Unik

Makna lambang sila ke-4 Pancasila serta contoh dalam kehidupan sehari-hari

Lambang sila ke-4 Pancasila memiliki makna filosofis sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kelima sila Pancasila memiliki makna tersendiri yang menjadi pedoman kehidupan Bangsa Indonesia. Sila ke-4 berbunyi “Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan” dengan lambing kepala banteng pada bagian kanan atas perisai dengan berlatar warna merah.

Muslima Fest

Makna Lambang sila ke-4 Pancasila

Ada alasan mengapa banteng dipilih sebagai lambing sila ke-4. Pasalnya banteng dianggap sebagai hewan yang memiliki jiwa sosial tinggi dan suka berkumpul. Banteng juga hidup berkelompok di mana mereka akan saling menolong. Karena itulah mereka dikenal sebagai hewan yang kuat.

Hal ini sejalan dengan dasar sila ke-4 mengenai musyawarah. Di mana rakyat Indonesia dalam mengambil suatu keputusan bersama hendaknya dilakukan dengan cara berkumpul dan bermusyawarah. Selain itu, rakyat Indonesia akan kuat jika bersatu dengan rasa tolong menolong yang tinggi serta gotong royong.

Sila ke-4 juga merupakan penjelmaan dari dasar politik negara. Artinya, negara yang berkedaulatan rakyat menjadi landasan mutlak dari sifat demokrasi negara Indonesia.

Pancasila. Foto: Instagram
Pancasila. Foto: Instagram

Dikutip dari buku Suplemen Buku Ajar Pendidikan Pancasila karya Yulia Djahir, dilansir dari scribd.com, berikut makna sila ke-4:

– Mengutamakan kepentingan negara dan masyarakat

– Tidak memaksakan kehendak kepada orang lain

– Mengutamakan budaya bermusyawarah dalam mengambil keputusan bersama

– Bermusyawarah sampai mencapai konsensus atau kata mufakat diliputi dengan semangat kekeluargaan.

Contoh dalam kehidupan sehari-hari

Ada beberapa contoh sikap dalam mengamalkan sila ke-4 Pancasila. Berikut beberapa di antaranya.

Biasakan musyawarah

Dalam hidup bermasyarakat, segala keputusan yang menyangkut banyak orang harus dibuat secara musyawarah. Hal ini bisa dimulai dari keluarga, misalnya dengan mendiskusikan kegiatan di akhir pekan.

Lanjut ke sekolah, musyawarah bisa dilakukan ketika memilih ketua OSIS. Hal yang sama juga berlaku di lingkungan RT dan RW menyangkut kepentingan warga.

Tidak memaksakan kehendak

Dalam musyawarah setiap orang memiliki hak yang sama untuk mengutarakan pendapat. Jika suatu keputusan sudah diambil, maka peserta wajib mengikutinya meski sebenarnya dia tidak setuju dengan keputusan tersebut. Di sinilah sikap tidak memaksakan kehendak diperlukan.

Pun saat bermusyawarah, tidak boleh ada paksaan dari suatu pihak yang merasa lebih berhak daripada yang lain. Setiap keputusan yang diambil dalam musyawarah tidak boleh berdasarkan keterpaksaan.

Menerima pendapat orang lain

Tidak selamanya kita satu pemahaman dengan orang lain. Lumrah saja setiap pihak merasa pendapatnya lebih baik dan logis dibanding orang lain. Di sinilah pentingnya sikap menghargai pendapat orang lain. Hal itu berlaku untuk ide atau kritik. Jika kita dikritik sebaiknya menerima dengan lapang dada demi kepentingan bersama.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close