Trending

Ketua RT bongkar sosok Zakiah Aini sejak kecil, berubah drastis pas SMP

Sejumlah tetangga mengungkap sosok keseharian Zakiah Aini, pelaku penyerangan Mabes Polri beberapa waktu lalu. Para warga mengaku kaget tak menyangka dengan aksi nekat Zakiah Aini, yang melakukan aksi teror lone wolf dengan menembaki gedung Mabes Polri menggunakan senjata.

Kesaksian pertama disampaikan Muhayat, warga Gang Taqwa, Ciracas, Jakarta Timur. Beliau tinggal tak jauh dari rumah Zakiah. Menurut kakek ini, dirinya kerap bertemu sosok Zakiah Aini ketika melayaninya di warung.

“Iya saya kenal, sebab kalau cucu minta jajan kan sering beli di warungnya Zakiah. Tetapi biasa saja (percakapan), enggak banyak yang dibicarakan, biasa saja,” kata Muhayat dikutip saluran Youtube Fakta, Selasa 6 April 2021.

Sejujurnya, kakek Muhayat mengaku kaget setelah mendengar aksi nekat Zakiah di televisi. Padahal, menurutnya, sosok Zakiah Aini terlihat biasa saja, dan jauh dari kesan radikal.

Surat wasiat Zakiah. Foto: Ist.
Surat wasiat Zakiah. Foto: Ist.

“Enggak menyangka. Saya memang enggak pernah ngobrol panjang. Saya baru tahu dia Mahasiswi setelah ramai di TV, setelah kejadian ini. Ya kaget. Selama ini kelihatan enggak macam-macam, enggak ada juga lihat aktivitas aneh seperti banyak orang main ke rumahnya, biasa saja,” katanya lagi.

Sosok Zakiah Aini di mata Ketua RT

Kesaksian sosok Zakiah Aini kemudian diungkap lagi oleh Kasdi, Ketua RT 03/RW 10 Kelapa Dua Wetan, Ciracas, Jaktim. Rumah Kasdi tak jauh dari rumah Zakiah.

Kasdi mengaku mengenal Zakiah sejak masih balita. Di matanya, Zakiah kecil merupakan sosok yang normal seperti yang lainnya. “Saya kenal Zakiah dari kecil, dari kecil lah, dari bayi, lalu SD,” katanya.

Akan tetapi, dia mulai melihat ada perbedaan sejak selepas SD. Hal itu pula yang diakui kakak kandung dari Zakiah. “Kata abangnya dia mulai ada perubahan semenjak SMP,” katanya.

Selama remaja, sosok Zakiah Aini digambarkan Kasdi nampak tertutup. Dia tak pernah terlihat. Termasuk bergaul dengan teman-teman sebaya dan tetangga. Sejujurnya, Kasdi yang sudah mengenalnya sejak lama menjadi kaget.

Sementara sang ibu, justru sangat aktif di lingkungan tempat tinggal. “Kalau ibunya sering ke sini, karena dia kan pengurus PKK, Posyandu, ibunya aktif. Kalau bapaknya menunggu warung saja. Kan dia punya warung sebelah rumah, sembako.”

“Saya kaget juga, dengan kejadian ini pelakunya anak muda, masih 26 tahun, perawan. Berkumpul itu dia enggak pernah, apalagi berteman dengan perempuan atau laki-laki sebaya dia, itu enggak pernah.”

Senjata yang digunakan Zakiah Aini serang Mabes Polri. Foto: Instagram/lintas.military
Senjata yang digunakan Zakiah Aini serang Mabes Polri. Foto: Instagram/lintas.military

Kasdi sendiri merupakan salah seorang yang menjadi saksi saat aparat Polisi menggeledah rumah Zakiah Aini. Dia diminta mendampingi aparat saat memasuki rumah Zakiah, bersama ketua RW dan Lurah.

Dari dalam rumah, aparat kemudian menyita sejumlah barang, seperti ponsel, laptop, dan surat wasiat.

Jangan dikucilkan

Kesaksian lain disampaikan tetangga Zakiah Aini, Tiuria Gultom. Beliau adalah Ketua RT di RW 6, berdekatan dengan rumah Zakiah. Kata Tiuria, dirinya sebenarnya tahu sosok Zakiah Aini sejak bayi.

Namun semenjak SMA, dirinya sudah tak melihatnya lagi. Adapun hubungan akrab Tiuria dengan keluarga Zakiah hanya terjalin lewat sang ibu, yang memang aktif di kegiatan PKK, dan Posyandu.

“Kenal banget dengan keluarga, tapi Zakiah saya enggak pernh lihat semenjak SMA. Saya sudah 34 tahun bertetangga, tahu dia dari bayi. Cuma enggak tahu, kehilangan semenjak dia dewasa ini. Sesudah masuk SMA, kuliah, kita enggak pernah lihat,” katanya.

Selama ini, Zakiah dikenal sebagai sosok yang ramah. Begitupula halnya dengan seisi rumahnya. Mereka kerap menyapa para tetangga.

Di momen ini, dia pun mengajak agar para tetangga berusaha merangkul keluarga Zakiah yang kini dinilai tengah terpuruk dengan keadaan. Dia ingin masyarakat tak mengucilkan keluarganya.

“Jangan kucilkan mereka, Kalau saya maunya merangkul mereka, mau temui, enggak saya kucilkan. Justru kita sebagai tetangga, jangan sampai mereka mereasa minder begitu. Sebab mereka juga pasti syok dengan kejadian ini. Apalagi saya berteman lama dengan beliau (ibunya), pasti kehilangan anak kan sedih juga.”

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close