Trending

Kisah Sunan Bayat, bupati Semarang yang berguru pada Sunan Kalijaga

Ini kisah Sunan Bayat. Bupati pertama Semarang yang bernama asli Ki Ageng Pandanaran. Dia salah satu murid Sunan Kalijaga.

Sebagai salah seorang penyebar agama Islam di tanah Jawa, nama Sunan Bayat memang tidak setenar para wali anggota wali songo. Namun demikian bagi sebagian masyarakat, sosok sang wali yang jasadnya kini terbaring di Gunung Jabalkat yang berada di wilayah Desa Paseban, Kecamatan Bayat, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah ini tetaplah dipandang istimewa. Karena itu, makamnya nyaris tak pernah sepi dari peziarah.

AS kirim pesawat pengebom ke langit Korea Utara

Ada keyakinan bahwa siapa saja yang menjalankan laku ritial di tempat ini maka segala yang diharapkan akan terkabul. Dan keyakinan ini muncul tentu bukan tanpa sebab. Semua tentu tak bisa lepas dari kisah sosok Sunan Bayat yang semasa hidupnya dikenal sebagai orang yang kaya raya.

“Nama Sunan Bayat sebenarnya adalah Ki Ageng Pandanaran. Beliau adalah bupati Semarang yang pertama, yang semasa hidupnya dikenal sangat kaya,” papar Sambudi, salah satu juru kunci komplek makam Sunan Bayat.

Hanya saja karena kekayaannya itu, Ki Ageng Pandanaran akhirnya lupa diri. Dia begitu mendewa-dewakan harta. Tiap hari yang dilakukannya hanyalah mengumpulkan harta sebanyak mungkin. Salah satunya adalah dengan menaikkan pajak dari rakyatnya.

Sampai akhirnya di kemudian hari ada seorang pemotong rumput yang ingin menjual rumputnya. Bupati menerima namun dengan bayaran yang sangat murah sekali. Oleh laki-laki tua pemotong rumput hal ini tidak dipermasalahkan.

Makam Sunan Bayat di Bayat, Klaten. Foto: Klasik
Makam Sunan Bayat di Bayat, Klaten. Foto: Klasik

Setelah dibayar, sang bupati kemudian mencoba melihat rumput yang baru dibelinya itu. Dia senang karena rumput itu memang bagus kualitasnya. Namun alangkah terkejutnya dia, karena di dalam ikatan rumput terdapat beberapa keping emas.

Kontan saja hal ini membuat dia gembira. Bahkan kejadian itu berulang sampai beberapa kali. Namun pada suatu hari saat laki-laki tua menjajakan rumputnya, dia tidak mau dibayar. Dia hanya meminta supaya bedug masjid Kabupaten dibunyikan. Kontan saja hal ini membuat sang bupati marah, karena laki-laki itu dianggap telah melecehkan dirinya.

Melihat Ki Ageng Pandanaran marah, Laki-laki tua itu tenang saja. Bahkan dia kemudian mengatakan bahwa dia tidak butuh uang, kalau saja mau dia bisa mendapat emas yang lebih banyak hanya dalam satu cangkulan.

Ucapan itu semakin menambah geram dirinya. Sehingga dia lantas menyuruh laki-laki tua itu membuktikan ucapannya. Dan bila memang benar maka, dia bersedia mengabulkan permintaan laki-laki tua itu.

Dengan disaksikan para pejabat dan prajurit kadipaten, pria tua itupun meraih cangkul untuk membuktikan ucapannya. Dan ternyata benar. Dengan sekali cangkul tanah di pendopo terangkat dan terlihat bongkahan emas berkilauan.

“Bupati tertunduk menangis dan sungkem di bawah kaki laki-laki tua. Apalagi setelah mengetahui bahwa dia adalah Sunan Kalijaga, maka dia memutuskan untuk mengabdi sebagai murid. Dan Sunan Kalijaga mengatakan kalau sang bupati ingin jadi muridnya, maka dia harus menemuinya di Gunung Jabalkat. Karena itulah Ki Pandanaran kemudian memutuskan untuk meninggalkan rumahnya dan memilih menyusul Sunan Kalijaga untuk menebus segala dosa yang telah dilakukannya,” lanjut Sambudi.

Makam Sunan Bayat di Bayat, Klaten. Foto: Klasik
Makam Sunan Bayat di Bayat, Klaten. Foto: Klasik

Dalam perjalanannya menuju ke Gunung Jabalkat banyak ujian yang harus dihadapi Ki Ageng Pandanaran. Salah satunya adalah hadangan dua orang perampok yang pada akhirnya justru menjadi murid kesayangannya. Dua orang itu adalah Syeh Domba dan Syeh Kewel.

Tak hanya itu Ki Ageng Pandanaran juga sempat menjadi pembantu di sebuah warung srabi demi untuk menyambung hidup. Dan bahkan keberadaan Ki Ageng Pandanaran semakin meningkatkan rejeki dari si pemilik warung. Tiap hari dagangannya selalu habis diserbu pembeli, padahal sebelumnya tidak.

Dari situ akhirnya banyak orang yang beranggapan bahwa Sunan Bayat bisa membantu membuka pintu rezeki. Sehingga saat dia mulai mendirikan padepokan di Gunung Jabalkat, dari hari ke hari pengikutnya semakin banyak.

Bahkan karena keyakinan itu juga, hingga kini banyak para pedagang yang percaya kalau ada energi penglaris di makam Sunan Bayat. Sehingga mereka kerap datang untuk berziarah dan ngalap berkah di sana. (Dehan)

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close