Trending

Sederet masalah akibat Covid-19, mulai THR sampai IHSG terjun bebas

Sederet masalah akibat Covid-19 tak cuma dirahasakan pelaku usaha. Pemerintah pun merasakan bagaimana pusingnya memikirkan THR sampai IHSG yang terjun bebas.

Ditolak! Iran ngaku tak sudi terima bantuan AS soal corona, begini katanya

Sejak mewabahnya Covid-19 di Indonesia, pemerintah melakukan berbagai macam upaya untuk menanggulanginya. Salah satu yang diterapkan adalah imbauan untuk bekerja, belajar dan beribadah dari rumah. Namun, hal ini tidak cukup untuk mengurangi dampaknya.

Hingga hari ini, jumlah kasus positif Covid-19 mencapai 2.419 orang. Pasien yang dirawat sebanyak 2.090 orang. Untuk kasus meninggal mencapai 209 orang, sedangkan pasien yang sembuh sebanyak 192 orang.

Indonesia menjadi salah satu Negara yang cukup terpukul. Sederet masalah akibat Covid-19 sudah di depan mata. Mulai dari aktivitas sosial hingga ekonomi mulai terganggu.

Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menambah alokasi belanja dan pembiayaan dalam APBN 2020 sebesar Rp 405,1 triliun. Penambahan ini sebagai langkah antisipasi anjloknya ekonomi Indonesia di tengah wabah Covid-19. Alokasi dana itu diatur dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan.

Dengan rincian, dana kesehatan sebesar Rp 75 triliun, jaring pengaman sosial atau social safety net Rp 110 triliun, insentif perpajakan dan stimulus stimulus kredit usaha rakyat Rp 70,1 triliun serta pembiayaan program pemulihan ekonomi nasional Rp 150 triliun.

Saat ini, sederet masalah ekonomi akibat Covid-19 juga menghantui pemerintah.

Berikut masalah akibat Covid-19:

THR dan gaji ke 13 PNS ditunda

PNS mengikuti simulasi gerakan cuci tangan. Foto: Antara/Adeng Bustomi
PNS mengikuti simulasi gerakan cuci tangan. Foto: Antara/Adeng Bustomi

Presiden Joko Widodo tengah melakukan beberapa pertimbangan terkait pembayaran gaji ke-13 dan tunjangan hari raya (THR) untuk aparatur sipil negara (ASN) atau PNS di tengah pandemik virus corona (Covid-19). Hal ini disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Sri Mulyani mengatakan, pertimbangan pembayaran gaji ke-13 tersebut terkait dengan belanja pemerintah yang mengalami tekanan. Sebab, pemerintah secara jor-joran menggelontorkan insentif kepada dunia usaha serta bantuan sosial untuk meredam dampak virus corona.

Sri Mulyani menjelaskan, akibat pandemik virus corona, pendapatan negara diperkirakan akan mengalami kontraksi hingga 10 persen. Dengan perekonomian yang diperkirakan hanya tumbuh 2,3 persen hingga akhir tahun, penerimaan negara hanya mencapai Rp 1.760,9 triliun atau 78,9 persen dari target APBN 2020 yang sebesar Rp 2.233,2 triliun.

Di sisi lain, Sri Mulyani mengatakan, belanja negara akan mengalami lonjakan dari target APBN 2020 yang sebesar RP 2.540,4 triliun menjadi Rp 2.613,8 triliun. Hal tersebut menyebabkan defisit APBN yang tahun ini ditargetkan sebesar 1,76 persen dari PDB atau sebesar Rp 307,2 triliun melebar menjadi Rp 853 triliun atau 5,07 persen dari PDB.

Cadangan devisa tergerus

Bank Indonesia (BI) melaporkan cadangan devisa per akhir Maret 2020 sebesar US$ 121 miliar. Turun dibandingkan bulan sebelumnya yaitu US$ 130,4 miliar. Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 7,2 bulan impor atau 7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai bahwa cadangan devisa saat ini lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.

Penurunan cadangan devisa antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah dan keperluan stabilisasi nilai tukar rupiah di tengah kondisi yang di luar normal (extraordinary) karena kepanikan di pasar keuangan global dipicu pandemi COVID-19 secara cepat dan meluas ke seluruh dunia. Kepanikan pasar keuangan global dimaksud telah mendorong aliran modal keluar Indonesia dan meningkatkan tekanan rupiah khususnya pada minggu kedua dan ketiga Maret 2020.

APBN tekor

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memperkirakan penyebaran wabah Covid-19 yang terjadi belakangan ini berpotensi menggerus pendapatan negara. Karena penurunan pendapatan tersebut, defisit APBN 2020 diperkirakan akan membengkak menjadi Rp 853 triliun atau 5,07 persen dari PDB.

Berdasarkan proyeksi yang dibuat Kementerian Keuangan, pendapatan negara yang dalam APBN 2020 diproyeksikan bisa mencapai Rp 1.760,9 triliun akan turun sampai dengan 10 persen akibat wabah tersebut. Penurunan dipicu oleh beberapa faktor, salah satunya, pelemahan pendapatan di sektor perpajakan.

Selain itu penurunan pendapatan juga dipicu oleh pemberian berbagai macam fasilitas perpajakan bagi dunia usaha supaya mereka bisa terlepas dari tekanan dampak virus corona. Selain dipicu faktor tersebut penurunan juga dipicu oleh pelemahan harga minyak dunia belakangan ini. Pelemahan tersebut kata Sri Mulyani berpotensi menekan Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) sampai dengan 26,5 persen.

IHSG terjun bebas

IHSG anjlok akibit Covid-19. Foto: Antara/Galih Pradipta
IHSG anjlok akibit Covid-19. Foto: Antara/Galih Pradipta

Indeks harga saham gabungan (IHSG) sepanjang triwulan pertama 2020 ini rontok 27,94% ke level 4.538,93. Pemicunya tak lain adalah sentimen penyebaran wabah corona yang statusnya telah menjadi pandemi, karena sudah menyebar di 180 negara di dunia. (Saugy Riyandi)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close