Trending

Jokowi Prabowo 2024, ijtimak ulama 212 dijamin akan…

Pendukung wacana Jokowi Prabowo maju 2024, M Qodari menegaskan tidak ada yang salah dengan ide memasangkan dua tokoh tersebut. Qodari blak-blakan tak mau ada lagi ijtimak ulama yang menipu capres dan gerakan 212. Pasangan Jokowi Prabowo ini juga akan mencegah Pilpres yang beraroma isu agama.

Qodari menegaskan dukungannya pada wacana Jokowi Prabowo akan mengakhiri polarisasi yang muncul dari efek Pilpres.

Jokowi Prabowo vs Ijtimak ulama 212

Reuni 212
Reuni 212. Foto Front TV via Twitter @NKRIndonesia79

M. Qodari mengatakan setidaknya ada beberapa variabel yang realistis baginya untuk mendukung pasangan Jokowi Prabowo di Pilpres 2024. Ide besarnya adalah supaya polarisasi masyarakat ini berakhir.

Nah salah satu variebelnya Jokowi dan Prabowo merupakan tokoh yang mewakili poros politik saat ini. Keduanya juga datang dengan dukungan politik yang besar.

Variebel lainnya yang jangan dilupakan, faktor Megawati Soekarnoputri. Ketua Umum PDI Perjuangan ini menurut Qodari sosok bisa mempertemukan Jokowi dan Prabowo. Ibaratnya tangan kiri Megawati itu Jokowi dan tangan kanan Megawati ada Prabowo Subianto.

Qodari mengatakan pula, pasangan Jokowi Prabowo ini akan mencegah terjadinya penjaringan capres yang memainkan isu agama.

“Jadi ijtimak ulama itu yang sudah provokasi capres. Kalau tak ada isu agama kan Pilpres berjalan damai aman,” jelasnya soal peta Jokowi Prabowo Ijtimak ulama dalam siaran tvOne, Senin petang 21 Juni 2021.

Qodari berdalih jika pasangan capres yang muncul dalam Pilpres 2024 cuma dua pasang, maka ya itu akan mengulang skema polarisasi masyarakat yang muncul efek dari Pilpres.

Jelas saja, kata Qodari, taruhlah ada dua pasangan calon, maka pasti satu pasangan calon akan dilabeli sebagai calon Islam dan calon pasangan lainnya akan dilabeli calon nasionalis.

“Itu akan perdebatan panas. Jangan naif, jangan dibantah! karena kan mainnya sentimen agama,” ujarnya.

Dengan kondisi politik hari ini, Qodari mengatakan sudah jelas kok terjadi polarisasi pemilih dan masyarakat pada Pilpres 2019. Lihat saja, Indonesia itu secara elektoral terbagi dua suara kok.

Buktinya 86 persen pemilih di Sumatera Barat pilih Prabowo Subianto di Pilpres lalu, 85 persen pemilih Aceh pilih Prabowo sedangkan kondisi sebaliknya 91 persen pemilih Bali pilih Jokowi belum lagi dominasi suara Jokowi di Nusa Tenggara Timur.

Maka dengan kondisi seperti itu, Qodari menawarkan jalan tengah yang win-win yakni memasangkan Jokowi Prabowo di 2024.

“Indonesia ini sudah punya Jalur Gaza di tengahnya, supaya cegah itu bisa terjadi. Kalau Jokpro, kalau itu tak ada maka calon yang main agama, muncul 212, itu kesehatan demokrasi yang sedang saya jaga,” tegas Qodari.

Cebong keluar taring

Pengamat Politik Qodari. Foto: Ist
Pengamat Politik Qodari. Foto: Ist

Nah dengan blak-blakan pula Qodari mengatakan dia mendukung Jokowi Prabowo 2024 supaya kampanye Pilpres nanti itu tidak menjadi ajang propaganda hox dan masyarakat jangan sampai tebelah gitu.

“Nanti cebong keluar taring dan cakarnya dan ada yang mati,” ujarnya.

Soal wacana Jokowi tiga periode itu tidak konstitusional, Qodari menegaskan cara pandangnya beda dengan para pengkritik wacana pasangan ini.

Qodari mengatakan pengkritiknya itu menggunakan kacamata Pasal 7 UUD 1945 yang mengatur pembatasan jabatan presiden itu cuma dua periode, sedangkan Direktur Eksekutif Indobarometer itu punya cara pandang lain.

“Pintu saya itu pasal 37 UUD 1945, jelas bahwa amandemen atas UUD itu bolehkan, dan kenyataannya sudah dilakukan 4 kali,” katanya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close