Trending

Jokowi dituduh bohong soal banjir Jakarta, omong kosong sejak jadi Walikota Solo

Soal banjir Jakarta, Jokowi dituding tak tepati janji.

Banjir di DKI Jakarta kembali terjadi. Setiap tahun banjir bisa dibilang ,jadi aktivitas ‘langganan’ penduduk ibukota.

Tercatat sebanyak 113 RW di wilayah DKI tergenang akibat hujan dengan curah ekstrem mencapai 226 mm/hari pada Sabtu 20 Februari 2021.

Masalah banjir yang menggenangi Jakarta tentu menyeret nama Gubernur DKi Jakarta Anies Baswedan. Tidak sedikit publik yang mengeluh di media sosial dan mempertanyakan kinerja Anies.

Tak cuma Anies, ternyata Presiden Joko Widodo juga ‘diserbu’ keluhan soal banjir Jakarta. Pasalnya publik mulai mempertanyakan janji Jokowi 6 tahun silam saat menjadi Gubernur Jakarta. Kala itu Jokowi berjanji akan mengatasi banjir Jakarta jika dirinya menjabat.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Maruf Amin. Foto: Antara
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden Maruf Amin. Foto: Antara

Janji Jokowi juga ditagih Ketua Majelis Jaringan Aktivis Pro Demokrasi (ProDEM) Iwan Sumule. Ia mempertanyakan janji fenomenal Presiden Joko Widodo beberapa tahun silam.

“Jakarta banjir lagi, dan jadi ingat salah satu janji fenomenal Jokowi sebelum menjadi presiden. Bahkan sempat katakan, ‘macet dan banjir lebih mudah diatasi jika ia jadi presiden’,” urai Iwan Sumule dilansir Rol, Minggu 21 Februari 2021.

Janji Presiden Joko Widodo yang dimaksud Iwan Sumule adalah janji yang disampaikan di hadapan para relawan pada 26 Maret 2014 di Jakarta. Tepat saat Jokowi tengah diusung jadi calon presiden untuk periode pertama.

“Meskipun saya pindah kantor, itu justru akan mempermudah menyelesaikan masalah yang ada di Jakarta,” begitu kata Jokowi yang disambut tepuk tangan meriah para relawan kala itu.

Jokowi lantas mengurai bahwa sebanyak 60 hingga 65 persen kunci persoalan Jakarta dipegang oleh pemerintah pusat. Khusus banjir, Jokowi menyebut bahwa ada sebanyak 13 sungai besar di DKI yang menjadi kewenangan pusat.

Sebagai contoh, Jokowi mengatakan jika dirinya tetap menjadi gubernur DKI Jakarta, maka dia tidak akan bisa mengatur atau mengambil kebijakan untuk penanganan sungai di Bogor.

Bagi Iwan Sumule, janji itu kini tinggal kenangan. Pasalnya, hingga periode kedua Jokowi menjadi presiden, DKI Jakarta tetap kebanjiran.

“Sampai tahun kedua di periode kedua jadi presiden, Jakarta tetap saja banjir. Janji Jokowi atasi banjir Jakarta 100 persen bullshit,” tutupnya.

Selain Iwan, Ekonom senior Rizal Ramli menyindir Presiden Jokowi terkait banjir yang terjadi di Jakarta.

Rizal Ramli melalui akun Twitter @RamliRizal, Minggu 21 Februari 2021 mengunggah video wawancara Jokowi.

“Lho pemerintah pusat kemana aja? Kekuasaan punya, tapi kemampuan untuk memanfaatkan kekuasaan untuk selesaikan masalah minim,” tegas mantan Menko Perekonomian ini.

“Tidak ada konsistensi antara visi, strategi, personalia dan implementasi. Janji berjibun, pelaksanaan payah,” tegasnya.

Mobil terendam banjir. Foto: Antara
Mobil terendam banjir. Foto: Antara

Omong kosong Jokowi disebut dimulai sejak masih jadi Walikota Solo

Sementara itu, Pengamat Politik Universitas Negeri Jakarta Ubedilah Badrun mengatakan omong besar Jokowi bahkan dimulai sebelum menjadi Gubernur DKI, dan demi mendapat keuntungan elektoral.

Saat jadi Walikota Solo, Jokowi pernah merasa bahwa menangani banjir DKI Jakarta adalah hal mudah.

Sementara saat jadi gubernur DKI Jakarta, Jokowi mengatakan bahwa mengatasi banjir DKI Jakarta akan lebih mudah jika menjadi Presiden RI.

Faktanya, ketika jadi Gubernur DKI Jakarta dan bahkan jadi Presiden RI dua periode, Jokowi tidak mampu mengatasi banjir.

“Ibukota nyatanya masih tergenang banjir saat hujan lebat, walau Jokowi sudah memasuki periode kedua sebagai presiden,” tegasnya, Minggu 21 Februari dilansir laman Pojosatu.

“Padahal saat jadi gubernur dia mengatakan lebih mudah diatasi jika jadi presiden. Setelah jadi presiden lebih dari 6 tahun ini, dia tidak mampu atasi banjir, bahkan banyak menyalahkan hujan,” ujar Ubedilah.

Ubedilah mentakan bahwa fenomena omong besar Jokowi dapat disebut sebagai bagian utama dari simulacra politik.

Omong besar sebagai narasi citra, narasi semu demi mendapat citra dan keuntungan elektoral.

Saat itu omong besar berhasil menaikan citra politiknya di level nasional. Ubedilah Badrun menyebutnya sebagai citra semu populisme.

“Kini omong besar Jokowi tidak terbukti,” tegas Ubedilah Badrun.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close