Trending

Kesal pendemo disebut sampah demokrasi, Rocky balas Ngabalin, badut!

Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin menyebut pendemo yang menolak UU Omnibus Law Cipta Kerja di tengah pandemi Covid-19 sebagai sampah demokrasi.

Ngabalin menyebut pendemo sampah demokrasi, dari balik pagar Istana, sambil memantau aksi unjuk rasa, pada Selasa 13 Oktober 2020. Hal itu dia sampaikan saat diwawancarai CNN.

Baca juga: Kepulangannya ditakuti, DPR: Habib Rizieq bawa ajaran Nabi Muhammad

“Dalam masa pandemi, dia kirim orang untuk berdemonstrasi. Di mana logikanya coba. Jangan jadi sampah demokrasi di negeri ini,” ujar Ngabalin.

Terkait umpatan yang dialamatkan Ngabalin soal sampah demokrasi kepada para pendemo, Pengamat Politik Rocky Gerung akhirnya turut buka suara. Kata Rocky, Ngabalin layaknya orang yang tak mengerti sejarah.

Sebab jika dia belajar akan sejarah, katanya, dia tak akan berkata-kata demikian kepada publik. “Saya suka kagum pada kemampuan Ngabalin untuk mengina otaknya sendiri,” kata Rocky di saluran Youtube-nya, disitat Rabu sore, 14 Oktober 2020.

Ali Ngabalin
Ali Ngabalin Foto: blogspot

Rocky kemudian menjelaskan duduk perkara mengapa ungkapan Ngabalin ke pendemo soal sampah demokrasi adalah sesat. Kata dia, munculnya demokrasi pertama kali pada 1789 di bulan Juli. Ketika itu rakyat memutuskan untuk memenggal Raja Louis ke 14. Itulah kemudian awal lahirnya, di mana demokrasi milik orang-orang yang berada di luar Istana.

“Bahwa kepala raja tak sakral, makanya dikenal liberte, lalu persaudaraan, dan kesetaraan. Nah, Ngabalin enggak pernah belajar sejarah,” kata dia.

Ngabalin hina jutaan orang

Rocky kemudian menyebut apa yang diungkapkan Ngabalin terhadap para pendemo sebagai sampah demokrasi adalah bentuk penghinaan. Sebab, para pendemo yang turun ke jalan tengah berjuang menuntut keadilan.

Front Pembela Islam. Foto: Dok Antara.
Demo Front Pembela Islam. Foto: Dok Antara.

Dan itu sah di mata undang-undang. Apalagi belakangan rakyat marah lantaran Pemerintah yang dipilihnya justru seolah bersekongkol dengan DPR untuk membatalkan harapan hidup mereka melalui UU Omnibus Law Cipta Kerja.

“Nah ini dari dalam pagar, seorang di dalam pagar malah menghina jutaan orang, apa enggak dungu. Enggak ada yang mau nimpukin Ngabalin, karena dia sudah dungu.”

“Dia enggak usah diomelin, dia diketawain saja. Cara terhormat menghargai badut adalah menertawakannya,” kata Rocky lagi keras.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close