Trending

Masyarakat diminta selektif memilih lembaga untuk salurkan dana sosial, ‘ada yang digunakan untuk danai pergerakan terorisme!

Modus pengumpulan dana dengan mengatasnamakan donasi sosial di Indonesia ternyata dimanfaatkan untuk mendanai pergerakan terorisme. Hal ini dibuktikan dengan kasus di Lampung pada akhir tahun 2020 lalu. Kondisi ini dikupas oleh Program studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI).

Diungkap Ketua Program Studi Kajian Terorisme SKSG UI Muhamad Syauqillah, pada akhir tahun 2020 ditemukan 13 ribu kotak amal yang memiliki relasi dengan jaringan teroris.

Ketua Program Studi Kajian Terorisme SKSG UI Muhamad Syauqillah. Foto: SKSG UI

“Masyarakat harus lebih berhati-hati dalam memilih lembaga tempat penyaluran dana sosial, agar dana yang disalurkan tidak disalahgunakan sebagai salah satu sumber pendanaan kegiatan terorisme,” ujar Syauqillah dalam peluncuran buku berjudul “Pendanaan Terorisme di Indonesia” yang dibuat oleh Program studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI) di Kanal YouTube Kajian Terorisme SKSG UI Official pada Jumat (16/7/2021) yang dilihat Hops.id, Jumat (23/7/2021).

Wakil Direktur SKSG Eva Achjani mengungkapkan, pendanaan pergerakan terorisme dapat didefinisikan sebagai segala perbuatan dalam rangka menyediakan, mengumpulkan, memberikan, atau meminjamkan dana baik langsung maupun tidak dengan maksud untuk dipergunakan melakukan kegiatan terorisme, organisasi teroris, atau teroris.

“Pendanaan kegiatan pergerakan terorisme ini dapat dilakukan secara terselubung dalam bentuk infak, sedekah, zakat, dan dalam bentuk penggalangan dana sosial lainnya,” ungkap Eva.

Benny Mamoto selaku Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional yang juga menulis buku ini menuturkan, modus donasi sosial ini dapat dilakukan kelompok teroris dengan cara membangun jaringan dan kerja sama pada tingkat lokal, regional, dan internasional.

Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional Benny Mamoto. Foto: SKSG UI

“Target sasaran kegiatan terorisme selalu mempunyai kriteria penilaian tertentu, diantaranya jumlah personel, keadaan wilayah dan penduduk, kelompok etnis, dan orang-orang yang bisa memberi tempat aman dan pembelaan,” ujar Benny Mamoto.

Garnadi Walanda yang juga menjadi penulis buku ini memaparkan mekanisme penggalangan dan pengelolaan dana diantaranya adalah ajakan kegiatan agama dan penyebaran ajaran Islam dan jihad ke daerah-daerah konflik Poso dan Maluku, kotak amal masjid, pendapatan dari klinik penyembuhan Islam, donasi pribadi, far’i, dan kiriman dana dari lembaga kemanusiaan di Timur Tengah, pengelolaan dana, penyaluran bantuan kemanusiaan untuk kegiatan jihad di Aceh, Poso, dan Maluku, pembelian senjata dan bahan peledak.

Sementara itu, Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Brigjen. Pol. Achmad Nurwakhid, menuturkan bahwa kegiatan terorisme tidak lepas dengan adanya radikalisme. Jaringan teroris dengan nilai radikalismenya memiliki tujuan dan visi yang sama, yaitu ingin mendirikan negara dengan sistem khilafah.

Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Brigjen. Pol. Achmad Nurwakhid. Foto: SKSG UI

“Buku ini dapat dijadikan pedoman sebagai pencegahan agar masyarakat tidak terjebak dalam ranah terorisme,” kata Achmad.

Peluncuran buku berjudul “Pendanaan Terorisme di Indonesia” ini dilakukan oleh Program studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Stratejik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI). Buku yang berisi problematika pendanaan terorisme di Indonesia dengan menggunakan pendekatan studi kasus ini disusun oleh tim yang terdiri dari enam orang, yaitu Benny Jozua Mamoto, Muhamad Syauqillah, Sapto Priyanto, Garnadi Walanda, Albert Bobby Prasetya, dan Prihandoko.

Muhammad Syauqillah menuturkan, buku tersebut merupakan sebuah bentuk kontribusi SKSG UI bagi masyarakat. “Buku ini memberikan edukasi kepada masyarakat tentang modus apa saja yang digunakan oleh organisasi teroris untuk dapat mendanai kegiatan mereka dan dapat mengantisipasi juga menyadarkan masyarakat untuk memberikan donasi pada lembaga yang kredibel,” papar Syauqillah.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close