Trending

Kualitas AHY sebagai Ketum dipertanyakan, ini alasan terselubung SBY sampai ikut campur

Terkait isu kudeta Partai Demokrat, kualitas Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Ketua Umum (Ketum) dipertanyakan oleh banyak pihak lantaran bapaknya yang juga mantan Ketum, Susilo Bambang Yudhyono (SBY) sampai turun gunung mengeluarkan sejumlah pernyataan.

Padahal SBY sendiri pada Maret 2020 silam memutuskan untuk purna tugas alias pensiun dari jabatannya sebagai Ketua Umum Partai Demokrat setelah selama kurang lebih tujuh tahun menjabat.

Lantas mengapa kini mantan Presiden RI tersebut ikut campur soal urusan isu kudeta Partai Demokrat? Apakah Ketua Umum AHY tidak sanggup mengatasi kasus tersebut?

Menanggapi pernyataan itu, Ketua Badan Komunikasi Strategis Partai Demokrat, Herzaky Mahendra mengungkapkan hal tersebut tidak benar lantaran sejak awal isu kudeta beredar, AHY sebagai Ketum langsung memimpin sejumlah penyelidikan, mulai dari perencanaan hingga kebijakan yang bakal dilakukan oleh Demokrat.

“Jelas tidak ya, tidak pas ini, konteksnya kita harus lihat dulu, bahwa dari awal sejak ada isu kudeta ini, mas AHY lah yang memimpin penyelidikan, kemudian perencanaan, dan persiapan apa saja yang harus dilakukan. Jadi beliau lah orkestranya, bagaimana kita menghadapi GPK (Gerakan Pengambil alihan Kepemimpinan) partai Demokrat ini,” kata Herzaky dalam acara televisi Apa Kabar Indonesia Malam, dikutip Hops pada Jumat, 26 Februari 2021.

Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono
Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono pidato soal kudeta di Partai Demokrat. Foto Instagram @pdemokrat | Kualitas AHY sebagai Ketum dipertanyakan, ini alasan terselubung SBY sampai ikut campur

Perihal SBY yang turun gunung dan ikut membantu AHY, Herzaky menegaskan bahwa selama ini Ketua Umum partai memang memiliki kewajiban untuk melaporkan segala masalah kepada Ketua Majelis Tinggi Partai yang kini dijabat oleh SBY.

Oleh sebabnya SBY sebagai salah yang berwenang sebenarnya bukan ingin menyelesaikan. Namun dia hanya ingin menepis segala berita hoaks yang menyeret namanya sebagai salah satu pihak yang mendukung Kongres Luar Biasa (KLB).

“Dalam perjalanannya, bagaimanapun kami kan harus melaporkan juga, sebagai Ketum beliau mesti melaporkan juga kepada Ketua Majelis Tinggi. Karena di partai kalo sudah urusan strategi, kita harus melaporkan juga kepada Ketua MTP,” ujarnya.

“Kenapa kemudian Pak SBY akhirnya setelah sekian lama berdiam diri kemudian beliau turun juga, sebenarnya bukan turun ya, beliau bukan mau menyelesaikan, tetapi beliau ini mau menegaskan, mau menepis semua berita hoaks bahwa beliau mendukung KLB,” sambungnya.

Mantan Presiden SBY. Foto: Ist.
Mantan Presiden SBY. Foto: Ist.

Terlebih SBY juga ingin menghalau sejumlah pernyataan dari pihak yang mengatasnamakan dirinya sebagai pendiri ataupun deklarator Demokrat. Pasalnya mereka merasa punya hak dan kewenangan untuk melakukan KLB partai bahkan merusak sejarah berdirinya Demokrat. Padahal, kata Herzaky merekalah yang sebenarnya merusak nama Demokrat.

Dalam pernyataan SBY beberapa waktu lalu, dia ingin meluruskan sejarah yang sempat dibelok-belokan oleh mereka.

“Kemudian dia juga mau menepis, pernyataan dari pihak yang menganggap dirinya pendiri, deklarator, dan menganggap lebih besar dan hebat dari partai Demokrat ini sendiri. Mereka merasa punya jasa, padahal dulu mereka juga yang merusak Partai Demokrat. Mereka berkoar-koar seakan punya hak untuk KLB, sehingga SBY ingin meluruskan sejarah karena dalam beberapa tahun ini banyak sekali sejarah yang dibelok-belokan,” tutur Herzaky.

Lebih lanjut, SBY sebagai tokoh nasional menyorot fenomena kemunduran demokrasi yang ada di tanah air. Pihaknya merasa bahwa angka kebebasan berpendapat saat ini menjadi yang terburuk selama 14 tahun terakhir.

Herzaky pun heran, mengapa kepedulian Demokrat terhadap demokrasi kerap disalah artikan oleh sejumlah pihak.

“Pak SBY juga punya konsen lain, yaitu adanya ketidak adilan. Ini ada isu besar di demokrasi kita, bahwa demokrasi kita ini menurun, angkanya terjelek dalam empat belas tahun terakhir. Kemudian kok partai Demokrat sebagai salah satu garda terdepan demokrasi juga ikut diaduk-aduk, apalagi mencatut nama Presiden Joko Widodo,” imbuhnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close