Trending

Polisi belajar kitab kuning, Ketum MUI takut polisinya malah radikal…

Keinginan calon Kapolri Komjen Listyo Sigit Prabowo untuk menanamkan kegiatan belajar kitab kuning kepada seluruh anggota Polri cukup mencuri perhatian publik. Namun Ketua Umum MUI (Majelis Ulama Indonesia) justru memiliki kekhawatiran, jika polisi belajar kitab kuning.

Menurut KH Cholil Nafis belajar kitab kuning yang akan dilakukan polisi terlebih dahulu harus dimaknai seperti kiai yang alim, dengan rutinitas mengajarkan kepada santri yang mengaji. Jika dilihat konteksnya maka polisi diposisikan sebagai santri, tentang Islam Wasathi atau moderat.

Sedangkan kitab kuning itu maknanya Islam washati atau moderat. Polisi yang mengaji tersebut kemudian diterapkan oleh polisi yang memiliki tugas mengayomi masyarakat dan bermitra dengan ulama.

Ketua MUI Cholil Nafis
Ketua Umum MUI Cholil Nafis Foto: MUI

“Kiai yang alim, santri yang ngaji. Kemudian mengajar polisi tentnag Islam wasathi kemudian direalisasikan polisi sebagai pengayom masyarakat bermitra dengan ulama. Kitab kuning itu maknanya Islam washati,” cuit Cholil Nafis melalui akun twitter pribadinya

Meski tak melarang polisi mempelajari kitab kuning, Cholil seperti dikutip CNN, menekankan jangan sampai pindah arah, Polisi jangan sampai jadi santri, kiai karena tugas utama polisi yakni menjaga keamanan dan melindungi umat.

“Tapi jangan samapi pindah arah. Polisi jangan sampai menjadi santri, kiai, karena tugas polisi jaga keamanan, melindungi umat. Tapi nilai-nilai yang mengajarka, yang menceramahi itu tetap ulama,” ungkap Cholil

Komjen Pol Sigit dan Kitab Kuning. Foto: Antara, darunnuhat.com
Komjen Pol Sigit dan Kitab Kuning. Foto: Antara, darunnuhat.com

Kekhawatiran inilah yang menurut Cholil Nafis penting dipahami jika belajar kitab kuning yang akan dilakukan polisi sebagai belajar Islam moderat, atau sebagai paham moderat.

“Jangan sampai di polisinya justru ada radikalisme,” kata Cholil Nafis.

Ide polisi belajar kitab kuning

Saat itu, Komjen Listyo Sigit menceritakan pengalamannya saat menjabat sebagai Kapolda Banten, di mana dia sempat menyambangi beberapa ulama karismatik yang ada di sekitar wilayah Banten.

Adapun kedatangannya itu diberi beberapa masukan oleh para alim ulama terkait mencegah perkembanganya ideologi radikal yang berujung tindakan terorisme, yakni salah satimya dengan mempelajari kitab kuning.

“Seperti dulu di Banten saya pernah sampaikan, anggota wajib untuk belajar kitab kuning. Karena kami mendapatkan masukan dari ulama-ulama yang kami datangi bahwa untuk mencegah berkembangnya terrorisme salah satunya adalah dengan belajar kitab kuning,” ujar Komjen Listyo Sigit, ketika menghadiri uji fit and proper di Komisi III DPR RI, pada Rabu, 20 Januari 2021.

Mendapat masukan dari tokoh agama tersebut, dia pun melaksanakan saran yang diberikan.

Calon Kapolri, Komjen Listyo Sigit Prabowo
Calon Kapolri, Komjen Listyo Sigit Prabowo. Foto Antara.

Hasilnya, kata Komjen Listyo Sigit, memang benar dan terbilang efektif untuk mencegah berkembangnya paham tersebut.

 “Dan tentunya baik di external maupun internal itu saya yakini bahwa apa yang disampaikan oleh kawan-kawan ulama itu benar adanya, oleh karena itu akan kami lanjutkan pak,” tuturnya.

Selain mencegah secara ilmu dan ajaran agama melalu kitab kuning, Komjen Listyo Sigit juga akan terus bekerja sama dengan para tokoh lintas agama lainnya sebagai usaha untuk menekan adanya paham radikalisme yang ada di tengah masyarakat.

Lebih lanjut dia bakal merangkul tokoh alim ulama, serta menjaga hubungan baik antar aparat dengan tokoh agama sehingga dapat saling berkoordinasi guna mencegah terpaparnya masyarakat dari ideologi-ideologi terlarang yang anti terhadap prinsip Pancasila.

“Bekerja sama dengan tokoh-tokoh agama, tokoh tokoh ulama untuk kemudian melakukan upaya pencegahan dengan memberikan penjelasan supaya masyarakat tidak mudah terpapar dengan ajaran-ajaran seperti itu,” imbuhnya.

loading...
Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close