Trending

Minta SBY bentuk partai baru, kubu Moeldoko malu-maluin halusinasi

Partai Demokrat kubu Moeldoko terus mencari sensasi selepas ditolak pemerintah. Kekinian kubu Moeldoko menyarankan SBY untuk buat partai baru. Sensasi kubu Moeldoko ini dinilau tanda kubu ilegal itu terpapar virus halusinasi.

Sensasi dari kubu Moeldoko ini dibalas kubu Partai Demokrat pimpinan AHY dengan sindiran telak lho.

Kubu Moeldoko halusinasi

Juru Bicara Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB), M Rahmad. Foto: YouTube/Medcom
Juru Bicara Partai Demokrat versi Kongres Luar Biasa (KLB), M Rahmad. Foto: YouTube/Medcom

Deputi Bappilu DPP Partai Demokrat Kamhar Lakumani menyoriti komentar dari juru bicara KLB Demokrat Deli Serdang, Muhammad Rahmad yang menyarakan SBY membentuk partai politik baru.

Kamhar merasa heran dengan jalan pikir kubu Moeldoko, sudah jelas KLB ditolak pemerintah tapi kok masih cari sensasi segala.

Kamhar pun meminta kubu Moeldoko agar tidak lagi menggunakan atribut Partai Demokrat yang jelas adalah masih status quo dalam kepemimpinan AHY.

Kamhar pun meminta agar kubu Moeldoko untuk setop menyampaikan sensasi yang malah mempermalukan mereka sendiri.

“Jika normal dan waras semestinya malu. Bukannya terus menerus merepresentasi wacana picisan yang semakin mempermalukan diri mereka di mata publik. Mungkin ini yang dimaksud Razman, gerombolan KLB abal-abal banyak yang terpapar virus halusinasi. Tak bisa membedakan hayalannya dengan kenyataan,” jelas Kamhar dikutip dari Suara.com, Selasa 6 April 2021.

Selain itu, Kamhar meminta Rahmad untuk tak lagi ngomong atas nama Partai Demokrat. Dia sudah nggak punya hak mewakili atas nama Partai Demokrat.

Rahmad sama sekali tak punya hak berbicara atas nama atau membawa-bawa Partai Demokrat pasca pengurunduran dirinya dari keanggotaan Partai Demokrat sejak 2013 yang lalu. Apalagi pasca penolakan pengesahan hasil KLB abal-abal,” kata Kamhar.

Sebelumnya Rahmad menyarankan SBY membentuk partai baru, menjawab opsi dari politikus Partai Demokrat, Andi Malarrangeng agar kubu Moeldoko dan KLB Deli Serdang bentuk partai baru saja.

Alih-alih diam, malah kubu Moeldoko balik menyerang.

“Kami bersama tokoh-tokoh pendiri Partai Demokrat yang dulu mereka berdarah-darah mendirikan partai tahun 2001, mempersilahkan SBY untuk mendirikan partai baru. Jangan mengambil alih kepemilikan Partai Demokrat dari para pendiri dengan mengelabui para pengurus DPD dan DPC atas nama demokrasi. Terserah kepada SBY mau dikasih nama apa, ada yang mengusulkan diberi nama PKC (Partai Keluarga Cikeas),” ujar Rahmad.

Nasib Moeldoko

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Foto: Antaranews
Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko. Foto: Antaranews

Sekretaris Majelis Tinggi Partai Demokrat, Andi Mallarangeng beberapa hari lalu memprediksi kemungkinan nasib kubu Moeldoko setelah pemerintah tolak pengurus hasil KLB.

Andi menjelaskan, Kepala Staf Presiden (KSP) Moeldoko bisa jadi merasa ditipu lantaran beberapa waktu lalu sempat diberi harapan soal keberhasilan dan didukungnya dia jadi Ketua Umum Demokrat melalui jalur Kongres Luar Biasa (KLB).

Namun kenyataannya, kata Andi, sayang Moeldoko hanya sekadar diberikan ‘angin surga’ sebentar alias ditipu oleh pihak penyelenggara KLB.

“Bagi saya ada sejumlah opsi dari Pak Moeldoko, dia bisa merasa ditipu, dulu waktu mereka mendatangi Moeldoko disampaikan kalau dia maju, pasti bakal mendapat dukungan dari kader-kader Demokrat di seluruh Indonesia. Tapi itu kan ternyata tidak, cuma sekadar angin surga, tipu-tipu sajalah,” ujar Andi, dikutip Hops pada Jumat, 2 April 2021.

Andi menganggap dengan adanya KLB yang gagal total tersebut, bisa jadi titik balik untuk Moeldoko agar semakin fokus menjalankan amanah rakyat sebagai Kepala Staf Presiden di era kepemimpinan Joko Widodo.

“Ini kesempatan Moeldoko untuk keluar dari KLB abal-abal itu, lalu kemudian dia berhenti, fokus menjalankan tugas sebagai KSP,” katanya.

Kemudian ada kemungkinan selanjutnya, yakni Moeldoko bisa membuat sebuah partai baru.

Andi mengungkapkan, apabila rencana membuat partai baru tersebut benar-benar dilakukan oleh Moeldoko, maka tentu tidak akan menimbulkan konflik berkepanjangan seperti sekarang.

“Opsi selanjutnya, Moeldoko bikin partai baru. Kalau dia bikin partai baru, tidak bakal ada konflik. Masing-masing partai mengurus dirinya sendiri,” imbuhnya.

Topik

Apa Komentarmu ?

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button
Close