Sains

Kisah pilot pengebom atom di Hiroshima, tak pernah menyesali aksinya

Saat membaca sejarah kemerdekaan, mungkin ada satu pertanyaan yang membayangi pikiran kita: seandainya bom atom tak meledak di kota Hiroshima dan Nagasaki, benarkah perang dunia kedua bakal berlangsung lebih lama? Sebab, kejadian itu menjadi ‘pemutus’ dari serangkaian peristiwa yang berlangsung.

Pilot pesawat Enola Gay yang menjatuhkan bom atom di Hiroshima, Paul Warfield Tibbets mengatakan, ia bersama para kru lain sengaja melakukan hal tersebut untuk menyudahi kecamuk perang. Itulah mengapa, dalam salah satu wawancara bersama The Guardian, dirinya merasa tak menyesal.

Baca juga: Peneliti ungkap ‘kiamat’ di zaman dinosaurus: Bumi sempat gelap

“Dalam suatu pertempuran atau perang, sulit rasanya tak membunuh orang yang tak bersalah,” ujarnya, dikutip Minggu 28 Juni 2020.

Pesawat yang Bawa Bom Atom Hiroshima. Foto: WW2 Images
Pesawat yang Bawa Bom Atom Hiroshima. Foto: WW2 Images

Setelah peristiwa itu, Tibbets mengaku banyak media yang memberitakan seakan-akan dirinya telah melakukan perbuatan keliru dan penuh dosa. Padahal para pekerja media, kata dia, tak memahami betul bagaimana kebenaran peristiwa tersebut.

“Koran memberitakan seakan-akan saya telah membunuh banyak orang sipil di sana. Maka saya katakan, itu salah mereka (warga Hiroshima) karena berada atau tinggal di lokasi pengemboman,” terangnya.

Pria yang menghembuskan napas terakhirnya pada 2007 itu menilai, nyawa yang hilang karena jatuhnya bom atom di Hiroshima tersebut sejatinya tak seberapa. Sebab, jika perang terus berlanjut, semakin banyak darah yang tumpah. Ledakan itu, kata dia, membuat segalanya menjadi usai.

Diketahui, pesawat Enola Gay yang ia bawa terbang dari North Field yang berjarak sekira enam jam penerbangan dari Jepang. Pesawat itu sampai di langit Hiroshima pukul delapan pagi waktu setempat, dan menjatuhkan bom atom yang dikenal dengan sebutan Little Boy.

Kondisi Hiroshima setelah tertimpa bom atom. Foto: J News

Hanya butuh 43 detik bagi bom atom tersebut untuk sampai ke permukaan tanah setelah dijatuhkan dari ketinggian 9 kilometer lebih.  Little Boy kemudian meledak dan menghancurkan area seluas 10 kilometer persegi.

Berkat peristiwa itu, sebanyak 80 ribu manusia atau sekira 30 persen populasi Hiroshima tewas seketika. Sementara 60 ribu lainnya tewas di tahun berikutnya akibat radiasi yang ditinggalkan bom tersebut.

Pengakuan Co-Pilot

Berbeda dengan sang pilot, seorang co-pilot Enola Gay bernama Robert Lewis justru menyesali peristiwa tersebut. Pada lembaran surat yang ia kirimkan kepada orang tuanya, Lewis mengaku tak tega melihat banyak orang berguguran lantaran bom yang ia dan rekan lainnya jatuhkan.

“Tuhanku, apa yang telah kami lakukan? Berapa banyak rakyat Jepang yang telah kami bunuh?” tulisnya disitat dari News.co.au.

Pilot dan kru pesawat Enola Gay. Foto: Defense Media Network

Di surat yang sama, ia mengaku bakal hidup dalam bayang-bayang ketakutan. Kota yang hancur lebur, nyawa yang berguguran, serta sederet fakta menyedihkan lainnya, membuat Lewis mustahil merupakan peristiwa tersebut.

“Jika saya hidup seratus tahun, saya tidak pernah bisa melupakan peristiwa itu, meskipun hanya beberapa menit saja,” kata dia. (re2)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close