Trending

Kasus nakes mandikan jenazah Covid-19 distop, Denny Siregar: Saya bangga jadi buzzer

Akhirnya kasus nakes jadi tersangka karena memandiin jenazah perempuan Covid-19 dihentikan. Kejaksaan Negeri Pematangsiantar telah menerbitkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan (SKP2). Kasus nakes dihentikan, Denny Siregar gembira.

Menyadari kasus ini dihentikan, influencer Denny Siregar bahagia. Perjuangannya mendorong agar kasus ini dihentikan akhirnya tercapai. Dalam kicauannya, Denny Siregar sampai ngaku bangga jadi buzzer gitu lho Sobat Hopers.

Kasus 4 nakes mandikan jenazah dihentikan

Advokasi PPNI untuk tenaga kesehatan
Advokasi PPNI untuk tenaga kesehatan yang dikriminalisasi. Foto ppnisumut.com

Kepala Kejari Pematangsiantar Agustinus Wijono Dososeputro mengumumkan penghentian kasus ini. Kajari menegaskan penghentian kasus ini murni berdasarkan pertimbangan hukum, bukan karena desakan atau intervensi dari pihak manapun.

Kajari mengungkapkan, unsur yang dituduhkan pada 4 nakes tersangka itu nggak terbukti lho. Keempat nakes nggak melanggar Pasal 156A jo Pasal 55 UU Penistaan Agama.

Kenapa bisa jadi tersangka? Kajari mengatakan anak buahnya keliru menelit berkas yang sempat dinyatakan lengkap alias P21.

“Unsur mensrea dengan sengaja menghina agama yang dilakukan para terdakwa kepada jenazah wanita tidak terbukti,” tegas Kajari dikutip dari Tribunnews Rabu 24 Februari 2021.

Selain itu unsur menghina di muka umum, niatan permusuhaan juga nggak terbukti. Makanya Kejari menerbitkan SKP2 tersebut.

Kasus nakes setop, Denny Siregar senang jadi buzzer

Denny Siregar. Foto: YouTube CokroTV
Denny Siregar. Foto: YouTube CokroTV

Nah menyambut langkah Kejari Pematangsiantar menghentikan kasus 4 nakes memandikan jenazah ini, Denny Siregar senang dan menyambut positif.

Dengan nada menyindir, Denny pun merasa gerakannya di media sosial berhasil dengan penghentian kasus ini.

“Inilah kenapa saya bangga jadi buzzer. Kasus nakes di Pematang Siantar akhirnya dihentikan Kejaksaan. Mereka main demo2an, kita mainkan kekuatan media sosial..,” tulis Denny berkicau di Twitter.

Denny termasuk salah satu inisiator petisi daring Change.org yang meminta penghentian kasus 4 nakes tersebut. Jadi menurut petisi daring Change.org, kasus keempat petugas medis itu bermula saat penanganan jenazah Zakiah (50), pasien suspek Covid-19 yang meninggal dunia pada Minggu 20 September 2020 di RSUD Djasamen Saragih.

Jenazah wanita asal Serbelawan, Kecamatan Dolok Batu Nanggar, Kabupaten Simalungun, itu dimandikan empat orang petugas forensik RSUD Djasamen Saragih. Mereka berjenis kelamin laki-laki, dua di antaranya berstatus sebagai perawat.

Sang Suami melaporkan kasus itu ke polisi dengan tuduhan penistaan agama. Padahal sebelumnya dia menyatakan setuju dengan proses itu. Klausul penistaan agama itu muncul karena fatwa dari pengurus MUI Pematangsiantar. Sekarang kasus ini sudah masuk proses persidangan, nakes kena nistakan agama.

Aturan urus jenazah MUI

Tenaga medis salati jenazah
Tenaga medis salati jenazah. Photo: Twitter @Tenaga medis salati jenazah

Narasi empat tenaga medis menistakan agama berdasarkan dari keterangan ahli MUI Pematang Siantar.

Nah berkaitan dengan hal ini, aslinya MUI Pusat sudah mengeluarkan pedoman dan fatwa pengurusan jenazah pasien Covid-19 lho Sobat Hopers.

Dalam ketentuan untuk bab memandikan jenazah, memang ada keharusan agar yang memandikan adalah yang muhrim dan sejenis. Namun ada poin, dalam hal darurat, jenazah bisa dimandikan lawan jenis dengan sejumlah syarat ketat.

Malaha ada ketentuan, jenazah pasien COvid-19 nggak perlu dimandikan jika memenuhi syarat kedaruratan dari pakar kesehatan.

Berikut ketentuan memandikan jenazah pasien Covid-19 sesuai Fatwa MUI nomor 18 tahun 2020 tentang Pedoman Pengurusan Jenazah:

Pedoman memandikan jenazah yang terpapar COVID-19
dilakukan sebagai berikut:
a. Jenazah dimandikan tanpa harus dibuka pakaiannya

b. Petugas wajib berjenis kelamin yang sama dengan jenazah
yang dimandikan dan dikafani;

c. Jika petugas yang memandikan tidak ada yang berjenis
kelamin sama, maka dimandikan oleh petugas yang ada,
dengan syarat jenazah dimandikan tetap memakai pakaian.
Jika tidak, maka ditayamumkan

d. Petugas membersihkan najis (jika ada) sebelum
memandikan;

e. Petugas memandikan jenazah dengan cara mengucurkan
air secara merata ke seluruh tubuh;

f. Jika atas pertimbangan ahli yang terpercaya bahwa jenazah
tidak mungkin dimandikan, maka dapat diganti dengan
tayamum sesuai ketentuan syariah, yaitu dengan cara:
1) Mengusap wajah dan kedua tangan jenazah (minimal
sampai pergelangan) dengan debu. 2) Untuk kepentingan perlindungan diri pada saat mengusap, petugas tetap menggunakan APD.

g. Jika menurut pendapat ahli yang terpercaya bahwa
memandikan atau menayamumkan tidak mungkin
dilakukan karena membahayakan petugas, maka
berdasarkan ketentuan dlarurat syar’iyyah, jenazah tidak
dimandikan atau ditayamumkan

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close