News

Tragis! Kisah pasien corona 199 lewati kritis, 13 hari berjuang sampai halusinasi

Ini adalah cerita pasien corona yang sukses melewati masa kritis, usai 13 hari berjuang melawan maut. Namanya adalah Ben, pria berusia 55 tahun.

Ben adalah warga Singapura dengan kasus bernomor 199. Dalam riwayatnya, dia tak memiliki riwayat perjalanan ke negara yang terkena dampak. Walau begitu, kondisi yang dialaminya terbilang parah.

Baca Juga: Kelonggaran cicilan 1 tahun bikin bingung, pantas rakyat jengkel

Kata dokter, kebanyakan atau 80 persen pasien yang terinfeksi virus corona hanya menderita gejala ringan. Sedangkan lima persen masuk dalam kasus-kasus berat, dan Ben ini masuk dalam kelompok berat. Di mana dibutuhkan perjuangan ekstra untuk bertahan hidup.

Seperti apa kisah perjuangan pasien corona nomor 119 ini melewati masa kritis? Berikut ceritanya seperti disitat Asiaone, Selasa 31 Maret 2020.

Berawal demam 38 derajat

Penderitaan Ben dimulai pada 29 Februari. Kala itu dia mengalami 38 derajat celcius. Selain demam, dia tidak memiliki gejala lainnya.

Ben lantas pergi ke Rumah Sakit Alexandra, pada 1 Maret karena demam yang tak kunjung reda. Napasnya ketika itu masih normal. Dia kemudian diberi sertifikat medis, dan diminta pulang ke rumah.

Pada 5 Maret, segalanya berubah, kondisi tubuhnya memburuk begitu cepat, hingga para dokter mengkhawatirkan keadaannya. Meski dia mengatakan napasnya tidak terengah-engah, tapi tingkat saturasi oksigennya sangat rendah. Usai dites, Ben akhirnya dinyatakan positif terinfeksi covid-19.

Sadar akan menjadi buruk, Ben lalu mengirim pesan teks pada keluarga tentang kondisinya. Dia juga mengirim pesan teks pada seorang teman dekat untuk memberi tahu soal surat wasiat untuk keluarganya jika terjadi hal buruk.

“Jika sesuatu terjadi pada saya, tolong beri tahu keluarga saya tentang surat wasiat saya,” bunyi pesan Ben kepada teman dekatnya.

Setelah itu, dokter kemudian bergegas memberinya oksigen tingkat tinggi melalui masker oksigen. “Karena dia membutuhkan oksigen yang cukup banyak, kami memindahkannya ke ICU untuk pemantauan lebih dekat,” kata Dr Liew Mei Fong, kepala ICU Rumah Sakit Alexandra.

Menurut Dr Liew, demamnya naik dan turun, sementara paru-parunya semakin meradang dan kekurangan oksigen. Pada jam 6 sore, kondisi Ben semakin memburuk, dia telah menjadi pasien corona dengan masa status kritis.

Untuk membantunya tetap bernapas, Dr Liew lalu memasukkan tabung pernapasan yang terhubung ke ventilator, ke tenggorokannya melalui mulut. “Apa yang Ben hadapi adalah sindrom gangguan pernapasan akut, atau Ards, kondisi paru-paru yang parah dan penyebab umum kematian pada pasien Covid-19 yang kritis,” katanya lagi.

Kondisi Ben kian diperparah karena ada penyakit pemberat, seperti diabetes dan tekanan darah tinggi. Dokter lalu memakai Kaletra, kombinasi obat HIV yang dipercaya membantu mengobati pasien Covid-19.

“Ketika saya mendengar kata life support, saya hampir ketakutan,” kata Ben. “Pikiranku menjadi kosong untuk sementara waktu.”

Mulai berhalusinasi

Halusinasi dimulai ketika Ben hampir tidak sadar. Kejadian itu berlangsung sehari setelah tabung-tabung membantu tubuhnya.

“Ketika saya diintubasi, saya ingat terbangun di sebuah ruangan kantor yang tidak saya kenali,” katanya. “Itu menakutkan, aku tidak punya kendali. Aku tidak bisa keluar dari sana.”

Dalam satu ingatannya, pasien corona yang masuk dalam masa kritis itu mengaku melihat sebuah ruang kantor yang memiliki meja, lemari arsip, jam, dan tidak ada seorang pun di dalamnya. Dalam ingatan lain, walaupun tersadar, muncul sesorang dengan bahasa Korea berbicara padanya, namun dia tak mengerti apa arti bahasa tersebut.

“Aku mencoba memejamkan mata, tetapi aku tidak bisa menghindarinya,” kata Ben, yang mengalami halusinasi ini sambil dibius.

“Yang kupikirkan hanyalah oh tolong, aku hanya ingin keluar darinya, aku tidak bisa menerima kondisi ini!”

Dalam ingatan lainnya, ketika dia mencoba untuk tidur, tetapi setiap kali dia memejamkan mata, dia akan melihat spesies luar angkasa dari film Predators di seluruh kamarnya.

Terkait hal ini, Dr Liew mengatakan jika Ben menderita ICU delirium, kondisi umum pada pasien yang dalam masa kritis dan sedasi dosis tinggi.

“Jika mereka tidak dibius dengan benar, kita tidak akan bisa membebaskan mereka dari pekerjaan bernapas dengan ventilator, dan itu akan semakin memperburuk peradangan di paru-parunya.”

Akhirnya, setelah empat hingga lima hari, Dr Liew mengatakan bahwa ia dapat secara bertahap menyapih Ben dari bantuan pernapasan yang diberikan oleh ventilator serta sedasi.

“Aku ingat ditanya apakah ada rasa sakit dan aku bisa mengedipkan mataku,” kata Ben yang bilang saat itu tak bisa bicara.

“Saya harus mengatakan bahwa mereka sangat sabar. Saya ditanya berkali-kali dan akhirnya menunjuk tabung pernapasan. Saat itulah saya menyadari bahwa saya menjadi lebih baik karena saya bisa merespons perlahan kepada dokter atau perawat.”

Fase sembuh

Pada 21 Maret, Ben tak lagi memakai ventilator. Saat itu dia hanya diberikan obat dengan dosis lebih rendah. Dia juga diberi suplementasi oksigen yang lebih ringan melalui kanula hidung, sebuah alat yang memiliki dua cabang yang berada di dalam lubang hidung.

“Aku ingat aku mencoba mengatakan ‘terima kasih’ tetapi aku tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun,” kata Ben.

“Dokter memberi tahu saya bahwa pita suara saya terpengaruh sehingga perlu beberapa saat.”

Ingatannya hanyalah tentang halusinasi. “Aku bahkan tidak bisa mengingat apa yang terjadi setelah aku dirawat di rumah sakit,” katanya.

“Sejujurnya aku tidak menyadari betapa kritisnya kondisiku. Aku hanya mengetahui seberapa parah saya setelah perawat menceritakan, dan membaca pesan (pesan teks singkat) yang dikirim keluargaku. Satu pesan mengatakan kondisiku telah membaik tetapi aku tidak sadar.”

Setelah 13 hari berjuang melawan maut, Ben pun pulih. Dia mengaku sangat tersentuh dengan perawatan yang diterimanya sehingga dia bisa pulang ke rumah. Pada Jumat lalu, Ben pun menyempatkan diri ke Rumah Sakit untuk sekadar mengucapkan rasa terima kasihnya pada banyak staf RS.

Baca Juga: Haru! Kisah karyawan bank berjuang hadapi corona, 6 tabung nempel di tubuh

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close