Trending

Jika Istana bicara, Rocky Gerung: Pangdam normal lagi, Habib Rizieq edit bahasanya

Pengamat politik Rocky Gerung mengatakan tak perlu TNI bermanuver melawan Habib Rizieq Syihab, apalagi mencopoti baliho Imam Besar FPI tersebut. Menurut Rocky Gerung, polemik TNI vs HRS itu aslinya persaingan biasa Habib Rizieq vs Jokowi. Untuk itu, Rocky mempertanyakan kenapa TNI masuk dalam pertarungan politik sipil antara dua figur tersebut. Soal hal ini jika Istana bicara, Rocky Gerung menilai kondisinya akan lebih baik. Pangdam Jaya bisa menjadi militer profesional lagi dan Habib Rizieq bisa menata bahasanya.

Polemik turunnya prajurit TNI mencopoti sejumlah baliho Habib Rizieq jadi perbincangan. Sebagian masyarakat menilai langkah TNI terbilang tegas, biar ormas taat hukum. Sedangkan sebagian masyarakat sipil lainnya mengkritik, TNI masuk wilayah sipil, menodai semangat reformasi TNI dua dekade lalu.

Baca juga: TNI vs Habib Rizieq, Rocky Gerung ke Prabowo dan Jenderal Andika: Apa poinmu?

Persaingan biasa Habib Rizieq vs Jokowi

Rocky Gerung
Rocky Gerung. Foto Instagram @rokcygerung.ofc

Rocky Gerung menilai TNI tak semestinya turut terseret dalam persaingan politik sipil antara Habib Rizieq vs Jokowi. Seharusnya biarkan saja persaingan politik sipil terjadi sepanjang tidak mengarah pada hal-hal yang mengancam prinsip hukum.

“Ini cuma persaingan antara Habib Rizieq dengan Jokowi. Persaingan biasa saja tak perlu ditafsirkan tentara sampai merumuskan Petamburan sarang radikal, Petamburan tempat operasi peggantian dasar negara,” jelas tokoh oposisi itu di kanal Rocky Gerung Official dikutip Senin 23 November 2020.

Rocky mengatakan wajar akal publik protes pada masuknya TNI mengurusi Habib Rizieq dan belakangan sebagain masyarakat merespons polemik itu dengan membuat meme satire institusi TNI.

Dia berpandangan, meme satir ke TNI itu bisa dihentikan syaratnya Istana mesti tegas bersikap soal manuver TNI melawan Habib Rizieq. Istana jangan diam dan bersikap ambigu, mengklaim tak menyuruh Pangdam Jaya bermanuver tapi tak melabeli manuver itu benara atau salah.

“Polemik ini sebetulnya hanya pesaingan politik sipil, sehingga meme segala macam bisa dihentikan, kan ada meme sampai mengolok institusi TNI, tapi itu bahayakan kesehatan masyarakat kita,” katanya.

Habib Riziew edit bahasanya

Habib Rizieq ceramah di Maulid Nabi

Dengan Istana bersikap jelas soal anuver itu, Rocky mengatakan polemik bisa mereda dan semuanya bisa kembali normal. Habib Rizieq bisa melanjutkan kegiatan, sedangkan Pangdam Jaya bisa bebas dari tudingan.

“Saya berharap ada satu solusi, yang diucapkan secepat-cepatnya oleh Istana, supaya Pangdam Jaya bisa bekerja lagi sebagai tentara profesional, Habib Rizieq bisa ngerti keadaan ini dan bisa edit bahasanya, ini soal penggunana bahasa yang kadang kala tak bisa diterima publik umum,” tuturnya.

Istana ambigu

Ilustrasi Istana Negara. Foto: Indonesia.go.id
Ilustrasi Istana Negara. Foto: Indonesia.go.id

Rocky mengkritik sikap ambigu Istana dalam drama TNI dan Habib Rizieq belakangan ini. Kok TNI bisa-bisanya masuk dalam festival politik DKI Jakarta dan menikmati adanya adu opini publik yang sedang terjadi.

Jelas menurut Rocky, sikap ambigu Istana ini makin menambah deret blunder rezim. Makanya, Rocky mengatakan jangan salahkan publik yang memunculkan meme sarkastis yang cenderung mengolok-olok institusi TNI.

“Kalau Presiden tak tahu menahu (manuver Pangdam Jaya) semestinya beri sanksi. Kan hirarki komando dalam militer yang ambil inisiatif harus perintah pejabat tingginya. Kalau hanya keterangan pers (dari staf KSP) seolah membenarkan itu artinya Istana mau ambil keuntungan dari opini publik. Ini berbahaya mau umpankan perdebatan. Baliho itu kampanye politik sipil, saya menagih kejelasan Istana soal bagaimana sikap peristiwa di Petamburan,” jelas Rocky dalam kanal Youtube Rocky Gerung Official dikutip Minggu 22 November 2020.

Dia menilai tampilnya Pangdam Jaya dalam kasus Petamburan dan pencopotan baliho Habib Rizieq ini adalah testing water politik dan publik juga paham manuver Istana testing water dengan mengumpankan Pangdam Jaya.

Rocky Gerung menganalisis, Pangdam Jaya jadi tameng dan dapat restu Istana, meskipun sikap Istana dalam keterangan persnya, jelas ambigu.

“Jadi kalau militer misalnya pak Pangdam Jaya anggap itu HRS keterlaluan, itu kesimpulan pribadi beliau sebagai warga negara. Kalau itu kesimpulan institusi pun, nggak ada soal, tapi kesimpulkan (manuver ke HRS) itu harus disampaikan kepada Presiden, supaya Presiden yang putuskan. Apakah turunkan baliho atau enggak. Jadi tak boleh Pangdam Jaya ambil keputusan, Pangdam boleh buat kesimpulan jangan buat keputusan,” jelas Rocky.

Insiden pencopotan baliho Habib Rizieq oleh TNI itu, membuat publik menganalisis ada upaya Istana untuk menyelundupkan sesuatu secara samar-samar dan itu ditafsirkan samar-samat pula oleh Pangdam Jaya.

Kesimpulan awal Rocky soal manuver Pangdam Jaya yaitu Pangdam Jaya merasa dapat izin diam-diam dari Istana untuk bermanuver. Selama tak mendapat teguran, Pangdam Jaya akan merasa melakukan fungsinya menjaga ketertiban dan keamanan.

“Mungkin Pangdam anggap Istana mengizinkan secara diam-diam test agreement untuk memberi sinyal ada yang terganggu keutuhan berbangsa. Tapi itu bukan dimaksudkan untuk minta Pangdam turunkan tentara. Pubik akan tagih kenapa Pangdam yang berinisiatif turunkan baliho,” ujar bekas dosen Universitas Indonesia itu.

loading...
Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close