Trending

Konon rasanya enak, UAS: Makan babi tidak selamanya haram

Baru-baru ini, Ustaz Abdul Somad atau UAS memastikan, memakan daging babi belum tentu haram. Sebab, ada momen tertentu yang membuat santapan tersebut menjadi halal. Lantas, bagaimana penuturan lengkapnya?

Banyak yang mengatakan—terutama dari kalangan nonmuslim, bahwa makanan olahan babi merupakan santapan lezat yang memiliki tekstur unik. Bahkan, laman VOX menempatkan daging babi sebagai daging terbaik di dunia, jauh melebihi daging sapi, kambing, maupun kerbau.

Meski demikian, bagi umat muslim, babi merupakan hewan yang haram dikonsumsi. Bahkan, larangan itu tertulis dengan jelas di kitab suci Alquran. Namun, menurut UAS, tak selamanya menyantap makanan tersebut haram, alias bisa saja halal di momen tertentu.

“Babi itu haram, tapi makan babi tidak selamanya haram,” ujar UAS saat menghadiri diskusi virtual bersama IDI, dikutip Minggu 18 Juli 2021.

Babi
Babi foto: Pixabay

Lebih jauh, dia menjelaskan, babi yang dipotong dengan menyebut nama Allah, tidak membuat dagingnya menjadi halal. Bahkan, saat dimasak di rumah makan muslim, makanan tersebut tetap haram dikonsumsi. Namun, ada satu momen yang membuatnya menjadi halal.

“Babi tidak bisa jadi halal. Babi dipotong atas nama Allah, tetap haram. Babi direndang atau digulai, tetap haram. Babi dimasak rumah makan muslim, juga haram. Tapi makan babi bisa halal. Nah, gimana ceritanya?” tuturnya.

UAS jelaskan kapan makan babi jadi halal

Penceramah berdarah Sumatera itu memastikan, menyantap daging babi bisa saja halal saat kondisi darurat. Misalnya, terjebak di tengah hutan, tersesat, dan tak menemukan makanan lain selain babi.

“Jadi, ketika masuk di dalam hutan, dan di dalam hutan itu tidak ada makanan, tidak ada pisang, tidak ada umbi-umbian. Sementara (saat itu) pilihannya hanya babi atau mati,” terangnya.

Sosok Ustadz Abdul Somad. Foto: Antara
Sosok Ustadz Abdul Somad. Foto: Antara

Jadi, perlu dipahami, makan daging babi hanya diperbolehkan saat momem darurat saja. Sebab, ketimbang harus kehilangan nyawa lantaran tak ada makanan lain, menyantap daging tersebut diyakini menjadi opsi terakhir yang bisa dipilih.

“Maka saat itu tidak boleh (umat Islam) pilih mati. Jadi, boleh makan babi karena (situasinya) darurat,” kata UAS.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close