Fit

Membongkar sejarah awal mula kemunculan warteg, si penyelamat perut rakyat

Warung tegal atau yang biasa kita kenal dengan Warteg merupakan rumah makan sederhana yang menyajikan makanan khas rumahan. Namun sedikit yang tahu kalau warteg menyimpan sejarah yang besar.

Diketahui warteg merupakan warung yang menjual berbagai jenis makanan, seperti ikan goreng, ayam goreng, orek tempe, telur goreng, sayur kangkung, hingga sejumlah makanan pelengkap lain.

Ada pula lauk wajib yang rasanya tak pernah absen dari menu hidangan di warteg, apa lagi kalo bukan aneka gorengan tempe, tahu, dan bakwan.

Harga makanan yang dijual warteg pun terkenal dengan kemiringannya alias murah meriah. Makanya tak heran apabila rumah makan ini selalu ramai diserbu pembeli, terutama di jam-jam istirahat kantor.

Baca juga: Menelusuri siapa sebenarnya nenek moyang orang Indonesia

Soal rasa, tampaknya tak akan kalah dengan restoran mewah lainnya. Lalu, kira-kira bagaimana ya sejarah perkembangan warteg? Yuk simak kisahnya.

Tiga desa pelopor warteg

Dari informasi yang dihimpun redaksi, Rabu 10 Juni 2020, sesuai dengan sebutannya, sejarah warung Tegal alias warteg berasal dari salah satu daerah di Provinsi Jawa Tengah, yaitu Tegal.

Ilustrasi warteg. Foto: Momoka Bahari.
Ilustrasi warteg. Foto: Momoka Bahari.

Konon, sejarah lahirnya warteg ini dipelopori oleh tiga desa utama yaitu Desa Sidapurna, Desa Sidakaton, dan Desa Krandon.

Pada awalnya, masyarakat dari tiga desa tersebut mengelola warung makan secara bergantian, bahkan umumnya mereka masih memiliki garis keturunan yang sama.

Meski tidak ada yang tahu pasti sejarah sejak kapan warteg pertama kali berdiri di Jakarta. Namun beberapa sumber mengatakan, warteg mulai muncul di Ibu Kota DKI Jakarta sekira tahun 1950an. Tepatnya ketika Republik Indonesia Serikat yang baru terbentuk harus dibubarkan, akibatnya terjadi perpindahan Ibu Kota Republik Indonesia, dari Yogyakarta menuju ke Jakarta.

Pada tahun-tahun itu, Soekarno sebagai presiden Republik Indonesia mulai membangun Jakarta sebagai Ibu Kota baru. Sebagai arsitek sekaligus RI nomor satu, Soekarno merancang langsung bangunan-bangunan yang akan mengisi Jakarta, seperti Monas, Jembatan Semanggi, Tugu Pembebasan Irian, dan beberapa ruas jalan lainnya.

Adanya pembangunan secara besar-besaran itu, menyebabkan terjadinya imigrasi mendadak yang rata-rata dilakukan oleh orang-orang di Jawa.

Ketika dalam tahap pembangunan inilah, para pekerja proyek megastruktur tersebut banyak yang mencari makanan di sekitar wilayah proyek. Melihat peluang itu, sebagian orang Jawa memanfaatkannya dengan menjual makanan sederhana dengan harga merakyat.

Sebutan nama warteg

Diketahui, sebagian mayoritas penjual warung makan ini berasal dari Tegal, seiring berjalannya waktu disebut sebagai warung Tegal atau disingkat warteg.

Pembangunan tugu monas di Jakarta Pusat. Foto: Twitter/@rizkidwika

Di awal kemunculannya, warteg hanya menyajikan makanan untuk kalangan ekonomi kelas bawah terutama buruh kasar seperti kuli bangunan. Karena dikenal harganya yang merakyat dan tak membuat dompet melarat, ditambah porsinya yang cukup menjanjikan, warteg dapat dengan mudah diterima banyak kalangan.

Oleh sebab itu, tak heran jika warteg di berbagai kota besar dapat berkembang dengan sangat pesat. Bahkan saat ini warteg digadang-gadang termasuk ke dalam bisnis dengan laba usaha yang tinggi dan menjanjikan. (re2)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close