Trending

Mengenal Suku Osing di Banyuwangi, dari santet hingga jaran goyang

Pernah mendengar tentang jaran goyang Suku Osing? Jaran goyang merupakan satu dari kebudayaan dari Suku Osing, penduduk asli Banyuwangi.

Suku Osing biasa disebut dengan Laros (akronim daripada Lare Osing). Namun ada juga yang menyebutnya dengan Wong Blambangan.

Baca juga: Kesaksian orang Indonesia soal detik-detik ledakan Lebanon

Suku Osing merupakan penduduk mayoritas di beberapa kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Konon asal muasal suku ini adalah keturunan rakyat Kerajaan Blambangan yang mengasingkan diri pada zaman Majapahit.

Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur.
Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur. Foto: Siskanurifah

Nama Osing diberikan oleh penduduk pendatang yang menetap di daerah itu pada abad ke-19. Kata Osing atau Using berarti tidak, hal ini menunjukkan sikap warga yang menolak pengaruh dari luar pada zaman dulu.

Dalam percakapan sehari-hari, suku Osing menggunakan bahasa Osing yang merupakan turunan dari bahasa Jawa Kuno. Ada dua jenis sistem bahasa yang digunakan dalam Bahasa Osing yaitu Bahasa Osing (bahasa sehari-hari) dan goko-krama.

Yang menarik, dalam menyambut bulan Dzulhijah atau Lebaran Haji, suku Osing menggelar Tumpeng Sewu. Tumpeng Sewu merupakan tradisi makan besar yang dipercaya dapat menjauhkan dari malapetaka atau tolak bala.

Beragam makanan dihidangkan, dan yang tak boleh ketinggalan adalah pecel phitik, yakni ayam panggang yang diberi serutan kelapa dan bumbu khas suku Osing.

Suku Osing percaya, jika upacara Tumpeng Sewu tidak dilaksanakan, maka musibah akan mendatangi wilayah yang mereka tinggali.

Di bulan Dzulhijah juga, suku Osing menggelar adat Mepe Kasur (jemur kasur) yang dilakukan bersamaan dengan acara selamatan desa.

Masyarakat Osing mempunyai tradisi puputan, seperti halnya masyarakat Bali. Puputan adalah perang terakhir hingga darah penghabisan sebagai usaha terakhir mempertahankan diri terhadap serangan musuh yang lebih besar dan kuat. Tradisi ini pernah menyulut peperangan besar yang disebut Puputan Bayu pada tahun 1771 M.

Tapi tahukah anda, suku osing dikenal juga dengan kesaktiannya. Sekadar mengingatkan, Banyuwangi dijuluki sebagai Kota Santet, ketika pada 1998, ratusan orang tewas dengan cara sadis. Ada yang sampai dipenggal, s diarak keliling kota karena dianggep dukun santet. Peristiwa ini dikenal luas oleh masyarakat sebagai ‘Tragedi Santet’.

Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur.
Suku Osing di Banyuwangi Jawa Timur. Foto: Siskanurifah

Suku Osing juga mengenal Mantra “jaran goyang” Suku Osing yang digunakan untuk memikat cinta lawan jenis. Mantra yang berkembang di tengah masyarakat Osing tersebut, dipercaya sejak Banyuwangi masih menjadi bagian utama dari Kerajaan Blambangan.

Selain jaran goyang, Suku Osing juga punya ilmu Sabuk Mangir merupakan ilmu yang pada prakteknya digunakan untuk pengasihan(mendapatkan jodoh) secara halus. Proses bekerjanya kekuatan magi pada ilmu Sabuk Mangir berjalan dengan halus atau pelan pelan sehingga seseorang yang terkena oleh ilmu tersebut tidak akan menyadari bahwa dirinya terkena ngelmu ghaib. (Dehan)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close