Trending

Pengamat tata kota: ‘pandemi Covid-19 jadi bukti bahwa Jakarta memang kota yang paling bikin stress’

Berdasarkan survei terbaru yang dilakukan oleh brand Vaay dari Jerman, Jakarta masuk 10 besar kota yang paling bikin stress di tahun 2021 ini. Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti Yayat Supriyatna mengungkapkan, pandemi Covid-19 menjadi bukti bahwa Jakarta memang kota yang paling bikin stress.

Hal ini dikatakan Yayat menilik dari indikator akses yang memang menjadi salah satu indikator dalam survey tersebut. Akses ke kesehatan dinilai Yayat tak sebanding dengan jumlah masyarakatnya. Dimana saat ini sangat banyak pasien Covid-19 yang menjalani isolasi mandiri yang tak dapat mengakses rumah sakit atau fasilitas kesehatan lainnya.

Muslima Fest
Pengamat Tata Kota Universitas Trisaksti Supriyatna. Foto: Ist
Pengamat Tata Kota Universitas Trisaksti Supriyatna. Foto: Ist

“Selama ini kita itu selalu lupa untuk memperkuat faskes. Jumlah masyarakatnya tidak sebanding dengan jumlah RS,” ujar Yayat kepada Hops.id, Kamis (15/7/2021).

Tingkat stress Jakarta juga dipicu oleh kemacetan yang luar biasa yang muncul setiap harinya. Kemacetan setiap hari yang dihadapi bisa menurunkan imunitas. Sehingga berimplikasi pada rentan terjangkit virus corona.

“Sudah berapa kali ya Jakarta keluar masuk sebagai kota termacet di dunia. Kepadatan ruang ini jelas membuat tekanan secara psikologis,” tutur Yayat.

Ilustrasi kemacetan di Jakarta. Foto: Ist
Ilustrasi kemacetan di Jakarta. Foto: Ist

Infrastruktur kota yang tidak imbang dapat memicu tekanan. Dalam satu kilometer persegi lahan di Jakarta bisa dihuni oleh 16 hingga 20 ribu jiwa.

“Jangan salah, jika tak ada ruang terbuka itu dapat memicu stress, lho,” kata Yayat.

Tinggal di Jakarta juga memicu stress bagi mereka yang tidak memiliki watak sebagai petarung tangguh. Sehingga sangat rentan masuk ke dalam dunia hitam seperti penyalahgunaan narkotika.

“Tidak semua yang mengadu nasib ke Jakarta bermental petarung. Bagi mereka yang memilki pendidikan minim, dan tak memiliki keahlian, maka pilihan yang tersisa hanya jadi preman, tukang parkir atau pak ogah. Atau bahkan terjerumus ke dalam narkoba,” tutur Yayat.

Penggunaan narkoba mencerminkan bahwa seseorang mengalami tingkat stress yang tinggi. “Orang stress biasanya sulit diatur. Jadi semaunya dia,” pungkas Yayat.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close