Fit

Meninggal dunia, ini 4 karya terbaik Sapardi Djoko Damono

Penyair kondang Tanah Air, Sapardi Djoko Damono menghembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan, pada Minggu pagi, 19 Juli 2020. Menurut keterangan, ia meninggal lantaran penurunan fungsi organ.

Semasa hidup, Sapardi menyerahkan tubuh dan pikirannya secara utuh untuk sastra. Berbagai karya sudah ia hasilkan, mulai dari kumpulan puisi hingga novel trilogi. Hebatnya, hampir seluruhnya mendapat pujian dari pengamat literasi dunia. Maka tak heran, jika dirinya kerap menghadiri berbagai forum atau pertemuan internasional.

Baca juga: Youtuber pemula dengan 1.000 subscriber bisa dapat duit segini

Menurut penuturan kerabat terdekat, di usia senjanya, Sapardi masih terus menulis. Jemarinya bergerak lebih lihai di jam-jam ketika orang lain sedang terlelap. Kata dia, dengan merangkainya menjadi tulisan, maka kisah yang dilaluinya menjadi abadi.

Bagi kalian yang belum mengenal betul siapa Sapardi Djoko Damono, berikut empat karyanya yang wajib kalian punya dan baca.

Hujan Bulan Juni

Buku Hujan Bulan Juni. Foto: Gramedia

Ada yang bilang: Juni merupakan bulan perayaan Sapardi. Sebab, ia besar melalui puisi yang mengangkat fenomena hujan di bulan tersebut. Namun, antara Juni dan Sapardi tak hanya berhenti di situ, kebersamaannya berlanjut melalui medium yang berbeda.

Setelah sukses sebagai puisi, ‘Hujan Bulan Juni’ digubah ulang menjadi salah satu novel trilogi. Buku itu mengisahkan perjalanan cinta tokoh bernama Sarwono dan Pingkan. Menariknya, utasan puisi sebelumnya, ia sisipkan juga ke dalam novel tersebut.

Buku yang telah ditranslasikan ke dalam bahasa Inggris, Mandarin, Jepang, dan Arab itu, bahkan sempat diadopsi ke layar lebar. Tapi sayangnya, banyak pihak mengaku lebih menyukai versi novelnya.

Yang Fana adalah Waktu

Buku ‘Yang Fana adalah Waktu’ karya Sapardi Djoko Damono. Foto: Gramedia

Buku ini merupakan bagian dari novel trilogi yang dibesut Sapardi. Sehingga, isinya masih banyak berkisah tentang Sarwono dan Pingkan. Sebenarnya, apa yang ia sampaikan melalui karyanya ini sangat sederhana. Namun, seperti yang sudah-sudah, kesederhanaannya itu yang justru membuatnya mudah dicintai.

Hebatnya, karya ini membuat Sapardi diganjar penghargaan dalam Anugerah Buku ASEAN 2018 di Malaysia. Menurut para panelis profesional, apa yang telah dikerjakan Sapardi merupakan sastra bermutu tinggi.

Perahu Kertas

Perahu Kertas karya Sapardi Djoko Damono. Foto: Goodreads

Mungkin sebagian orang tak banyak mengenal karya Sapardi bernama Perahu Kertas. Namun, buku ini memiliki peran besar dalam perjalanan karirnya sebagai penyair. Di dalamnya, ia menumpahkan perasaan bahagia, patah, hingga marah melalui kalimat sederhana tapi kuat.

Aku berdiri jenuh di tepi waktu

Senandung gamang berlarik menjadi kepalan debu

Jariku yang salah, buta melipat aksara

Jika Aku mengemis kepada mata yang menatap punuknya

Akulah yang hidup…

Terdalam, terkandas, kabari Aku.

Manuskrip Sajak Sapardi

Buku Manuskrip sajak Sapardi. Foto: Gramedia

Tiga tahun lalu, Manuskrip Sajak Sapardi juga lahir mewarnai kebutuhan literasi Indonesia. Buku ini disebut-sebut sebagai harta karun yang berharga.

Pada buku ini, terdapat corat-coret sajak Sapardi semasa muda hingga dewasa. Seluruhnya disajikan serupa album kolase gambar yang dibagi dalam periode tahunan, yakni mulai dari 1958 hingga 1968.

Beda dari karya atau buku yang sudah ‘matang’, pada Manuskrip Sajak Sapardi ini kita dapat melihat sajak-sajak indah Sapardi yang spontan, mengalir apa adanya sebelum lahir dalam bentuk buku. Ia berharap, artefak ini bisa menjadi bahan studi atau rujukan dalam pembelajaran sastra di Indonesia. (re2)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close