News

Kisah hidup George Floyd, orang yang kematiannya bikin AS kerusuhan besar

Kerusuhan di Amerika Serikat kian meluas. 4.000 demonstran tercatat sudah ditangkapi aparat atas kasus kematian yang menimpa George Floyd (46 tahun).

Unjuk rasa ini terpantau turut dilakukan di empat negara bagian di AS, mulai dari Minnesota, Atlanta, California, dan Washington.

Bukan cuma sekadar unjuk rasa, di sejumlah wilayah, para demonstran bahkan melakukan penjarahan, dan mobil-mobil polisi dibakari massa.

Baca Juga: Tambahi kata ‘pro rakyat’ saat baca UUD 45, Puan Maharani diserbu netizen

Dari sejumlah informasi yang dihimpun, otoritas setempat sampai kewalahan menghadapi aksi unjuk rasa berujung ricuh di beberapa negara bagian. Bahkan Gubernur California Gavin Newsom turut mempersilakan menurunkan pasukan pengamanan nasional lantaran aksi unjuk rasa di sana sudah tak lagi bisa dibendung.

Lantas, siapa George Floyd sebenarnya, hingga kematiannya membuat marah banyak orang Amerika? Berikut laporannya, seperti disitat Hops, Senin 1 Juni 2020.

Sepak terjang Floyd

Seperti disitat Sky News, George Floyd bukanlah warga asli Minneapolis. Ia lahir di North Carolina dan sempat tinggal di Houston, Texas. Tetapi, beberapa tahun lalu dia memutuskan pindah ke Minneapolis untuk mencari pekerjaan.

Menurut temannya sejak lama, Christopher Harris, Floyd kerap disapa “Big Floyd” karena tubuhnya yang tinggi dan besar. Floyd sempat menikah dengan Roxie Washington dan memiliki seorang putri berusia enam tahun yang diberi nama Gianna.

Kepada harian Houston Chronicle, Washington mengenang mantan suaminya itu sebagai ayah yang baik. Mereka bekerja sama untuk menjadi orang tua terbaik bagi Gianna.

“Dia mencintai kota ini. Ia datang kemari (dari Houston) dan tinggal di sini demi orang-orang di sini dan kesempatan (di sini),” katanya.

George Floyd ternyata juga merupakan reidivis dan sempat dipenjara selama lima tahun. Dia pernah ditangkap pada 2007 atas kasus perampokan bersenjata.

Usai keluar dari penjara, Floyd kemudian sengaja pindah dari Houston untuk memulai lembaran baru dalam hidupnya.

Di Minneapolis, Floyd kemudian menjadi sopir truk dan petugas keamanan di sebuah restoran. Tetapi pandemi kemudian membuatnya di rumah saja. Sosok Floyd sendiri dikenal ramah pada para pengunjung restoran, dan kerap memeluknya sebagai salah satu salam semangat darinya.

Tak bisa bernapas usai diinjak polisi

Sementara itu, disitat BBC, George Floyd kemudian ditangkap aparat kepolisian saat berusaha membeli rokok dengan uang palsu senilai US$20. Ketika itu dia hendak membeli rokok di salah satu swalayan.

Pegawai swalayan sudah memintanya untuk mengembalikan rokok, namun tak digubris Floyd. Jadilah dia kemudian dilaporkan ke polisi. Pada malam hari, polisi kemudian mendatangi Floyd yang tengah duduk dengan dua orang di tempat parkir.

Ketika itu, Floyd langsung diborgol. Tetapi dari video rekaman yang beredar, ada salah seorang polisi bernama Derek Chauvin, justru menekan leher Floyd yang sudah diborgol tak berdaya dengan dengkulnya.

George Floyd dan polisi yang menginjaknya. Foto: BBC.
George Floyd dan polisi yang menginjaknya. Foto: BBC.

Padahal ketika itu, Floyd sudah meminta agar polisi itu mengangkat kakinya karena dia kesulitan bernapas, namun tak digubris. Aksi itu berlangsung selama delapan menitan, sampai Floyd kemudian meninggal dunia.

Hal inilah yang kemudian membuat publik AS marah, terutama warga kulit hitam. Walau polisi yang membunuhnya telah ditangkap dan didakwa dengan pasal berlapis, namun ada hal lain yang membuat publik AS kemudian marah.

Rasis terus subur

Seperti disitat BBC, Minneapolis, ibu kota negara bagian Minnesota, merupakan area yang makmur dan mempraktikan kebijakan yang cukup demokratis. Tetapi, selama bertahun-tahun di sana terjadi segregasi dalam hal ekonomi antara warga kulit putih dan hitam. BBC menyebutnya “paradoks Minnesota”.

Perpecahan sesungguhnya sudah terjadi sejak awal abad 20 lalu. Ketika itu warga kulit hitam dilarang membeli rumah di beberapa area. Bahkan, pada tahun 1960-an, pemerintah negara bagian Minnesota membangun sebuah jalan tol lebar yang membabat habis pemukiman komunitas kulit hitam yang dikenal dengan nama Rondo di Kota St Paul.

Menurut kajian yang dilakukan pada 2018 lalu menunjukkan warga kulit hitam yang memiliki rumah di Kota St Paul tergolong rendah.

Aksi demonstran protes kematian George Floyd. Foto: CNN.
Aksi demonstran protes kematian George Floyd. Foto: CNN.

Bahkan, sebelum terjadi pandemik COVID-19, jumlah warga kulit hitam yang kehilangan pekerjaan jauh lebih tinggi dibanding warga kulit putih.

Data menunjukkan 10 persen warga kulit hitam dipecat karena berbagai alasan. Sedangkan, warga kulit putih yang dipecat hanya 4 persen.

Pada 2016 lalu, warga kulit putih bisa menghasilkan uang per tahunnya lebih banyak yakni sekitar US$76 ribu. Bandingkan dengan warga kulit hitam yang per tahunnya hanya bisa menghasilkan US$32 ribu. Maka, tak heran di Kota St Paul, lebih banyak warga kulit hitam yang berada di bawah garis kemiskinan.

Pembunuhan terhadap George Floyd pun kemudian menegaskan perlakuan rasisme masih terjadi di AS.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close