Trending

Mengapa banyak korban pelecehan seksual tak berani melawan?

Selama sepekan terakhir, publik masih terus membahas kasus ‘fetish kain jarik’ yang menyeret mahasiswa kampus negeri di Jawa Timur. Banyak yang kemudian bertanya-tanya: mengapa korban pelecehan seksual cenderung pasif dan tak berani melakukan perlawanan?

Pada kasus ‘fetish kain jarik’ itu, salah satu korban yang berani bersuara mengaku, tak bisa menolak apa yang diperintahkan pelaku. Padahal, dengan mendengar atau membacanya saja, dia seharusnya sudah tahu bahwa permintaan pelaku terasa aneh dan tak masuk akal. Namun, hal yang bisa dia lakukan justru patuh.

Baca juga: Sepak terjang Pinangki Sirna Malasari

Sebagai penyintas, banyak yang mengaku mengalami kelumpuhan sementara ketika pelecehan seksual itu terjadi. Bahkan, sudah sejak lama para peneliti mengatakan, mereka yang menjadi korban bakal mengalami kondisi shock sehingga sulit bergerak apalagi melawan.

Ilustrasi tonic immobility. Foto: NDTV.

Disitat dari Scientificamerican, Senin 3 Agustus 2020, hampir seluruh perempuan yang selamat dari kasus pelecehan seksual dan mengunjungi klinik khusus untuk korban pemerkosaan di Stockholm, Swedia, mengaku, saat tubuhnya sedang digerayangi, mereka tak kuasa melawan. Bahkan, untuk menjerit saja rasanya sulit.

Saat berada dalam ‘kendali’ pelaku, tubuh korban mengalami kelumpuhan sementara atau tonic immobility (imobilitas tonik). Mereka yang mengalami kondisi tersebut dua kali lebih besar kemungkinannya menderita post-traumatic stress disorder (PTSD) atau gangguan stress pasca trauma. Selain itu, mereka bakal mengalami depresi panjang.

Secara sederhana, tonic immobility adalah kondisi yang membuat tubuh manusia kaku atau terkunci sementara. Tangan dan kaki yang seharusnya bisa digunakan untuk menghajar pelaku, mendadak tak bisa digerakkan. Mulut yang semestinya bisa menghasilkan jeritan, justru terkatup dan sulit sekali terbuka.

Ilustrasi tonic immobility. Foto: stuff.co.nz

Sebenarnya, tonic immobility juga terjadi pada hewan. Reaksi tersebut dianggap sebagai pertahanan adaptif evolusioner terhadap serangan predator ketika bentuk pertahanan lain tidak optimal.

Psikiater di University of Sydney, Kasia Kozlowska mengatakan, saat pelecehan seksual terjadi, korban sebenarnya berpikir bisa melawan atau menolak. Namun, pada akhirnya, mereka tak bisa melakukan apa-apa karena tubuh kadung terkunci.

“Makanya saya tidak terkejut bahwa imobilitas tonik umum terjadi,” ujar Kozlowska.

Memperdaya korban dengan relasi kuasa

Pada kasus ‘fetish kain jarik’, si korban tak bisa menolak permintaan pelaku karena menggunakan relasi kuasa, yakni memposisikan diri lebih tinggi dari korban, selalu mencari kesalahan korban, hingga mempermainkan rasa empati korban. Minimal, dikutip dari Okezone, hal itu yang disampaikan pakar psikologi sosial, Dr. Ade Iva Wicaksono.

“Kalau saya baca thread-nya, cara komunikasi dia memang dominan, memaksa orang untuk tunduk. Kedua, persoalan status. Korbannya itu banyak MABA yang dia kejar. Budaya kita, Maba itu kan harus tunduk kepada kakak tingkatnya.”

“Dia juga sampai maksa dan mengancam, pakai alasan, ‘saya kenal kating kamu’ ketika korban menolak atau mengabaikan permintaanya,” kata Ade.

Topik

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close