Trending

Kronologi prajurit TNI AU injak kepala, versi mabuk malak atau versi makan tak sesuai, yang sahih?

Insiden dua prajurit TNI AU injak kepala orang asli Papua, Steven jadi perbincangan nasional. Nah salah satu yang jadi pertanyaan sebagian masyarakat adalah kronologi insiden itu. Versi TNI AU atau versi yang populer saat ini, orang Papua itu mabuk dan memeras warga pendatang yang berjualan. Mana ya kronologi TNI AU injak kepala yang sahih?

Tapi ada versi lainnya yang beredar lho. Versi satu ini orang asli Papua itu protes pesanan makanannya tidak sesuai dengan yang ia pesan, lalu Steven emosi lah. Yang benar yang mana sih ya?

Dua versi kronologi insiden prajurit TNI AU injak kepala

Prajurit TNI AU injak kepala orang Papua
Prajurit TNI AU injak kepala orang Papua. Foto Twitter @alfadlkl

Kronologi insiden dua prajurit TNI AU injak kepala orang Papua menjadi salah satu yang bikin orang penasaran. Kok bisa terjadi insiden yang menggetirkan batin kemanusiaaan itu ya.

Nah versi yang populer, kronologi insiden itu karena orang asli Papua tersebut dalam keadaan mabuk mau malakin warga pendatang yang berjualan.

Narasi versi populer ini, Steven mabuk dan memeras warga penjual bubur ayam dan rumah makan Padang Pariaman, dan pelanggan warung makan tersebut. Versi ini, Steven malakin duit dan menarik tangan pelanggan warung makan tersebut.

Dalam narasi versi kronologi yang populer ini, Steven sering ngelakuin aksi malakin warga kok.

“Info dari warga bahwa orang tersebut sering sekali melakukan hal yang sama dan juga sudah pernah diamankan oleh pihak berwajib serta belakangan diketahui pemilik rumah makan Padang Pariaman yang merupakan orang tua anggota TNI AU atas nama Serka Abdul Jabar, yang berdinad di Subdislitpers Dispamsanau,” tulis narasi versi populer ini yang beredar di media sosial dikutip Rabu 28 Juli 2021.

Pada versi ini, narasi yang ditonjolkan Steven mabuk dan malakin warga dan penjual. Kemudian diamankan dan dianiaya oleh dua prajurit TNI AU.

Bagaimana dengan versi lainnya, satu versi yang beredar insiden di Merauke itu tidak demikian lho.

“Peristiwa di Merauke, orang bisu yang datang membeli makan, tetapi tidak sesuai dengan permintaannya dia. Makanya dia tidak mau ambil, dan orang yang punya warung kebetulan pendatang, jadi lapor ke pihak militer/POM. Jadi mereka memperlakukan dia sewenang-senang,” demikian versi lain yang beredar.

Versi kronologi insiden TNI AU injak kepala
Versi kronologi insiden TNI AU injak kepala. Foto Twitter @onanpeyonid

Yang mana sih yang sahih ya Sobat Hopers? Semoga nanti ada keterangan lain yang bisa memperjelas versi yang paling sahih ya.

KSAU minta maaf

Versi kronologi insiden TNI AU injak kepala
Versi kronologi insiden TNI AU injak kepala. Foto Twitter @onanpeyonid

Gara-gara kelakuan Serda Dimas dan Pradan Rian itu dalam insiden salah paham antara di sebuah warung makan, di Merauke, Senin 27 Juli 2021, Marsekal TNI AU menyatakan penyesalan dan permohonan maaf.

Insiden yang diawali oleh keributan seorang warga yang diduga mabuk dengan pemilik warung, dan melibatkan dua anggota Pomau itu datang bermaksud melerai. Namun keduanya malah meringkus Steven di trotoar dan diinjak kepala Steven dengan sepatu lars lho. Kini tindak lanjut dari insiden itu akan ada penanganan petugas Lanud J.A Dimara Merauke.

Kedua oknum anggota Pomau Lanud Merauke, kini sudah ditahan dan dalam pengawasan Komandan Lanud J.A Dimara Merauke.

Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) Marsekal TNI Fajar Prasetyo menyampaikan permintaan maaf atas insiden tersebut.

“Saya ingin menyampaikan maaf terkait kejadian penganiayaan saudara kita, oleh anggota TNI AU di Merauke, selaku KSAU saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada seluruh saudara kita di Papua, khususnya warga di Merauke, terkhusus lagi kepada korban dan keluarganya,” kata KSAU.

Marsekal Fajar memastikan insiden penganiayaan itu terjadi karena kesalahan dari dua prajurit tersebut di lapangan. Tak ada perintah atasan untuk melakukan penindakan yang berlebihan itu.

“Hal ini terjadi semata-mata karena kesalahan dari anggota kami, tak ada niatan apapun juga, apalagi perintah kedinasan. Kami akan evaluasi seluruh anggota kami dan akan menindak tegas terhadap pelaku yang berbuat kesalahan. Sekali lagi saya menyampaikan permohonan maaf setinggi-tingginya, mohon dibukakan maaf,” Kata Marsekal Fajar.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close