Trending

Membongkar sejarah PLN di tengah tagihan listrik yang melonjak

Belakangan masyarakat dikagetkan tagihan listrik yang tiba-tiba melonjak naik. Ternyata sejarah PLN telah menjadi saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia.

Adanya lonjakan tagihan listrik ini menjadi tanggung jawab Perusahaan Listrik Negara (PLN) sebagai perusahaan Badan Usaha Milik Negara yang mengurusi semua aspek kelistrikan yang ada di Indonesia. Sebagai perusahaan listrik terbesar di Indonesia, ternyata keberadaan PLN telah menjadi salah satu saksi bisu perjuangan rakyat Indonesia dalam melawan penjajahan.

Seakan tak mau ketinggalan, dalam sejarah PLN, perusahaan listrik ini telah menemani asam garam tokoh-tokoh bangsa hingga mencapai kemerdekaan. Keberadaan listrik sangat membantu komunikasi para pejuang pada masa itu, mereka menggunakan stasiun radio dalam mendapat informasi dan mengobarkan semangat para pejuang.

Baca juga: Membongkar sejarah awal mula kemunculan warteg, si penyelamat perut rakyat

Bayangkan jika tak ada listrik, Sutan Syahrir tentu tak akan bisa mengetahui dengan cepat soal kabar kekalahan Jepang dalam perang Asia Pasifik, lalu bagaimana cara Arek-Arek Suroboyo mendapat pecutan semangat dari Bung Tomo dalam pertempuran 10 November 1945. Lantas bagaimana perkembangan perusahaan listrik di Indonesia?

Yuk simak sejarah PLN di sini!

Listrik mulai masuk ke wilayah Indonesia ketika masih disebut sebagai Hindia Belanda tepatnya pada tahun 1897. Perusahaan listrik pertama yang menyediakan listrik ini bernama Nederlandche Indische Electriciteit Maatschappij (NIEM).

Pada awalnya, perusahaan listrik milik Belanda ini membangun Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Gambir, tepatnya di sekitaran tepi Sungai Ciliwung. Ketika rampung dibangun, fungsi utamanya ialah memasok kebutuhan listrik di sekitar Batavia (Jakarta).

Kantor perusahaan listrik Belanda di Semarang. Foto: kotatoeamagelang.wordpress.com
Kantor perusahaan listrik Belanda di Semarang. Foto: kotatoeamagelang.wordpress.com

Selanjutnya pada tahun 1909, NIEM mengekspansi perusahaannya ke Jawa Timur, kali ini ia menggunakan nama yang berbeda yaitu Nederlandsche Indische Gas Maatschappij (NIGM). Sesuai dengan namanya, cabang NIEM di Surabaya ini pada awalnya merupakan perusahaan gas, namun dalam perkembangannya mereka juga mendirikan anak perusahaan bernama Algemeene Nederlandsche Indische Electriciteit Maatschappij (ANIEM) yang diberi wewenang untuk membangun beberapa pembangkit listrik dan medistribusikannya ke sejumlah kota besar di Jawa.

Masih pada tahun yang sama, di tanah Jawa Barat, Belanda membangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) dengan nama Waterkrachtwerk Pakar aan de Tjikapoendoengnabij Dago. PLTA yang berada di Bandung ini bergerak dengan mengandalkan Sungai Cikapundung dengan kekuatan 800 KW.

Kantor ANIEM di Surabaya pada 1930-1931. Foto: Wikipedia
Kantor ANIEM di Surabaya pada 1930-1931. Foto: Wikipedia

Perkembangannya anak perusahaan ini pun terbilang pesat, bahkan di tahun 1921 mereka mendapat konsensi di Banjarmasin. Lebih lanjut, ANIEM juga mendapat mandat untuk mengelola listrik di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Kaliamantan.

Agar kinerja perusahaan menjadi lebih efektif dalam segi produksi, ANIEM membuat kebijakan di beberapa daerah otonom dengan sistem desentralisai distribusi yakni membentuk anak perusahaan lainnya di luar Pulau Jawa seperti Sumatera, Bali, Sulawesi, hingga Maluku.

Memasuki tahun 1942, ketika Jepang berhasil mengalahkan Belanda di tanah Hindia Belanda, mereka mengambil alih kekuasaan pemerintah, termasuk perusahaan listrik milik Belanda. Setelah berganti kepemilikan, Jepang mengganti nama perusahaan listrik tersebut menjadi Jawa Denki Jigyosha Djakarta Shisha. Seiring berjalannya waktu, perusahaan tersebut berganti nama lagi menjadi Djawa Denki Djigjo Sja dan menjadi salah satu cabang perusahaan listrik dari Hosjoden Kabusiki Kaisja yang berada di Tokyo.

Peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Foto: pustakapengetahuan.com
Peristiwa bom atom Hiroshima dan Nagasaki. Foto: pustakapengetahuan.com

Setelah Jepang dikalahkan oleh Amerika dalam perang Asia Pasifik dengan menjatuhkan bom atom bernama Little Boy di Kota Hiroshima dan Nagasaki. Posisi Jepang di wilayah Asia Tenggara pun semakin terpuruk. Ketika mendengar kabar tersebut, sejumlah tokoh nasional tak butuh waktu lama, mereka langsung memproklamasikan kemerdekaan Indonesia yang diwakilkan oleh dua tokoh proklamator, Soekarno dan Mohammad Hatta. Agar perusahaan listrik ini tidak kacau, akhirnya pada 25 Oktober 1945 pemerintah membentuk Djawatan Listrik dan Gas Bumi yang bertugas menjaga pasokan listrik di Indonesia yang baru saja lahir.

Tak lama berselang, pada 13 Oktober 1953, Soekarno mengeluarkan Kepres RI Nomor 163 yang berisi tentang nasionalisasi perusahaan listrik milik Belanda. Akhirnya pada tahun 1958 pemerintah secara resmi menerbitkan UU Nomor 86 tahun 1958 sebagai dasar yang menetapkan bahwa semua perusahaan milik Belanda dibawah penguasaaan Pemerintah Republik Indonesia.

Soekarno ketika berpidato. Foto: neounique.blogspot.com
Soekarno ketika berpidato. Foto: neounique.blogspot.com

Setahun kemudian dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor 18 tahun 1959, yang menasinalisasikan perusahaan listrik tersebut dengan nama Pengusaha-pengusaha Perusahaan Listrik dan Gas (P3LG). Hal inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Perusahaan Listrik Negara (PLN) yang saat ini kita kenal sebagai perusahaan milik BUMN yang menyediakan listrik di Indonesia. (hsp)

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close