, tergantung kewaspadaan itu,” katanya.

Nasakom tak laku lagi

Salim Said dalam kesempatan itu membongkar sejarah mengapa PKI bisa mendapatkan tempat di hati masyarakat Indonesia. Menurut dia, tak lain dari upaya Soekarno dengan gagasannya untuk melakukan doktrin persatuan rakyat.

Gagasan nasakom sendiri adalah upaya Soekarno mempersatukan rakyat pada 1926. Ketika itu, Soekarno geram karena Nusantara selalu dijajah oleh Kolonial.

“Bung Karno sampai pada satu pemikiran, kita dijajah terus oleh kolonial karena apa, karena kita tidak bersatu. Jadi dibikinlah gagasan Islam, Nasionalis, dan Komunis (nasakom),” kata Salim.

Usai kemerdekaan, rupanya Soekarno, kata Salim, masih mempertahankan konsep doktrin nasakom. Bung Karno masih terus membela PKI di tengah isu Madiun dan Bali. Bahkan usai Dekrit Presiden pada 1959, Nasakom seolah dikembangkan lagi.

“Tetapi, tanpa menyadari bahwa kita tidak ada pada zaman 1926, ketika tidak ada pengalaman konflik di dalam negeri dengan komunis. Padahal, tahun zaman Dekrit itu, kita sudah melewati pengalaman yang berdarah-darah. Ada pemberontakan Madiun, yang selalu disembunyikan oleh PKI.”

Di satu sisi, usai Gestapu, Bung Karno juga tetap mempertahankan, tidak menghapus nasakom, dan tidak mengkritik nasakom, termasuk membubarkan PKI. Atas inilah banyak pihak yang kemudian meminta agar kekuasaan Soekarno harus diambil alih saat itu.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close