Trending

Kisah Pangeran Sambernyawa obrak-abrik VOC, 16 tahun 250 kali tempur

Kisah Pangeran Sambernyawa sangat heroik. Perang demi perang dilalui. Bersama pasukannya, pangeran bernama Raden Mas Said ini, terus melawan VOC.

Dalam setiap pertempuran, baik melawan VOC secara langsung, maupun dengan pasukan bantuan dari Mataram. Pasukan RM Said selalu meraih kemenangan. Di mana jumlah korban hanya sedikit, bila dibanding pasukan lawan.

Lawan RM. Said memang bukan hanya VOC, tapi juga pasukan Mataram. Sebab setelah peristiwa penyerangan Keraton Kartasura, dia bergabung bersama pamannya Pangeran Mangkubumi untuk melawan Mataram dan VOC. Bahkan dia juga dinikahkan dengan sang anak yang bernama Raden Ayu Inten. Hingga namanyapun berganti menjadi Pangeran Arya Mangkunegara.

Sampai saat Raja Mataram Pakubuwono II wafat pada tahun 1749, RM. Said memaksa paman yang sekaligus mertuanya untuk mengisi kekosongan kekuasaan di Mataram. Penobatan diri sebagai raja dilakukan di Yogyakarta. Di mana Mangkubumi dinobatkan dengan gelar Kanjeng Susuhunan Pakubuwono Senopati ing Alaga Abdurrahman Sayidin Panotogomo.

“Dengan posisi sebagai raja, Pangeran Mangkubumi mengangkat Raden Mas Said sebagai patih sekaligus panglima perang. Namun sayang. Usai penobatan sebagai raja, jalinan hubungan dengan paman sekaligus mertuanya ini tak berlangsung lama. Sebab ternyata di Keraton Mataram (Kartasura), Belanda justru mengangkat Pangeran Adipati Anom sebagai Pakubuwono III. Dan tidak mengakui status Pangeran Mangkubumi sebagai raja,” jelas Catharina Etty, ketua Paguyuban Sejarawan Ngayogyakarta, saat menghadiri sebuah forum diskusi dan bedah buku terkait sejarah Kartasura.

Astana Mangadeg di Karanganyar Jawa Tengah. Foto: Dehan
Astana Mangadeg di Karanganyar Jawa Tengah. Foto: Dehan

Bahkan karena diduga tak ingin kehilangan kekuasaan, Pangeran Mangkubumi bersedia diajak berunding. Hingga akhirnya muncullah perjanjian Giyanti, yang memecah Mataram menjadi dua, yakni Surakarta dan Yogyakarta. Surakarta dipimpin Pakubuwono III, sementara Yogyakarta dipimpin Pangeran Mangkubumi, yang selanjutnya gelarnya berganti menjadi Sultan Hamengku Buwono.

Sementara RM. Said yang tetap tidak mau bekerja sama dengan Belanda, memilih untuk berjuang sendiri melanjutkan perang gerilya. Dengan dukungan pasukan yang semakin besar, pasukan RM Said menjadi pasukan yang sangat ditakuti. Sebab dalam berbagai pertempuran selau bisa menang dengan mudah, meski kalah dalam jumlah dan persenjataan.

Astana Mangadeg di Karanganyar Jawa Tengah. Foto: Dehan
Astana Mangadeg di Karanganyar Jawa Tengah. Foto: Dehan

Dari kemampuannya inilah, RM Said mendapat julukan Pangeran Samber Nyawa dari Gubernur VOC Nicolass Hartingh. Julukan itu diberikan setelah dia berhasil mengalahkan pasukan VOC yang dipimpin oleh Kapten Van Der Poll, dan bahkan memenggal kepala sang kapten.

Kisah Pangeran Sambernyawa di medan perang tak kurang dari 16 tahun. Dari tahun 1741 hingga 1757 setidaknya ada 250 kali pertempuran yang dijalaninya. Baik melawan Belanda maupun pasukan gabungan.

Puncak perjuangan RM Said terjadi saat dia menyerang Yogyakarta, dan mengacak-acak benteng VOC serta keraton. Kemampuan berperangnya yang luar biasa, membuat dia dan pasukannya bisa dengan mudah masuk me dalam keraton. Dan hal ini tentu saja membuat Sultan Hamengku Buwono murka.

Dia lantas membuat sayembara dengan hadiah besar bagi siapa saja yang mampu menangkap RM. Said. Namun tidak ada seorangpun yang berhasil. Sampai akhirnya VOC berhasil mempertemukan para penguasa tanah Jawa itu dalam sebuah perundingan. Yang kemudian dikenal dengan nama perjanjian Salatiga.

“Dalam perjanjian Salatiga tanggal 17 Maret 1757 ini disepakati bahwa Mangkunegoro diangkat sebagai adipati yang mandiri, dan kedudukannya sejajar dengan Sultan maupun Sunan. Ia bergelar Kanjeng Pangeran Adipati Arya Hamangkunegoro,” lanjut Catharina.

Astana Mangadeg di Karanganyar Jawa Tengah. Foto: Dehan
Astana Mangadeg di Karanganyar Jawa Tengah. Foto: Dehan

Mangkunegoro memerintah wilayah Kadaung, Matesih, Honggobayan, Sembuyan, Gunung Kidul, Pajang sebelah utara dan Kedu. Dia mendirikan istana di tepi Kali Pepe Surakarta.

Mangkunegoro wafat pada 28 Desember 1795, setelah bertahta sekitar 40 tahun. Jasadnya dimakamkan di Astana Mangadeg, yang berada di lereng Gunung Lawu. Namun ada juga rumor yang menyebut bahwa yang di Astana Mangadeg hanya bajunya saja. Sementara jasadnya dimakamkan di dalam Keraton Mangkunegaran.

Entah mana yang benar. Namun yang pasti pada tahun 1983, pemerintahan Presiden Soeharto menganugerahkan gelar pahlawan naaional serta Bintang Mahaputera kepada Mangkunegoro.

Yang menarik, selama bertahta, ia disebutkan membangun kekuasaan militer terbesar di antara tiga kerajaan Jawa. Jumlah pasukannya mencapai 4.279 tentara reguler. Sebanyak 144 di antara prajuritnya adalah wanita, terdiri dari satu peleton prajurit bersenjata karabijn (senapan), satu peleton bersenjata penuh, dan satu peleton kavaleri atau pasukan berkuda. (Dehan)

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close