Trending

Kasus Bripka Cornelius: Bawahan awasi atasan yang pakai senjata api dong

Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan pengetatan senjata api bagi para anggota Polri. Instruksi ini buntut dari insiden Cengkareng yang mana Bripka Cornelius Siahaan menembak satu prajurit TNI dan dua pegawai kafe. Nah isu pengawasan senjata api muncul lagi.

Bagaimana sih idealnya pengawasan senpi bagi aparat Polri? Kompolnas melihat pengecakan rutin pemegang senpi tidaklah cukup.

Komisioner Kompolnas Pungki Indarti mengatakan pengawasan senpi bagi anggota Polri sangat perlu mengingat membawa senjata itu nggak main-main, ada potensi bahaya jika sembarangan.

Pengawasan melekat senjata api

Brimob Polri. Foto: Ist.
Brimob Polri. Foto: Ist.

Pungki mengatakan di internal Polri memang sudah menerapkan pengawasan berkala bagi anggota yang membawa senpi.

Jadi tiap 6 bulan sekali dievaluasi dan diulas anggota Polri pembawa senjata api. Mereka dites urine untuk mengetahui apakah anggota pembawa senjata api ini mengonsumsi narkoba atau tidak, meminum minuman keras atau tidak. Itu semua diperiksa.

Namun lebih dari itu, untuk mencegah kasus berulang, Pungki mengatakan pengawasan melekat perlu dilakukan. Maksudnya?

Jadi pengawasan melekat bagi anggota Polri yang membawa senjata api perlu sebab ada risiko.

“Karena aturannya bawa senjata api itu satu hal berbahaya kalau tidak benar, untuk itu atasan perlu pantau terus terhadap perubahan perilaku anggota,” jelasnya dalam Kompas TV dikutip Sabtu 27 Februari 2021.

Nah dia menyarankan, pengawasan atas anggota Polri pembawa senpi cuma atasan saja. Kurang efektif lah.

“Tak cukup pengawasan dari atasan saja. Ini dilakukan secara berlapis termasuk kawan satu tim maupun bawahan. Dengan berlapis ini bisa diketahui ada perubahan perilaku yang menjurus destruktif atau tidak,” tuturnya.

Yang perlu jadi catatan untuk anggota Polri yang membawa senjata api itu wajib menjalani sejumlah tes. Penggunaan senjata api ini diatur sesuai dan taati semua prosedur.

“Perkara izin harus clear. Penggunaan dan pelatihan mesti harus dilakukan sebaiknya pengawasan harus melekat, reward punishment harus baik diterapkan,” katanya.

Selain soal aturan penggunaan senpi, Pungki mengingatkan lagi komitmen Kapolri untuk memfungsikan Polsek nggak lagi menyidik kasus. Dia sepakat, ke depan Polsek jadi menjalankan fungsi pelayanan ke masyarakat.

“Polsek jalankan Hankamtibmas saja, tidak lidik sidik. Reskrim itu bukan Polsek. Polsek biar hankamtibmas agar makin dicintai masyarakat,” jelasnya.

Cek kehidupan Bripka Cornelius

Bripka CS, tersangka penembakan Cengkareng. Foto: Kolase.
Bripka CS, tersangka penembakan Cengkareng. Foto: Kolase.

Pakar psikologi forensik, Reza Indragiri Amriel mengakui kondisi psikologi Bripka Cornelius ini patut ditelisik. Bukan cuma saat dia berdinas atau saat momen menembaki korbannya saja, cek pula psikologi Bripka tersebut dari kasus yang ia tangani dan perjalanan dinasnya.

Reza mengatakan pemantauan kondisi psikologi Bripka Cornelius bisa ditelisik pada kesehariannya lho. Sejauh mana perilaku dan psikologi dia. Sebab menurut Reza, psikologi seorang yang bekerja sebagai polisi itu nggak lepas dari kehidupan sehari-hari.

“Jadi pemantauan bukan sebatas saat kesiapan psikologi yang bersangkutan untuk memakai senjata api. Mestinya observasi dilakukan keseharian yang bersangkutan, apakah ada konflik di rumah tangga, apakah ada permusuhan dengan masyarakat, yang bisa termanifestasikan saat yang bersangkutan bekerja. Jadi lingkup psikologi itu tak ada lingkup kerja saja tapi non kerja,” jelas Reza dalam Kompas TV, Sabtu 27 Februari 2021.

Dia mengatakan sesuai prosedur, polisi yang pegang senjata api pasti sudah lulus tahapan dan tes dan sudah diperiksa psikologinya secara berkala. Namun itu nggak cukup, sebab kondisi psikologi seseorang itu fluktuatif kan. Apalagi seorang polisi, kondisi psikologinya tergantung situasi dan kegentingan yang dihadapi atau masalah serius yang harus dipecahkan.

“Bisa sewaktu-waktu kondisi psikologi drop. Makanya pemeriksaan psikologi harus diintensifkan kepada personel yang berhadapan dengan situasi kegentingan. Semakin genting maka pemantauan psikologi semakin sering pula,” jelasnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close