Trending

Manunggaling Kawulo Gusti Syekh Siti Jenar, menyatunya hamba dengan Tuhan

Banyak yang memperdebatkan ajaran Manunggaling Kawulo Gusti yang diusung Syekh Siti Jenar. Manunggaling Kawulo Gusti berisi ajaran tentang asal usul manusia di dunia.

Siapa Syekh Siti Jenar sebenarnya?

Syekh Siti Jenar menganggap bahwa Tuhan wujud yang tidak kasat mata itu dapat bersatu dengan dirinya sendiri. Konsep ini dalam tradisi sufisme kuno dikembangkan Al-Hallaj.

Dari berbagai sumber, menurut dia, diantara alam semesta, manusialah mahluk yang paling sempurna. Manusia di dunia ini akan selalu dihadapkan kepada dua hal yang saling berpasangan, yaitu (baik dengan buruk), (hidup dengan mati), dan begitu juga (pencipta dengan hambanya). Maka, orang yang meninggal pada dasarnya tidak mati, tetapi menyatu kepada Allah.

Hakikat kematian menurut Syekh Siti Jenar adalah pembebasan. Dengan kematian, manusia dibebaskan dari dunia yang kotor dan kejam.

Kehidupan yang nyata baru akan ditemukan setelah kematian, menghadapi pembebasan menuju kehidupan yang sesungguhnya. Itulah Manunggaling Kawulo Gusti.

Syekh Siti Jenar
Syekh Siti Jenar. Foto krjogja

Syekh Siti Jenar mendirikan Padukuhan Lemah Abang di Astana Japura yang berkembang dengan pesat. Banyak masyarakat yang tertarik dengan sistem pangajarannya. Dimana seorang murid dapat bertanya secara langsung.

Dalam waktu singkat murid-muridnya datang dari berbagai daerah. Mereka berasal dari Cirebon, Banten, Jawa Tengah, Jawa Timur, Kerawang dan Palembang. Padukuhan Lemah Abang makin terkenal dan menjadi besar.

Di antara beberapa pengikutnya, cukup berpengaruh. Bahkan banyakn kalangan bangsawan yang merupakan sisa-sisa pejabat di daerah bekas kerajaan Majapahit juga jadi muridnya. Salah satu pengikutnya adalah Ki Ageng Pengging (Ki Kebo Kenongo), yang merupakan keturunan dari Raja Kertabumi, raja terakhir Majapahit.

Ilustrasi Syekh Siti Jenar. Foto: bp.blogspot
Ilustrasi Syekh Siti Jenar. Foto: bp.blogspot

Kepada muridnya, Siti Jenar melarang mereka untuk iktikaf di kuburan, di gunung. Untuk apa mencari tempat lain karena Tuhan sendiri sudah ada di dalam diri manusia.

Siti Jenar mengajarkan bahwa pengikutnya bukan kawulo tapi orang sederajat yang kerjasama atau dalam bahasa arab atau islamnya musyarokah. Orangnya, masyarakatnya sederajat dengan ulama. Ya, Siti Jenar sudah berani memberikan materi tentang ilmu ma’rifat dan hakikat.

Para pengikut Syeh Siti Jenar tetap menganggap Manunggaling Kawula Gusti tidak menyimpang. Menurut mereka, Syekh Siti Jenar tidak pernah menyebut dirinya sebagai Tuhan.

Sidang para wali memutuskan hukuman pada Syekh Siti Jenar dalam Film Sunan Kalijaga (1985). Foto: Youtube.
Sidang para wali memutuskan hukuman pada Syekh Siti Jenar dalam Film Sunan Kalijaga (1985). Foto: Youtube.

Manunggaling Kawula Gusti bukan dianggap sebagai bercampurnya Tuhan dengan makhluk-Nya, melainkan Sang Pencipta adalah tempat kembali semua makhluk. Dengan kembali kepada Tuhannya berarti manusia telah bersatu dengan Tuhannya.

12 Jam dicecar polisi, Said Didu ngeles

Bagi para pengikutnya, Syekh Siti Jenar adalah wali, yakni orang yang mempunyai kedekatan dengan Tuhan dan menerima karunia-Nya, sehingga ia tidak lagi memiliki rasa cemas, dan tidak akan mengeluh lagi. Itu sebabnya saat dia dijatuhi hukuman mati, Siti Jenar menerimanya.(Dehan)

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close