Trending

Jubir GAR ITB dicaci maki: Marah sakit hati? Jiaaah buat apa

Juru bicara Gerakan Anti Radikalisme Alumni ITB (GAR ITB), Shinta Hudiarto belakangan banyak mendapat ‘silaturahmi’ dari warganet. Hal ini buntut dari pelapora GAR ITB ke Din Syamsuddin. Nasibnya kini, jubir GAR ITB dicaci maki.

Narasi yang beredar luas GAR ITB melaporkan Din Syamsuddin lantaran diduga radikal, namun GAR ITB membantahnya. Komunitas ini berdalih melaporkan Din Syamsuddin dalam dugaan pelanggaran kode etik ASN.

Nah karena narasinya dinilai janggal, banyak warganet yang ‘bersilatuhami’ ke akun media sosial Shinta Hudiarto untuk meminta klarifikasi simpang siur soal pelaporan Din itu.

Curhat dicaci maki

Jubir GAR ITB, Shinta Hudiarto (kanan)
Jubir GAR ITB, Shinta Hudiarto (kanan) saat menghadap Ketua KASN. Foto Instagram @shintahudiarto

Jubir GAR ITB itu mengaku belakangan ini dia panen cacai maki dari warganet yang meneuhi kolom komentar Facebooknya.

Shinta pun terpantau sibuk menjawabi sana sini pertanyaan soal kok bisa melaporkan Din dengan dugaan radikal. Shinta berkali-kali mengklarifikasi GAR ITB nggak laporin Din soal radikal tapi soal kode etik ASN.

Tak jarang Shinta kena maki-maki dari warganet yang menyudutkannya sampai ke persoalan personal lho.

Beberapa hari ini fb saya rame kedatangan tamu perusuh… yang misuh2, mayah2, caci maki, lalu ujungnya menghujat saya sbg pribadi. Saya marah? Nggak lah, itu hak mereka buat bertingkah begitu. Kita nggak perlu lagi menghujat orang atas kebodohan yang mereka buat sendiri khan?” tulis Shinta di postingan Facebook dikutip Senin 15 Februari 2021.

Dapat banjir makian, Shinta mengaku juga tak ambil hati dan pusing. Dia merasa nggak ada yang salah dengan yang dilakukan GAR ITB.

“Saya sakit hati? Jiaaah, buat apa? Semua komenan itu saya baca dengan senyuman, saya balas yg memang perlu dibalas, sisanya ya saya tinggalkan, biar diambil lagi oleh si yang empunya penghujat. Ngapain saya bawa2 sampah, ngeberat2in aja,” tulisnya.

Dalam postingan lainnya, Shinta mengaku jadi korban fitnah. Misalnya sudah viral foto-fotonya mengenakan mukena, namun narasinya yang beredar Shinta dilabeli non muslim yang menyaru sebagai muslim.

Shinta pun kaget, sebab faktanya Shinta merupakan muslim dan membuktikan dia pernah umrah pada 2018.

“Saya tidak perduli kalian mau ngatain saya apapun, karena saya nggak akan gubris sampah2 yg kalian lontarkan pada saya. Tapi tahukah kalian, fitnahan kalian akan membakar kalian sendiri kelak ??? Jadi sebelum ini bertambah luas, bagi yang merasa muslim, ingatkan teman2 buzzer kalian yg sudah memfitnah saya. Istighfar !!! Saya muslim. Bahkan saya sudah umroh November 2018 lalu,” katanya.

Kode etik Din Syamsuddin

Eks Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/aww/16.
Eks Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Din Syamsuddin ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/aww/16.

Juru bicara Gerakan Anti Radikalisme Alumni ITB (GAR ITB), Shinta Hudiarto heran dengan narasi Din Syamsuddin dilaporkan atas perkara radikalisme. Padahal Shinta mengatakan surat laporan GAR ITB ke Komite Aparatur Sipil Negara (KASN) adalah soak kode etik ASN.

Jubir GAR ITB menyesalkan banyak pihak yang langsung memojokkan dan menuding dalam isu Din Syamsuddin dilaporkan ke KASN. Pangkalnya, kata Shinta, banyak pihak dan tokoh yang belum membaca utuh laporan GAR ITB ke KASN.

Dalam tayangan iNews 14 Februari 2021, Shinta sudah menjelaskan duduk perkaranya soal munculnya kata-kata radikalisme di siaran pers. Dia berdalih, kata-kata ‘tindak radikalisme atas nama Din Syamsuddin’ itu adalah bahasa dan dokumen yang muncul dari KASN dan dilimpahkan ke Satgas Anti Radikalisme 11 menteri.

Shinta mengungkapkan, awalnya GAR ITB melaporkan Din ke KASN pada 28 Oktober 2020. Selanjutnya surat tersebut direspons oleh KASN, dan pada 24 November 2020 KASN melimpahkan kasus tersebut ke Satgas Anti Radikalisme.

Selanjutnya pada 19 Januari 2021, KASN mengirimkan surat ke GAR ITB yang memberitahukan KASN sudah melimpahkan kasus itu ke Satgas Anti Radikalisme.

Menindaklanjuti pemberitahun dari KASN itu, GAR ITB kemudian mengirimkan file dan dokumen pelimpahan KASN ke Satgas Anti Radikalisme ke Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi.

“21 Januari, surat kami diterima Menteri PANRB. Kami berikan semua file yang kami terima, termasuk file pelimpahan KASN kepada Satgas. Dokumen berisi surat KASN ke Kominfo sebagai anggota satgas radikalisme. Nah kalimat radikalisme (di siaran pers) merujuk pada dokumen KASN terkait laporan kami yang dilimpahkan ke Satgas Anti Radikalisme,” jelasnya dikutip dari iNews.

Jadi GAR ITB membantah dokumen radikalisme Din berasal dari mereka. Shinta mengatakan justru mengatakan KASN merespons laporan GAR ITB dan menerjemahkan laporan itu sebagai dugaan radikalisme Din, dan makanya kenapa KASN melimpahkan ke Satgas Anti Radikalisme.

Din dilaporkan GAR ITB kepada KASN selaku dosen UIN Syarif Hidayatullah pada Oktober 2020. Menurut organisasi yang berisikan alumni ITB tersebut, Din telah melanggar sejumlah ketentuan mengenai kewajiban ASN.

Adapun pasal-pasal yang dianggap GAR-ITB dilanggar Din ialah Pasal 3 huruf a, Pasal 4 huruf b, Pasal 5 ayat (2), Pasal 10 huruf c, Pasal 11 huruf c, Pasal 23 huruf a dan huruf b, serta Pasal 66 ayat (2) dari Undang-Undang Nomor 5 tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara.

Kemudian Pasal 40 dari Peraturan Pemerintah Nomor 11 tahun 2017 tentang Manajemen Pegawai Negeri Sipil dan Pasal 3 angka 3 dan angka 6 dari Peraturan Pemerintah Nomor 53 tahun 2010 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close