Trending

Kuntadhi: Wajah Gerindra yang sebenarnya itu Fadli Zon, posisinya ambigu dan banci

Pengamat sosial dan politik, Eko Kuntadhi mengatakan bahwa sebenarnya pesona Partai Gerindra tidak berbeda jauh dengan salah satu kadernya, yakni Fadli Zon. Bahkan dia menyebut Gerindra saat ini ambigu dan kewaria-wariaan alias banci.

Menurut Kuntadhi, penyaataan tersebut diucapkan bukan tanpa sebab. Hal itu lantaran pandangan dari sejumlah petinggi partai Gerindra yang selalu tidak sejalan.

Sebagai contoh sikap dari Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Fadli Zon yang dengan mati-matian membela keberadaan Front Pembela Islam (FPI). Sebaliknya, Rahayu Saraswati sebagai Wakil Ketua Umum Partai jusru mendukung langkah pemerintah dalam melarang ormas FPI.

Baca Lainnya

  • “Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Fadli Zon bereaksi keras, dia membela FPI mati-matian. Berbeda dengan Fadli, Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Rahayu Saraswati malah mendukung langkah pemerintah melarang FPI,” kata Kuntadhi dalam saluran YouTube CokroTV yang dikutip Hops pada Kamis, 7 Januari 2021.

    Sementara itu, kata Kuntadhi, sikap orang nomor satu di Gerindra, yaitu Prabowo Subianto yang kini duduk di kursi empuk pemerintahan sebagai menteri kabinet malah bungkan seribu bahasa.

    “Sejaknya sejak diangkat sebagai Menteri Pertahanan Kabinet Jokowi, suara Prabowo nyaris tak terdengar. Prabowo boleh saja jadi pendiam, tapi orang mau tahu, sebetulnya sikap Gerindra untuk FPI ini, yang asli itu yang mana? Apakah yang disuarakan Fadli atau yang disuarakan Saras?,” ujarnya.

    Prabowo ketika kampanye pilpres 2019 silam. Foto: Antara
    Prabowo ketika kampanye pilpres 2019 silam. Foto: Antara

    Kuntadhi menilai, sikap Gerindra yang bermain aman dan memihak ke dua belah pihak sekaligus ini merupakan strategi partai lantaran beberbagai faktor. Di antaranya, Waketum Gerindra Saras sengaja mendukung pemerintah sebab tidak enak hati dua kadernya telah dipilih menjadi menteri. Sedangkan Fadli memilih untuk mendukung FPI lantaran untuk menggaet suara dari massa mereka yang jumlahnya cukup banyak.

    Kendati demikian, secara pribadi Kuntadhi mengganggap bahwa sikap Gerindra yang sebenarnya yakni suara dari Fadli Zon bukan Rahayu Saraswati.

    “Kalau saya sih mudah membacanya, suara Sarah itu keluar karena enggak enak, Prabowo sama Sandi kan sudah masuk Kabinet Jokowi. Sementara di mata saya, sikap Gerindra yang asli, ya suara Fadli Zon itu, yang membela FPI habis-habisan. Saat pembubara HTI, Fadli juga melakukan pembelaan pada HTI habis-habisan juga,” tuturnya.

    “Itu sebagai strategi Gerindra untuk tetap mengumpulkan suara dan mempertahankannya. Fadli berposisi mempertahankan suara dari kelompok garis keras, sementara Saras dengan pernyataannya kemarin diharapakan mampu mengais-ngais suara kaum nasionalis,” lanjut Kuntadhi.

    Sandiaga Uno dan Prabowo Subianto. Foto: Antara
    Sandiaga Uno dan Prabowo Subianto. Foto: Antara

    Kuntadhi juga memprediksi, kedepannya masyarakat akan lebih pintar dan bijak dalam memilih dukungan politiknya. Masyarakat bakal lebih mudah memilah pandangan partai politik yang dianggap ambigu dan tidak jelas mendukung pihak mana, yang semacam inilah dukungannya akan ditinggal oleh banyak orang

    “Di masa depan saya yakin, parpol yang kelaminnya enggak jelas, yang sikapnya kewaria-warianan, yang ambigu, yang di sini bilang iya, di sana bilang iya. Di sini bilang enggak, di sana bilang iya atau enggak jelas kayak gitu. Lama-lama juga akan dicuekkin sama orang,” ungkapnya.

    Ketimbang tidak punya pendirian yang jelas seperti Gerindra, lebih baik sikap yang dipertahankan oleh PKS yang secara konsisten mendukung keberadaan sejumlah ormas terlarang. Oleh sebabnya dia menilai bahwa posisi Gerindra saat ini ambigu dan banci.

    “Tapi Gerindra posisinya ambigu dan banci,” tandasnya.

    loading...
    Topik

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *

    Back to top button
    Close